Sabtu, 23 Agustus 2014

Gemilangnya Gemintang #2

Di tengah begitu banyak perhatian yang diterima Gemilang, rasanya aku harus sangat bersyukur Gemilang masih menganggap aku kawannya.
Dia tetap menceritakan banyak hal padaku.
Hal-hal yang kadang orang lain tidak tahu dan tidak boleh tahu.

Tumbuh bersama Gemilang begitu ringan.
Rumah kami tidak berdekatan, tapi kami sering pulang bersama.
Gemilang sudah biasa pulang ke rumahku, mengerjakan PR, lalu makan siang bersama keluargaku.
Dia sudah dianggap anak sendiri oleh orangtuaku.
Maka aku pun sudah menganggapnya sebagai kakakku, meskipun usia kami hanya terpaut 2 bulan.

"Tuh kan, sepertinya kita memang ditakdirkan untuk bersaudara, Lang," ujarku suatu ketika. Gemilang hanya tertawa.
"Mungkin benar begitu. Gemintangnya Gemilang, Gemilangnya Gemintang," sahutnya.
"Tapi selain nama, sebenarnya kita nggak terlalu mirip," bisikku. "Kamu populer, aku nggak. Kamu pintar, aku biasa aja. Kamu cakep, aku kayak itik buruk rupa. Kamu idola, aku rakyat jelata," sambungku.
Gemilang kembali tertawa. "Makanya, jadilah anak pintar dan cantik," ujarnya. Aku memonyongkan bibir, semakin merasa minder dengannya. "Setidaknya untukku. Kamu nggak perlu kok jadi anak populer dan jadi idola semua orang. Nanti aku dicuekin kalau begitu," sambungnya sembari mencubit pipiku dengan gemas.
Aku tersenyum. Untuk kakakku yang satu ini, sebisa mungkin aku berusaha menjadi anak pintar dan tampil cantik. Begini-begini aku nggak mau juga mempermalukan kakakku sendiri.

Selayaknya hubungan pertemanan, aku dan Gemilang tak selamanya sepaham. Malah kami lebih sering bertengkar, adu mulut.
Gemilang bilang aku yang terlalu sensitif, hal kecil saja bisa membuatku mutung padanya.
Sebaliknya, menurutku Gemilang terlalu emosional, nggak sabaran.
Tapi toh tetap saja kami berdua akan baikan lagi tak lama kemudian.
Semarah-marahnya kami berdua nggak pernah sampai serius.
Kurasa karena kami saling membutuhkan.
Aku perlu Gemilang sebagai bahu, pelindung, nyaris segalanya. Gemilang membutuhkanku sebagai partner berbagi cerita.

Aku pernah bertanya padanya, di antara begitu banyak perempuan yang mengaguminya kenapa tak ia pilih satu untuk jadi kekasihnya.
"Hush, ngomong apa kamu ini. Nggak lah, nggak ada yang cocok," jawabnya.
"Kamu tahu cocok atau enggak dari mana Lang? Kamu saja tidak pernah menanggapi mereka," tukasku.
"Yah ngapain juga sih begitu ditanggapin? Aku nggak perlu punya pacar sekarang. Aku sudah punya sahabat, adik seperti kamu. Apa lagi yang aku perlukan selain kamu?"
Kurasa mukaku sudah semerah air sumba yang kami aduk-aduk dari tadi.
"Tetaplah jadi adik kesayanganku, apapun yang terjadi, oke?" imbuhnya. Aku mengangguk patuh.
Memangnya apa yang akan terjadi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar