Selasa, 26 Juni 2012

04.06.2012

Tuhan.

Saya rindu sekali dengan teman-teman saya
Rasanya saya ingin sekali kabur menyusul ke sana.
Nggak ikut lombanya nggak papa deh,
yang penting saya bisa bertemu mereka semua

Tuhan.

Kenapa Tuhan tidak ijinkan saya mengikuti lomba itu juga?
Tuhan kan bisa melihat saya sudah berusaha
Tuhan juga tahu kan bagaimana perasaan saya terhadap lomba itu

Tapi, saya nggak marah.
Apalagi benci.

Saya percaya aja sama Tuhan.
Segedhe apapun keinginan saya,
saya cuma makhluk.
Kalau Tuhan saya tidak mengijinkan,
saya bisa berbuat apa?

Tuhan.

Beri kelancaran buat semua teman-teman saya yang sedang berlomba di sana
Semoga mereka semua bisa mencapai hasil yang mereka inginkan.

Saya <3 Tuhan

(ditulis di kamar kos, dengan perasaan yang kacau balau)

Pasar Malam

Gempita Pasar Malam!

YEY!!!

Menyenangkan sekali kembali "terjun" ke dunia impian
PASAR MALAM :)

Kembali merasakan sensasi menjadi bocah ingusan
yang ternganga melihat beragam wahana permainan yang berjejer
menghasilkan bebunyian yang belum-belum sudah memacu adrenalin
Terkagum-kagum melihat gulungan permen kapas
yang tergantung, menggiurkan untuk disesapi rasa manisnya

Lihat! Lihat!
Semua orang berdandan untuk pergi ke pasar malam
Semua orang tersenyum sepanjang jalan ke pasar malam

Lihat! Lihat!
Puluhan orang berdesakan mengantre tiket wahana permainan
Puluhan lainnya antre memasuki area Pasar Malam

Ribut di mana-mana
Ironi Pasar Malam
Bisa tersenyum ketika yang lain kehabisan nafas mengantre tiket
Bisa tertawa dari atas komidi putar menyaksikan tabrakan maut antar kendaraan di bawahnya
Bisa tetap berbahagia sementara di luar area anak-anak kecil memungut sampah
para pengunjung Pasar Malam
dengan harapan uang yang terkumpul cukup banyak untuk masuk Pasar Malam esok hari
Bisa tetap mendendangkan lagu
sementara makian para pengendara yang terhalangi jalannya mengumandang
Bisa menghabiskan berpuluh-ribu rupiah
demi taruhan, lotere ataupun adu ketangkasan
sementara entah apa yang akan dimasak esok hari

Namun,
Bagaimanapun, Pasar Malam tetaplah menjadi primadona di Kota-ku
Hingar bingar yang tak tentu datang setiap tahun
Kemewahan hiburan anak pinggiran yang tak tentu dirasa setiap minggu

Aih,

Lihat! Lihat!

Kembang api meletup di langit sana!

Lihat! Lihat!

Tak apalah ribut sedikit,
Ricuh sedikit,
Berdesakan sedikit,
Bahkan sesak nafas sedikit.

Toh momen Pasar Malam ini tak datang dua kali
Toh hiburan murah meriah ini tak tahu kapan akan datang lagi

(23 Juni 2012, Stadion Utama Kendal)

Bulan Merah

Hampir genap 12 purnama aku mengenalmu.

Tapi jelas-jelas revolusinya tak berarti apapun.
Jelas-jelas rima detik waktu yang berlalu tak menjadi apapun.

Sepenggal bulan merah menggantung nun jauh di atap bumi

Ingatkah kamu kisah yang pernah aku kisahkan tentang bulan merah itu?

Ah,
pastilah kamu tidak akan ingat.

Jelas-jelas kamu menolak untuk meresapinya.
Hanya mendengar,
mencoba menghargai apa yang aku kisahkan

Sepenggal bulan merah menggantung di ujung langit

Berbeda tempatnya,
caraku, maupun caramu dalam memandangnya

Tapi intinya sama bukan?

Bulan merah itu tetaplah bulan merah yang sama
Setelah termakan revolusi selama 365 hari
Setelah beriring menciptakan malam panjang gerhana

Hampir 12 purnama lamanya aku mencoba menyelamimu

Berdiri di tempat berbeda aku mengenangmu
Meresapi pasang surut gelombangmu
Mencoba menangkap impuls transmisi-mu

Di tempat berbeda aku masih memandang bulan merahku

Merasuki celah duniamu yang dulu, dulu sekali pernah kauijinkan aku mengintipnya
Mengerti
barang hanya secuil tak berarti
Tetapi bagiku,
sudah lebih dari cukup itu menggetarkan karangku

Berapa putaran semesta yang sudah dilalui bulanku?
Sebelum akhirnya kita dipertemukan lagi dalam cekaman malam
menjelang genapku merinduimu

Akan ada berapa putaran detik, menit, hari,
minggu, bulan, tahun lagi yang harus kita lalui?
Sebelum akhirnya dihadapkan pada penalti di injury time terakhir
Sebelum akhirnya dihadapkan pada kepastian yang mungkin menyesakkan
Atau mungkin sebelum akhirnya kembali ke titik awal terbitnya bulan merah

*Didedikasikan untuk D, mengingat kembali perbincangan pertama ^^

Jumat, 22 Juni 2012

Rajutan Kenangan

Semarang-Kendal via Boja

Menyenangkan.
Disiram hangat matahari senja
Dibuai angin gunung yang lembut
Diiringi rinai hujan gerimis yang damai

Sekaligus mendebarkan.
Bukan hanya karena tikungan tajam yang terlewat
Jurang yang menganga di kanan kiri jalan
Atau kehadiran sosok-sosok yang tak kasat mata
dari dalam rimba

Tapi juga karena hadirnya lagi utas-utas memori
Mendesak keluar dari kotak Pandora-nya
Menghentak ingin melaju bersama deru angin
Menggedor ingin bergabung bersama aroma mawar hutan
yang menguar

Tiap jalan yang aku susuri
membawaku kembali pada ingatan berbulan,
bahkan bertahun yang lalu
Dan memang kenyataannya,
jalan yang aku susuri memang menjadi awalan,
perjalanan, bahkan akhir ceritaku bersama malaikatku

Semerbak aroma tanah yang lekas kering setelah terguyur hujan
Mengingatkan kembali rona hangat wajahnya
Senyum malaikatnya
Kerlingan matanya
Bahkan aku bisa kembali mencumbu aroma tubuhnya

Helaian daun yang gugur terbawa angin
Menyentakkanku pada kenangan akan sentuhan yang kembali teraba
Binar sendu mata indahnya
Kecupan-kecupan ringan yang pernah kami bagi

Sepanjang kelokan jalan yang aku susuri
Membuatku terngiang lagi tawanya
Celoteh riangnya
Kisah dongeng dan legenda yang dikisahkannya
Kidung kuno yang dinyanyikannya
Kritiknya
Pujiannya

Melihat deret pohon karet yang tertata rapi
Membuatku mengingat kembali janji yang pernah terucap saat melewatinya
Ada yang sudah terpenuhi
Ada pula yang masih menunggu untuk dipenuhi

Jalinan atap dedaunan yang menggantung di langit-langit hutan
Membubungkan beribu tanya mengenainya
Membubungkan dengung pusaran kenangan yang tak terhentikan
Marah
Sedih
Kecewa
Bahagia

Pohon-pohon yang tegak berdiri termakan usia
Setia menantikan momen apa yang akan terjadi di seputarnya
Tentang kami para manusia
Tentang kehidupan yang terbentang di sisi rimba
Tentang asa dan perjuangan rekan-rekannya mencari celah untuk bernafas

Matahari terbenam di ufuk barat bukit
Menyisakan tanya yang belum terjawab
Adakah momen penuh kenangan seperti dulu lagi?
Kapan?
Bagaimana?
Dengan siapa aku akan melewati momen itu lagi?
Dengan dia yang kembali?
Dengan penggantinya?
Dengan teman-temanku?
Atau hanya aku bersama kotak Pandora-ku?

Wallahu alam bissawab

(Boja, 22 Juni 2012)

Selasa, 19 Juni 2012

Ending Karierku dalam Lomba Tiga-Huruf

Mau cerita.
Walaupun nggak mood sih,
tapi mumpung ada koneksi juga.

Ini tentang Lomba Tiga-Huruf.
Udah lama banget sebenarnya,
cuma ya itu, belum sempet cerita gara-gara nggak ada koneksi.

Singkat aja ya?

Intinya, dari sekolah diutus 3 orang per mapel buat Lomba Tiga-Huruf ini
aku masuk dalam 3 orang yang beruntung.

Udah?
Terus lomba deh.
Rasanya sih aku bisa ngerjain, walaupun nggak sepenuhnya yakin.
Seenggaknya aku ngerjain tuntas.

Pengumuman.
Aku nggak lolos ke tahap selanjutnya.
Oh.
Oke.
Terus?
(intinya reaksiku biasa aja)

Temen-temenku pada nangis.
Aku nganga.
Apa-apaan nih?
Susah payah aku nggak nangis, kenapa mereka yang nangis?

Oke, gimanapun ada orang-orang yang perlu aku kabarin.

Ibuk-Bapak
"Ya nggak papa, namanya lomba ada kalah menangnya. gantian sama yang lain ya. kan kemarain kamu udah"
sip.
Aku amatsangat setuju.

Aku.
"D, maaf ya, janjimu harus ditunda. Aku nggak lolos"
D.
"Ha? yang bener dong. Kan km udah pernah Lomba Tiga-Huruf juga."
Aku.
"Iya, bener. Nggak papalah. Kamu lolos lho"
D.
"Yah, percuma lah. Nggak ada kamu. Nggak semangat"
Aku
"Apaan coba? Perlu aku ke sana terus support kamu gt?"
D.
diem
Aku
bahagia setengah mati. Berarti D maklum, dan D menganggap aku penting di lomba ini :-)

Kakak
"Ya udah dek, nggak papa. Nggak usah ditangisin"
Aku
"Hah? siapa juga yang nangisin? hidupku nggak berhenti di sini lah kak"
Kakak
"Haha, anak baik. Bersiaplah menyambut kehidupan penuh ujian di kelas 3"
Aku
"Plis -____-"

Udah.
Intinya sih aku seneng-seneng aja,
karena orang-orang yang jadi motivator terbesarku udah pada ikhlas.

Ya pernah lah suatu ketika aku misuh sama Tuhan.
Tapi aku nggak pernah lari dari Dia kok.
Makin percaya sama Tuhan malah.
Aku yakin Tuhan mendengar misuhku, kemudian terkekeh
tapi tetep menyimpan rahasia hidupku dari aku.

Over all, semuanya baik-baik aja.
Bapak-Ibuk masih sama bangganya kok sama aku.
Aku masih sayang D dan kakakku
Aku masih belajar buku pusaka itu
Aku masih menyimpan catatan penuh kenangan dan gairah itu
Bahkan aku masih senang sekali mendiskusikan hal-hal berbau itu dengan kakak dan D

Udah ya?
Ceritanya jadi nggak ada ruhnya gara-gara aku nggak mood cerita.
Mungkin besok-besok kalo aku inget gimana rasanya saat itu aku cerita lagi deh

Dia..dia..dia.. :)

Pernah galau?
Nggak?
Wah.. bohong banget!

Aku lagi naksir orang.
Frontal banget ya? Muahaha..
Tapi bikin galau dalam mengambil setiap tindakan.
Kam***t!!

Orangnya imut, ahahaha..
Aku suka liat fotonya dari samping
Aku suka liat dia ketawa
tapi jangan bayangin imut-imutnya personel boyband.
kategori imutku sangat berbeda, hehehehe

Dia sangat hati-hati.
Dia cerdik dalam urusan taktik dan strategi.
Tapiii, dia bukan pelatih ato pemain bola profesional lho!
Nggak tau ding kalau ternyata beneran, hehehe..

Dia juga amatsangatsuperduper sibuuuuuuuuk sekali
Seminggu sekali pergi
Lomba inilah, seminar itulah, forum apa lah

Hati-hati.
Yups. Itu sering bikin galau.
Terlalu hati-hati membuat kesan PHP bukan?
Ditambah lagi pribadi yang dibalik kehati-hatiannya amat friendly.
Nah..

Tapi, kehati-hatian dan caranya berstrategi itu yang membuat dia menjadi dia yang sekarang.
Ngerti maksudku?
Nggak?
Baiklah, itu hanya karena kamu belum lama kenal dia.

Awalnya aku juga nggak paham.
Sampai suatu hari aku mengadukan sesuatu ke dia.
Dia marah.
Padahal sebelumnya biasa aja, malah terkesan hangat.
Caranya marah itu yang berbeda sampai menimbulkan kesan.
Timing-nya, cerdas!
Ada intro dulu, baru kemudian masuk ke refrain, lalu ditutup dengan indah.
Keren bukan?

Sejak itu aku percaya.
Bangga malah.

Aku senang kami yang begini ini.
Mau ngomong aja susah.
Pake seremonial lalalala dulu.
Ketemu?
Beuuuuuuhh, apalagi yang satu itu.
Urusan jarak nggak usah ditanya jauhnya
Nunggu liburan panjang pun belum pasti kesampaian.
Sekalinya ngobrol yang dibahas berkutat di pelajaran, logika, cita-cita
kadang saling nitip salam.
Udah. Cuma itu. Dan cuma kayak gitu.

Kenapa aku naksir?
Mana ku tahu!

Yang jelas,
justru karena itu kesempatan ngomong sama dia sangat berharga
sms-ku atau pesanku dibales, rasanya kayak aku yang paling beruntung sedunia
ketemu apalagi.
justru karena itu kami mau berusaha
sampai tiap event yang menyertakan almamaternya aku kepo-in
sampai-sampai semuanya ujung-ujungnya cuma doa "semoga dia ada di sini juga"
kalo ternyata nggak kesampaian?
aku pribadi sih nggak nyesel, hehe, karena dia bisa ada di mana saja
justru karena jarak dan dimensi yang berbeda,
libur adalah sesuatu yang ditunggu
bukan, bukan untuk hal-hal unyu dan aneh-aneh,
cuma untuk say "hai" sebentar saja
justru karena semua itu aku berani menyusun masa depan yang porak poranda
justru karena itu aku kembali punya "dia bisa, kenapa aku nggak? kami harus seimbang"
justru karena cuma itu dan cuma kayak gitu bikin aku bersyukur
seenggaknya aku suatu ketika bisa jadi orang dekatnya
seenggaknya aku pernah merasakan diajak ngobrol sama dia
seenggaknya aku pernah merasakan dimarahin dia
seenggaknya aku pernah merasakan kangen dan dikangenin dia
seenggaknya aku pernah dapet kiriman salam dari dia
seenggaknya aku merasakan indahnya ambisi, misi, dan akhirnya penerimaan

Indah kan?

Di mana aku bisa bertentangan tanpa kondisi yang mencekam
tanpa ketakutan yang mencengkeram
tanpa paranoi yang menenggelamkan.

Begini aja terus.
Nggak usah jadi apa-apa
Nggak usah jadi siapa-siapa
Nggak usah ada tendensi apa-apa
Nggak usah ada embel-embel apa-apa

Tetep aja kayak gini
Tetep jauh
Tetep sulit terhubung
Tetep sulit ketemu
Tetep berjarak
Tetep apa adanya

Senin, 18 Juni 2012

my dream

my dream