Hampir genap 12 purnama aku mengenalmu.
Tapi jelas-jelas revolusinya tak berarti apapun.
Jelas-jelas rima detik waktu yang berlalu tak menjadi apapun.
Sepenggal bulan merah menggantung nun jauh di atap bumi
Ingatkah kamu kisah yang pernah aku kisahkan tentang bulan merah itu?
Ah,
pastilah kamu tidak akan ingat.
Jelas-jelas kamu menolak untuk meresapinya.
Hanya mendengar,
mencoba menghargai apa yang aku kisahkan
Sepenggal bulan merah menggantung di ujung langit
Berbeda tempatnya,
caraku, maupun caramu dalam memandangnya
Tapi intinya sama bukan?
Bulan merah itu tetaplah bulan merah yang sama
Setelah termakan revolusi selama 365 hari
Setelah beriring menciptakan malam panjang gerhana
Hampir 12 purnama lamanya aku mencoba menyelamimu
Berdiri di tempat berbeda aku mengenangmu
Meresapi pasang surut gelombangmu
Mencoba menangkap impuls transmisi-mu
Di tempat berbeda aku masih memandang bulan merahku
Merasuki celah duniamu yang dulu, dulu sekali pernah kauijinkan aku mengintipnya
Mengerti
barang hanya secuil tak berarti
Tetapi bagiku,
sudah lebih dari cukup itu menggetarkan karangku
Berapa putaran semesta yang sudah dilalui bulanku?
Sebelum akhirnya kita dipertemukan lagi dalam cekaman malam
menjelang genapku merinduimu
Akan ada berapa putaran detik, menit, hari,
minggu, bulan, tahun lagi yang harus kita lalui?
Sebelum akhirnya dihadapkan pada penalti di injury time terakhir
Sebelum akhirnya dihadapkan pada kepastian yang mungkin menyesakkan
Atau mungkin sebelum akhirnya kembali ke titik awal terbitnya bulan merah
*Didedikasikan untuk D, mengingat kembali perbincangan pertama ^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar