Senin, 20 Juli 2015

Belum Berjudul (Part 2.3)

Kendal, 19 Juli 2015

"Sumur air itu masih digunakan penduduk rupanya," gumamku. Mas Aji melirik ke kanan jalan sebentar untuk melihat kebenaran gumamanku.
"Memang dulu untuk apa?"
"Ya untuk mengambil air, Yah. Sangat sulit mendapatkan air di Kartika Jaya. Dulu, kami bocah-bocah bersepeda setiap sore untuk mengambil air di sana," jawabku tersenyum. Teringat suka duka aku dan kawan-kawan di desa ini.
"Naik sepeda? Sebegini jauh?" tanya Mas Aji masih terheran-heran.
Aku mengangguk dan tertawa. Abi dan Lola masih tertidur.
Dulu aku lebih beruntung, mengambil air dengan Papa naik motor, sementara teman-temanku menaiki sepeda dengan dua jerigen terikat di boncengan belakangnya. Sesekali aku ikut menemani Siti, membonceng di belakang, berlomba cepat dengan anak lainnya.

****
Kendal, 1979

Beberapa hari aku tinggal di sini aku sudah mendapatkan berbagai informasi.
Yang pertama, semua orangtua kami di sini adalah veteran, atau pensiunan tentara dari berbagai penjuru di Indonesi.
Yang kedua, sulit mendapat air bersih di sini.
Yang ketiga, setiap malam minggu diadakan pentas keroncong di Balai Desa. Pentas ini ramai sekali. Semua orang, orangtua dan anak-anak, berduyun-duyun pergi ke Balai Desa demi menikmati alunan keroncong yang dibawakan Karang Taruna desa.
Dan yang keempat, informasi yang baru aku tahu hari ini, hanya ada satu orang yang memiliki benda ajaib yang disebut televisi di seantero desa. Dia adalah Kepala Desa kami. Sepulang mengambil air di sumur desa, anak-anak akan berkumpul di rumah Pak Kades untuk menikmati "keajaiban" selama 30 menit.

Sore ini aku sudah berjanji pada Siti menemaninya mengambil air lalu menonton kartun di rumah Pak Kades. Ijin Papa dan Mama sudah aku kantongi. Pertama kalinya seumur hidupku aku akan pulang malam.

"Reni!" panggil Siti dari depan halaman rumah. Pukul tiga sore. Papa dan Mama mempersilakan Siti masuk.
Siti tidak sendirian, dia bersama seorang kakaknya, tetapi menaiki sepeda yang berbeda. Boncengan sepeda kakak Siti terikat dua jerigen air. Sementara itu boncengan sepeda Siti kosong, disediakan untukku. Sepeda itu adalah sepeda yang digunakan untuk sekolah Siti dan dua kakaknya.

Takut takut aku menaiki boncengan sepeda Siti. Alamak, tinggi sekali!
"Siti,"
"Iya Reni?"
"Kamu yakin kamu bisa membonceng aku dengan sepeda setinggi ini?" aku berbisik pada Siti. Kakaknya melirik kami yang begitu lama. Siti tertawa.
Kami pun melaju menyusuri jalan, mengikuti kakaknya dan kawan-kawan kami lainnya keluar desa.

****

Sumur pompa tempat kami mengambil air sudah sangat ramai. Perjalanan yang kami tempuh lebih jauh dari jarak rumahku ke sekolah. Kasihan Siti, aku harus belajar naik sepeda supaya besok lagi aku yang memboncengnya ke sini.

Siti membantu kakaknya memompa air ke jerigen. Sepertinya sangat berat. Kakaknya saja berkeringat begitu.
Dua jerigen sudah terisi penuh. Saatnya kami pulang dan bergegas ke rumah Pak Kades.

"Assalamualaikum!" teriak Siti begitu kami sampai di rumahnya.
Ibu Siti sedang menyapu di halaman. Kami bertiga segera turun dari sepeda dan mencium tangannya. Dari dalam rumah Mas Somat bergegas membantu Mas Subki menurunkan jerigen air dan membawanya masuk.

Tak lama, kami bertiga sudah siap. Mas Somat ikut bergabung, membonceng Mas Subki menuju ke rumah Pak Kades.

Kami tidak langsung ke sana, tetapi menghampiri satu per satu rumah teman-teman kami. Rombongan kami menjadi ramai sekali. Ada Ika, Lilis, Budi, Agung, dan teman-teman lain yang turut serta ke rumah Pak Kades.

Pukul 17.30 kami sampai di rumah Pak Kades.
Seperti sudah maklum, beliau segera membukakan pintu untuk kami semua dan menyalakan televisi 12 inch miliknya.
Rumah Pak Kades yang tadinya sepi sontak menjadi ramai dengan tawa kami menyaksikan tokoh kartun di TVRI berlarian ke sana kemari.
Beberapa menit setelah televisi dinyalakan, aku merasa ada yang aneh pada TV-nya. Atau mataku yang mulai sakit?

"Siti,"
"Ya?"
"Kenapa gambar kartunnya semakin lama semakin kecil?" tanyaku polos.
Mas Subki yang duduk di sebelah Siti tertawa. Aku semakin heran. Mas Somat mengingatkan Mas Subki untuk diam.
"Itu artinya setrum akinya mau habis," jawab Mas Somat.
"Aki itu apa?" tanyaku lagi.
"Aki itu tenaga untuk menyalakan TV-nya, Reni. Cara kerjanya seperti baterai. Kalau akinya habis, maka TV ini tidak dapat menyala lagi," terang Mas Subki. Aku manggut-manggut.

Desa kami memang belum ada listrik. Penerangan jalan mengandalkan lampu-lampu minyak yang dipasang warga di sepanjang pagar rumahnya. Aku pun belajar diterangi lampu petromaks. Di rumahku di Manado dulu juga belum ada listrik. Hanya sekolahku yang sudah memiliki lampu dan kipas angin.

Adzan maghrib berkumandang. Kartun sudah selesai. Acara nonton bareng pun bubar.
Aku senang. Seumur hidup baru kali ini aku menonton acara kartun di TV.
Anak-anak laki-laki bergegas memakai sarung dan menuju mushola. Anak-anak perempuan mengikuti di belakangnya.
Aku pun mengikuti Siti ke mushola. Duduk di teras mushola, menjaga sepeda sambil menunggu mereka semua sholat.

****

Belum Berjudul (Part 2.2)

Lonceng tanda istirahat berbunyi.
Teman sekelasku berhamburan keluar. Ke mana? Sekolah jelek ini punya kafetaria juga?

"Reni, kamu tidak ikut beli jajan?"
Anak perempuan kawan sebangkuku mencoba mengajakku keluar kelas. Aku menggeleng.
"Kamu tidak lapar Reni?"
Aku menggeleng lagi.
"Baiklah, kutinggal beli jajan dulu ya," ujarnya akhirnya.
Aku terpekur sendirian di dalam kelas.

Tidak ada kipas angin.
Bangkunya pun kotor oleh coretan anak-anak.
Teman sebangkuku namanya Siti. Ibu guru tadi namanya Bu Patmi. Nama yang lucu.
Baru dua orang itu yang kukenal hari ini.

Tak lama, Siti sudah kembali ke kelas.
"Ini buatmu," ujarnya, mengangsurkan makanan seperti permen berbentuk bunga kepadaku.
"Ini apa?"
"Ini namanya gulali. Rasanya manis, enak. Mas Somat kakakku membelikan ini untuk kita berdua,"
"Terima kasih," sahutku.
Ragu-ragu aku mencicipi gulali yang dibawakan Siti. Mmm, enak..
"Beli di mana?"
"Itu.." Siti menunjukkan abang penjual jajanan di lapangan sekolah yang kini dikerubuti anak-anak berseragam putih merah. Mama pasti akan marah-marah kalau tahu aku makan jajan sembarangan.

"Kakakmu sekolah di sini juga?" tanyaku pada Siti
"Iya. Aku, kakak nomer 4 dan nomer 5,"
"Hah? Memang kakakmu ada berapa?"
"Kakakku ada 5. Mbak Sulis nomer satu, Mbak Salmah nomer dua, Mas Sabar nomer tiga, Mas Somat nomer empat, dan Mas Subki nomer lima," ujar Siti bangga.
Aku terkejut bukan main. Siti punya lima kakak? Berarti orangtuanya punya enam anak? Bagaimana bisa? Mereka tinggal di sini semua? Dengan rumah sekecil rumah kami sekarang?
"Oh.." aku hanya menyimpan keterkejutanku dalam hati.

Lonceng tanda masuk berbunyi.
Teman-temanku yang lain berlarian berebut masuk kelas.
Uh, bau kelas sangat tidak enak, dipenuhi bau keringat teman-teman laki-laki yang tadi bermain bola. Baju mereka pun kotor tidak karuan.

Kata Siti tinggal satu pelajaran lagi lalu kami boleh pulang.

"Kamu pulang naik apa Reni?" tanya Siti begitu jam sekolah selesai.
"Dijemput Papa. Kamu bagaimana?"
"Naik sepeda dengan dua kakakku. Nah itu mereka datang. Aku pulang dulu ya!"
Aku melambaikan tangan.

Kuamati dua orang laki-laki berboncengan sepeda unta. Siti dinaikkan ke pundak kakaknya yang di depan. Sepeda itu pun bergerak perlahan.
Papa belum juga datang.
Teman-temanku yang lain tak jauh beda dengan Siti. Pulang naik sepeda atau jalan kaki. Dengan kakaknya atau teman sekelas.

Well, hari pertama sekolah berakhir dengan berbagai hal-hal yang mengejutkan.

Belum Berjudul (Part 2.1)

Kendal, 19 Juli 2015

"Mommy," si kecil Lola terbangun dari tidurnya. "Sudah sampai?" tanyanya.
"Belum sayang, sebentar lagi," sahutku.
Aku seumur Lola dulu ketika pertama kali menginjak tanah Jawa, di Kendal lebih tepatnya.
Anak kecil yang kebingungan mendapati kenyataan tak sesuai dengan fantasinya.
Renee kecil terlanjur percaya bahwa Jawa memiliki banyak gedung tinggi dan mobil. Memang semua itu kutemui di Jakarta. Tapi tidak demikian dengan Kendal, kota kecil yang akan kami tempati.
Saat itu aku nyaris tidak percaya kota ini masih bagian dari pulau Jawa.

****

Kendal, Juli 1979

"Renee, ayo bangun nak, saatnya sekolah," ujar Mama lembut sembari menggoyang-goyang badanku. Aku pura-pura masih tertidur.
"Renee!" kali ini suara Papa yang memanggil namaku.
Oo, kali ini aku harus membuka mata daripada menerima pukulan sapu kasur dari Papa.

"Bangun! Mandi segera, hari ini kau harus pergi sekolah," ujar Papa lagi.
"Renee tak mau sekolah!" teriakku.
"Jangan jadi anak nakal Renee!" suara Mama yang lembut berubah tajam.
"Tak ada teman Renee di sini! Rumah kita jelek, jalanannya becek, Renee tak mau di sini, Renee mau pulang ke Manado!" rengekku.
Papa segera mengambil sapu di dekatnya. "Jangan jadi anak manja kau Renee. Dalam hitungan ketiga kau tidak bangun ke kamar mandi, sapu ini mendarat di pantatmu!"
Aku masih kukuh memberontak.
"Satu!" suara bariton Papa menggema di kamarku.
"Dua!" jeri juga aku membayangkan pantatku lebam-lebam kena pukulan sapu. Bergegas aku berlari ke kamar mandi, melewati Papa yang kukuh berdiri dengan sapu di tangannya.

****

Sekolahku terletak di ujung desa. Jauuuuuuuh sekali dari rumahku. Tidak seperti sekolahku di Manado, sekolahku yang baru tidak menyediakan bus sekolah untuk mengantar jemput siswa. Sebagai gantinya Papa mengantarku dengan motor butut dari Koramil, memastikan aku masuk gerbang sekolah dan ikut berbaris dengan anak-anak lainnya.

Hari ini hari Senin.
Seragamku berubah menjadi putih merah, dasi laki-laki dan topi. Jelek.
Dulu seragamku putih dengan rok dan rompi biru serta dasi kupu-kupu untuk siswa perempuan. Kami pun tidak dijemur mengikuti upacara bendera seperti ini tetapi masuk ke aula dan menyanyikan lagu rohani setiap pagi.

Aku menempati kelas 3, seperti seharusnya di Manado sana.
"Selamat pagi anak-anak," seru seorang perempuan yang kuduga guru di depan kelas.
"Selamat pagi bu Guru!" seru teman-teman sekelasku, dengan 'u' yang sangat panjang di akhir kalimat.
"Hari ini kita kedatangan seorang teman baru. Ayo Renee, maju ke depan dan perkenalkan diri," ujar Bu Guru sambil menatapku dengan lembut.
Kuseret kakiku ke depan kelas dengan malas.
"Nama saya Renee. Saya dari Manado. Terima kasih," ujarku singkat.
"Nah, ayo anak-anak ucapkan selamat datang kepada Renee," perintah Bu Guru
"Selamat datang Reni!"seru teman-temanku.
"Nama saya Renee, bukan Reni!" seruku, merasa tersinggung mereka salah menyebutkan namaku. Kelas menjadi sunyi kembali. Bu Guru memintaku duduk di bangkuku lagi, kuturuti ia dengan bibir monyong menahan kesal.

Resmi sudah aku menyandang status sebagai siswa SD Kartika Jaya.

****

Minggu, 19 Juli 2015

Belum Berjudul (Part 1.2)

Sebulan yang kukira singkat ternyata lama juga.
Setiap hari selepas bangun tidur kuberi tanda silang tanggal hari ini.
Mama dan Papa seolah tidak peduli soal pergi ke Jawa ini.

"Kau akan pergi ke Jawa Renee? Sungguh kah?!" teriak Kristin bersemangat begitu kuceritakan rencana kami sekeluarga pergi ke Jawa. Aku mengangguk tak kalah semangatnya. "Wow, aku ingin ikut serta denganmu boleh Renee?" tanyanya lagi.
"Mmm.. mungkin boleh.. kan selama ini tidak masalah kau ikut denganku pergi ke pantai juga toh? Nanti kutanyakan pada Mamaku," jawabku yakin.
Mama pasti akan mengijinkan. Selama ini toh Kristin sering ikut bila keluarga kami berpergian ke pantai. Ikut ke Jawa apa bedanya?

****

"Mama!" seruku gusar. Ini sudah tiga hari menjelang sebulan kalenderku kucoret-coret, dan Mama ataupun Papa masih saja bungkam soal pergi ke Jawa ini. Padahal Kristin terus saja menagih ijin ikut denganku ke Jawa.
"Ada apa Renee?"
Kupandangi Mamaku yang ayu. Kulitnya putih, hidungnya mancung. Kata Mama, kakek adalah orang Belanda, makanya raut muka Mama mirip dengan orang Eropa, berbeda dengan Mama teman-temanku.
"Kudengar kita akan ke Jawa. Benarkah itu Mama?" tanyaku pelan. Bagaimana pun aku takut dianggap kurang ajar karena menguping pembicaraan Mama dan Papa.
"Benar sayang," jawab Mama lembut.
"Kapan Ma?"
"Sebentar lagi Renee,"
"Kristin boleh ikut?"
Kali ini Mama tidak langsung menjawab, malah menatapku terheran-heran.
"Kali ini Kristin tidak ikut sayang,"
"Kenapa Ma? Kan Kristin tidak pernah nakal kalau kita ajak pergi berwisata,"
"Mm, karena kita ke Jawa bukan berwisata sayang,"
Kali ini aku yang kebingungan.
"Lalu untuk apa kita ke Jawa Ma?"
"Kita akan pindah ke Jawa sayang, tinggal di sana, bersekolah di sana,"
"Bersekolah di sana? Lalu sekolahku di sini bagaimana? Berapa lama kita di Jawa Ma? Besok kubuat ijin kepada Bapa Guru,"
Mama tersenyum. "Pindah itu artinya menetap di sana. Kita tidak akan ke Manado lagi,"
Aku terkejut. Tidak pernah terlintas di pikiranku kalau aku tidak akan kembali ke Manado.
"Jadi aku tidak akan bertemu Kristin lagi? Bapa Guru? Teman-temanku?" rengekku.
Mama mengusap kepalaku. "Kalian tetap bisa berkirim kabar lewat surat,"

Aku melangkah lunglai ke kamarku.
Pergi ke Jawa tidak lagi terdengar menyenangkan.

****

Belum Berjudul (Part 1.1)

Manado, 1979

"Renee, sudah bisa kau jawab pertanyaan di papan tulis itu?"
Pertanyaan mudah. Soal penjumlahan tiga susun. Kulihat teman-temanku masih sibuk mencorat coret buku tulis mereka. Aku sudah menemukan jawabannya sejak sepuluh menit yang lalu.
"Bisa, Bapa Guru," jawabku yakin. Bapa Guru pun mempersilakan aku maju ke depan. Dalam sekejap kelas menjadi lengang, tidak ada lagi teman-temanku yang mencoret-coret buku atau berkasak kusuk bertanya pada teman sebangku.
Dengan tenang aku mengerjakan soal hitungan di papan tulis.
Yep, kupandangi jawabanku untuk memastikan kembali apakah ada yang kurang tepat. Setelah yakin dengan jawabanku, kukembalikan kapur pada Bapa Guru dan kembali ke tempat duduk.
Bapa Guru meneliti jawabanku dengan seksama.
"Jawaban Renee benar anak-anak! Beri tepuk tangan!" seru beliau.
Kelas yang tadinya lengang mendadak kembali riuh dengan tepuk tangan teman-temanku. Aku merasa puas. Hari ini sangat menyenangkan.

****

"Ma, Renee di mana?" sayup-sayup kudengar suara bariton Papa di ruang tengah.
"Sedang mengerjakan PR di kamarnya," sahut Mama.
"Baiklah. Ma, ada hal penting yang harus Papa bicarakan,"
Hal penting? Kuletakkan pensil kayuku. Pembicaraan ini mungkin lebih menarik dibandingkan PR Matematika dari Bapa Guru.

"Bulan depan kan Papa pensiun, Ma,..."
Kelanjutan percakapan Papa dan Mama seperti menghilang ditelan pikiranku sendiri. Papa pensiun? Bulan depan Papa tidak lagi menjadi tentara dengan seragam lorengnya yang gagah? Kupasang telinga lebar-lebar untuk mengetahui kelanjutan ceritanya.
"Bagaimana menurutmu Ma, apakah kita terima saja tawaran ke Jawa ini?" suara berat Papa kembali terdengar.
"Terserah padamu saja bagaimana baiknya," kali ini terdengar suara halus Mama.
"Aku rasa ada baiknya kita terima tawaran itu. Di Jawa sudah disediakan rumah dan sawah untuk kita dengan cuma-cuma, kita bisa hidup bertani untuk menambah penghasilan pensiun Papa. Renee masih perlu sekolah hingga sarjana. Di sini kita hanya bergantung pada uang pensiun saja," terang Papa.

Wow, kami akan ke Jawa! Bapa Guru pernah bercerita tentang Jawa. Tanahnya subur, banyak hewan dan tanaman indah di sana. Jalanannya pun mulus, banyak dilalui mobil. Astaga mobil! Belum lagi gambar gedung-gedung tinggi yang Bapa Guru bawakan dari rekanannya di Jakarta. Sepertinya Jawa sangat menyenangkan!

"Bagaimana dengan sekolah Renee di sini?" ujar Mama lagi.
"Satu bulan cukup untuk mengurus kepindahan bukan?" sahut Papa.
"Tapi apakah ada sekolah Kristen juga di sana?" kudengar sedikit rasa cemas pada suara Mama.
"Sekolah Dasar Negeri tidak terlalu menjadi masalah kan?" sahut Papa lagi.
Kurasa Mama sudah sepakat dengan Papa karena tidak ada lagi suara-suara mereka yang kudengar. Aku kembali menekuri buku Matematikaku. Ah tidak sabar rasanya kuceritakan kabar ini pada teman-temanku. Aku akan ke Jawa!

****

Belum Berjudul (Prolog)

19 Juli 2015

"Mommy, where we will go?" sungut Lola, putri kecilku, masih malas bangkit dari tempat tidurnya.
"Kita akan pergi ke tempat masa kecil Mommy,"
"Rumah Nenek? Kan kemarin kita sudah ke sana, Mommy," sahut Lola
"Bukan. Suatu tempat yang belum pernah kamu kunjungi, tapi Mommy yakin kamu akan senang berpetualang di sana,"
"Berpetualang?"
"Yup. Siap berpetualang, Lola?" ujarku tersenyum. Bungsuku memang sangat suka petualangan. Aku yakin dengan sedikit pancingan sebentar lagi dia akan segera melesat ke kamar mandi.
"Aye Captain!" serunya bersemangat.
Benar saja, dengan bersemangat Lola berlari menuju kamar mandi.

"Mana Abi, Yah?" ujarku sembari mengecup lembut puncak kepala suamiku. Ia menutup korannya dan menoleh. "Sedang mandi, Bunda," sahutnya sambil tersenyum. "Baiklah, akan kusiapkan bekal untuk mereka," ujarku, beranjak ke dapur.

****

"Mommy, apakah aku perlu membawa teropong pengintai?" seru Lola dari kamarnya.
"Tidak perlu sayang, bawa barangmu secukupnya saja!"
"Pelampung, Mommy?" serunya lagi.
"Tidak perlu, Lola. Kalau kamu tidak bergegas turun dan sarapan, kamu bisa ketinggalan petualangan!" ancamku,
"Okay Mommy, 5 minutes!" teriaknya. Aku geleng-geleng. Kulihat Abi dan ayahnya sudah duduk manis di meja makan. Abi, si sulung, tidak se-rewel Lola dalam berkemas.
"Hai guys, kita tunggu Lola ya sebelum sarapan," sapaku pada mereka.
"Hai Mommy. Mmm.. nasi gorengnya terlihat lezat," goda Abi. Aku dan ayahnya terkekeh. Lima menit kemudian Lola sudah siap di meja makan dengan kostum favoritnya : celana jeans belel, kemeja, lengkap dengan topi koboinya.
"Kamu kira kita akan pergi ke mana Lola?" seru Abi setelah puas tertawa melihat barang bawaan adiknya.
"Mommy bilang kita akan berpetualang, jadi kubawa semua peralatan petualanganku," sungut Lola membela diri. Abi tertawa lagi.
"Sudah, ayo cepat dihabiskan sarapannya. Semakin lama kalian makan, semakin banyak yang akan kalian lewatkan," sahutku. Abi dan Lola kembali tekun mengaduk-aduk sarapan mereka.

****

Mobil sewaan kami bergoyang-goyang seperti menyeimbangkan diri dengan kondisi jalan yang bergelombang. Di bangku belakang Abi dan Lola duduk terkantuk-kantuk. Penerbangan singkat Jakarta-Semarang di pagi hari dan perjalanan darat ini cukup membuat mereka lelah.

"Sudah berapa belas tahun ya Bunda kita tidak ke sini," ujar Mas Aji. Aku tersenyum. Mengenangkan jaman-jaman saat kami berpacaran dulu.
"Kendal tidak banyak berubah ya Yah," sahutku.
"Benar. Masih sama saja, sejak kita belum menikah sampai beranak dua,". Aku tertawa. Deretan kebun tebu di tepian tanggul Sungai Bodri membuat siang menjadi lebih sejuk. Di malam hari pastilah tidak ada orang yang berani melewati jalan ini karena tidak ada penerangan yang memadai sampai saat ini. Kebun tebu pun tampak mengancam.

Hari ini kupenuhi undangan reuni dari teman-teman lamaku di Facebook. Setelah menikah dan mengikuti Mas Aji menetap di Sydney, praktis aku tidak lagi berkontak dengan teman-temanku di Indonesia. Baru setahun belakangan ini aku bersua kembali dengan teman-temanku melalui Facebook. Dari sinilah kemudian kami menggagas reuni kecil-kecilan di kampung masa kecil kami, bertepatan dengan momen Idul Fitri.
Aku terkekeh sendiri. Ingatanku melayang ke puluhan tahun yang lalu.