Lonceng tanda istirahat berbunyi.
Teman sekelasku berhamburan keluar. Ke mana? Sekolah jelek ini punya kafetaria juga?
"Reni, kamu tidak ikut beli jajan?"
Anak perempuan kawan sebangkuku mencoba mengajakku keluar kelas. Aku menggeleng.
"Kamu tidak lapar Reni?"
Aku menggeleng lagi.
"Baiklah, kutinggal beli jajan dulu ya," ujarnya akhirnya.
Aku terpekur sendirian di dalam kelas.
Tidak ada kipas angin.
Bangkunya pun kotor oleh coretan anak-anak.
Teman sebangkuku namanya Siti. Ibu guru tadi namanya Bu Patmi. Nama yang lucu.
Baru dua orang itu yang kukenal hari ini.
Tak lama, Siti sudah kembali ke kelas.
"Ini buatmu," ujarnya, mengangsurkan makanan seperti permen berbentuk bunga kepadaku.
"Ini apa?"
"Ini namanya gulali. Rasanya manis, enak. Mas Somat kakakku membelikan ini untuk kita berdua,"
"Terima kasih," sahutku.
Ragu-ragu aku mencicipi gulali yang dibawakan Siti. Mmm, enak..
"Beli di mana?"
"Itu.." Siti menunjukkan abang penjual jajanan di lapangan sekolah yang kini dikerubuti anak-anak berseragam putih merah. Mama pasti akan marah-marah kalau tahu aku makan jajan sembarangan.
"Kakakmu sekolah di sini juga?" tanyaku pada Siti
"Iya. Aku, kakak nomer 4 dan nomer 5,"
"Hah? Memang kakakmu ada berapa?"
"Kakakku ada 5. Mbak Sulis nomer satu, Mbak Salmah nomer dua, Mas Sabar nomer tiga, Mas Somat nomer empat, dan Mas Subki nomer lima," ujar Siti bangga.
Aku terkejut bukan main. Siti punya lima kakak? Berarti orangtuanya punya enam anak? Bagaimana bisa? Mereka tinggal di sini semua? Dengan rumah sekecil rumah kami sekarang?
"Oh.." aku hanya menyimpan keterkejutanku dalam hati.
Lonceng tanda masuk berbunyi.
Teman-temanku yang lain berlarian berebut masuk kelas.
Uh, bau kelas sangat tidak enak, dipenuhi bau keringat teman-teman laki-laki yang tadi bermain bola. Baju mereka pun kotor tidak karuan.
Kata Siti tinggal satu pelajaran lagi lalu kami boleh pulang.
"Kamu pulang naik apa Reni?" tanya Siti begitu jam sekolah selesai.
"Dijemput Papa. Kamu bagaimana?"
"Naik sepeda dengan dua kakakku. Nah itu mereka datang. Aku pulang dulu ya!"
Aku melambaikan tangan.
Kuamati dua orang laki-laki berboncengan sepeda unta. Siti dinaikkan ke pundak kakaknya yang di depan. Sepeda itu pun bergerak perlahan.
Papa belum juga datang.
Teman-temanku yang lain tak jauh beda dengan Siti. Pulang naik sepeda atau jalan kaki. Dengan kakaknya atau teman sekelas.
Well, hari pertama sekolah berakhir dengan berbagai hal-hal yang mengejutkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar