"Sumur air itu masih digunakan penduduk rupanya," gumamku. Mas Aji melirik ke kanan jalan sebentar untuk melihat kebenaran gumamanku.
"Memang dulu untuk apa?"
"Ya untuk mengambil air, Yah. Sangat sulit mendapatkan air di Kartika Jaya. Dulu, kami bocah-bocah bersepeda setiap sore untuk mengambil air di sana," jawabku tersenyum. Teringat suka duka aku dan kawan-kawan di desa ini.
"Naik sepeda? Sebegini jauh?" tanya Mas Aji masih terheran-heran.
Aku mengangguk dan tertawa. Abi dan Lola masih tertidur.
Dulu aku lebih beruntung, mengambil air dengan Papa naik motor, sementara teman-temanku menaiki sepeda dengan dua jerigen terikat di boncengan belakangnya. Sesekali aku ikut menemani Siti, membonceng di belakang, berlomba cepat dengan anak lainnya.
****
Kendal, 1979Beberapa hari aku tinggal di sini aku sudah mendapatkan berbagai informasi.
Yang pertama, semua orangtua kami di sini adalah veteran, atau pensiunan tentara dari berbagai penjuru di Indonesi.
Yang kedua, sulit mendapat air bersih di sini.
Yang ketiga, setiap malam minggu diadakan pentas keroncong di Balai Desa. Pentas ini ramai sekali. Semua orang, orangtua dan anak-anak, berduyun-duyun pergi ke Balai Desa demi menikmati alunan keroncong yang dibawakan Karang Taruna desa.
Dan yang keempat, informasi yang baru aku tahu hari ini, hanya ada satu orang yang memiliki benda ajaib yang disebut televisi di seantero desa. Dia adalah Kepala Desa kami. Sepulang mengambil air di sumur desa, anak-anak akan berkumpul di rumah Pak Kades untuk menikmati "keajaiban" selama 30 menit.
Sore ini aku sudah berjanji pada Siti menemaninya mengambil air lalu menonton kartun di rumah Pak Kades. Ijin Papa dan Mama sudah aku kantongi. Pertama kalinya seumur hidupku aku akan pulang malam.
"Reni!" panggil Siti dari depan halaman rumah. Pukul tiga sore. Papa dan Mama mempersilakan Siti masuk.
Siti tidak sendirian, dia bersama seorang kakaknya, tetapi menaiki sepeda yang berbeda. Boncengan sepeda kakak Siti terikat dua jerigen air. Sementara itu boncengan sepeda Siti kosong, disediakan untukku. Sepeda itu adalah sepeda yang digunakan untuk sekolah Siti dan dua kakaknya.
Takut takut aku menaiki boncengan sepeda Siti. Alamak, tinggi sekali!
"Siti,"
"Iya Reni?"
"Kamu yakin kamu bisa membonceng aku dengan sepeda setinggi ini?" aku berbisik pada Siti. Kakaknya melirik kami yang begitu lama. Siti tertawa.
Kami pun melaju menyusuri jalan, mengikuti kakaknya dan kawan-kawan kami lainnya keluar desa.
****
Sumur pompa tempat kami mengambil air sudah sangat ramai. Perjalanan yang kami tempuh lebih jauh dari jarak rumahku ke sekolah. Kasihan Siti, aku harus belajar naik sepeda supaya besok lagi aku yang memboncengnya ke sini.
Siti membantu kakaknya memompa air ke jerigen. Sepertinya sangat berat. Kakaknya saja berkeringat begitu.
Dua jerigen sudah terisi penuh. Saatnya kami pulang dan bergegas ke rumah Pak Kades.
"Assalamualaikum!" teriak Siti begitu kami sampai di rumahnya.
Ibu Siti sedang menyapu di halaman. Kami bertiga segera turun dari sepeda dan mencium tangannya. Dari dalam rumah Mas Somat bergegas membantu Mas Subki menurunkan jerigen air dan membawanya masuk.
Tak lama, kami bertiga sudah siap. Mas Somat ikut bergabung, membonceng Mas Subki menuju ke rumah Pak Kades.
Kami tidak langsung ke sana, tetapi menghampiri satu per satu rumah teman-teman kami. Rombongan kami menjadi ramai sekali. Ada Ika, Lilis, Budi, Agung, dan teman-teman lain yang turut serta ke rumah Pak Kades.
Pukul 17.30 kami sampai di rumah Pak Kades.
Seperti sudah maklum, beliau segera membukakan pintu untuk kami semua dan menyalakan televisi 12 inch miliknya.
Rumah Pak Kades yang tadinya sepi sontak menjadi ramai dengan tawa kami menyaksikan tokoh kartun di TVRI berlarian ke sana kemari.
Beberapa menit setelah televisi dinyalakan, aku merasa ada yang aneh pada TV-nya. Atau mataku yang mulai sakit?
"Siti,"
"Ya?"
"Kenapa gambar kartunnya semakin lama semakin kecil?" tanyaku polos.
Mas Subki yang duduk di sebelah Siti tertawa. Aku semakin heran. Mas Somat mengingatkan Mas Subki untuk diam.
"Itu artinya setrum akinya mau habis," jawab Mas Somat.
"Aki itu apa?" tanyaku lagi.
"Aki itu tenaga untuk menyalakan TV-nya, Reni. Cara kerjanya seperti baterai. Kalau akinya habis, maka TV ini tidak dapat menyala lagi," terang Mas Subki. Aku manggut-manggut.
Desa kami memang belum ada listrik. Penerangan jalan mengandalkan lampu-lampu minyak yang dipasang warga di sepanjang pagar rumahnya. Aku pun belajar diterangi lampu petromaks. Di rumahku di Manado dulu juga belum ada listrik. Hanya sekolahku yang sudah memiliki lampu dan kipas angin.
Adzan maghrib berkumandang. Kartun sudah selesai. Acara nonton bareng pun bubar.
Aku senang. Seumur hidup baru kali ini aku menonton acara kartun di TV.
Anak-anak laki-laki bergegas memakai sarung dan menuju mushola. Anak-anak perempuan mengikuti di belakangnya.
Aku pun mengikuti Siti ke mushola. Duduk di teras mushola, menjaga sepeda sambil menunggu mereka semua sholat.
****

Tidak ada komentar:
Posting Komentar