Minggu, 19 Juli 2015

Belum Berjudul (Part 1.2)

Sebulan yang kukira singkat ternyata lama juga.
Setiap hari selepas bangun tidur kuberi tanda silang tanggal hari ini.
Mama dan Papa seolah tidak peduli soal pergi ke Jawa ini.

"Kau akan pergi ke Jawa Renee? Sungguh kah?!" teriak Kristin bersemangat begitu kuceritakan rencana kami sekeluarga pergi ke Jawa. Aku mengangguk tak kalah semangatnya. "Wow, aku ingin ikut serta denganmu boleh Renee?" tanyanya lagi.
"Mmm.. mungkin boleh.. kan selama ini tidak masalah kau ikut denganku pergi ke pantai juga toh? Nanti kutanyakan pada Mamaku," jawabku yakin.
Mama pasti akan mengijinkan. Selama ini toh Kristin sering ikut bila keluarga kami berpergian ke pantai. Ikut ke Jawa apa bedanya?

****

"Mama!" seruku gusar. Ini sudah tiga hari menjelang sebulan kalenderku kucoret-coret, dan Mama ataupun Papa masih saja bungkam soal pergi ke Jawa ini. Padahal Kristin terus saja menagih ijin ikut denganku ke Jawa.
"Ada apa Renee?"
Kupandangi Mamaku yang ayu. Kulitnya putih, hidungnya mancung. Kata Mama, kakek adalah orang Belanda, makanya raut muka Mama mirip dengan orang Eropa, berbeda dengan Mama teman-temanku.
"Kudengar kita akan ke Jawa. Benarkah itu Mama?" tanyaku pelan. Bagaimana pun aku takut dianggap kurang ajar karena menguping pembicaraan Mama dan Papa.
"Benar sayang," jawab Mama lembut.
"Kapan Ma?"
"Sebentar lagi Renee,"
"Kristin boleh ikut?"
Kali ini Mama tidak langsung menjawab, malah menatapku terheran-heran.
"Kali ini Kristin tidak ikut sayang,"
"Kenapa Ma? Kan Kristin tidak pernah nakal kalau kita ajak pergi berwisata,"
"Mm, karena kita ke Jawa bukan berwisata sayang,"
Kali ini aku yang kebingungan.
"Lalu untuk apa kita ke Jawa Ma?"
"Kita akan pindah ke Jawa sayang, tinggal di sana, bersekolah di sana,"
"Bersekolah di sana? Lalu sekolahku di sini bagaimana? Berapa lama kita di Jawa Ma? Besok kubuat ijin kepada Bapa Guru,"
Mama tersenyum. "Pindah itu artinya menetap di sana. Kita tidak akan ke Manado lagi,"
Aku terkejut. Tidak pernah terlintas di pikiranku kalau aku tidak akan kembali ke Manado.
"Jadi aku tidak akan bertemu Kristin lagi? Bapa Guru? Teman-temanku?" rengekku.
Mama mengusap kepalaku. "Kalian tetap bisa berkirim kabar lewat surat,"

Aku melangkah lunglai ke kamarku.
Pergi ke Jawa tidak lagi terdengar menyenangkan.

****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar