"Mommy, where we will go?" sungut Lola, putri kecilku, masih malas bangkit dari tempat tidurnya.
"Kita akan pergi ke tempat masa kecil Mommy,"
"Rumah Nenek? Kan kemarin kita sudah ke sana, Mommy," sahut Lola
"Bukan. Suatu tempat yang belum pernah kamu kunjungi, tapi Mommy yakin kamu akan senang berpetualang di sana,"
"Berpetualang?"
"Yup. Siap berpetualang, Lola?" ujarku tersenyum. Bungsuku memang sangat suka petualangan. Aku yakin dengan sedikit pancingan sebentar lagi dia akan segera melesat ke kamar mandi.
"Aye Captain!" serunya bersemangat.
Benar saja, dengan bersemangat Lola berlari menuju kamar mandi.
"Mana Abi, Yah?" ujarku sembari mengecup lembut puncak kepala suamiku. Ia menutup korannya dan menoleh. "Sedang mandi, Bunda," sahutnya sambil tersenyum. "Baiklah, akan kusiapkan bekal untuk mereka," ujarku, beranjak ke dapur.
****
"Mommy, apakah aku perlu membawa teropong pengintai?" seru Lola dari kamarnya.
"Tidak perlu sayang, bawa barangmu secukupnya saja!"
"Pelampung, Mommy?" serunya lagi.
"Tidak perlu, Lola. Kalau kamu tidak bergegas turun dan sarapan, kamu bisa ketinggalan petualangan!" ancamku,
"Okay Mommy, 5 minutes!" teriaknya. Aku geleng-geleng. Kulihat Abi dan ayahnya sudah duduk manis di meja makan. Abi, si sulung, tidak se-rewel Lola dalam berkemas.
"Hai guys, kita tunggu Lola ya sebelum sarapan," sapaku pada mereka.
"Hai Mommy. Mmm.. nasi gorengnya terlihat lezat," goda Abi. Aku dan ayahnya terkekeh. Lima menit kemudian Lola sudah siap di meja makan dengan kostum favoritnya : celana jeans belel, kemeja, lengkap dengan topi koboinya.
"Kamu kira kita akan pergi ke mana Lola?" seru Abi setelah puas tertawa melihat barang bawaan adiknya.
"Mommy bilang kita akan berpetualang, jadi kubawa semua peralatan petualanganku," sungut Lola membela diri. Abi tertawa lagi.
"Sudah, ayo cepat dihabiskan sarapannya. Semakin lama kalian makan, semakin banyak yang akan kalian lewatkan," sahutku. Abi dan Lola kembali tekun mengaduk-aduk sarapan mereka.
****
Mobil sewaan kami bergoyang-goyang seperti menyeimbangkan diri dengan kondisi jalan yang bergelombang. Di bangku belakang Abi dan Lola duduk terkantuk-kantuk. Penerbangan singkat Jakarta-Semarang di pagi hari dan perjalanan darat ini cukup membuat mereka lelah.
"Sudah berapa belas tahun ya Bunda kita tidak ke sini," ujar Mas Aji. Aku tersenyum. Mengenangkan jaman-jaman saat kami berpacaran dulu.
"Kendal tidak banyak berubah ya Yah," sahutku.
"Benar. Masih sama saja, sejak kita belum menikah sampai beranak dua,". Aku tertawa. Deretan kebun tebu di tepian tanggul Sungai Bodri membuat siang menjadi lebih sejuk. Di malam hari pastilah tidak ada orang yang berani melewati jalan ini karena tidak ada penerangan yang memadai sampai saat ini. Kebun tebu pun tampak mengancam.
Hari ini kupenuhi undangan reuni dari teman-teman lamaku di Facebook. Setelah menikah dan mengikuti Mas Aji menetap di Sydney, praktis aku tidak lagi berkontak dengan teman-temanku di Indonesia. Baru setahun belakangan ini aku bersua kembali dengan teman-temanku melalui Facebook. Dari sinilah kemudian kami menggagas reuni kecil-kecilan di kampung masa kecil kami, bertepatan dengan momen Idul Fitri.
Aku terkekeh sendiri. Ingatanku melayang ke puluhan tahun yang lalu.
"Tidak perlu, Lola. Kalau kamu tidak bergegas turun dan sarapan, kamu bisa ketinggalan petualangan!" ancamku,
"Okay Mommy, 5 minutes!" teriaknya. Aku geleng-geleng. Kulihat Abi dan ayahnya sudah duduk manis di meja makan. Abi, si sulung, tidak se-rewel Lola dalam berkemas.
"Hai guys, kita tunggu Lola ya sebelum sarapan," sapaku pada mereka.
"Hai Mommy. Mmm.. nasi gorengnya terlihat lezat," goda Abi. Aku dan ayahnya terkekeh. Lima menit kemudian Lola sudah siap di meja makan dengan kostum favoritnya : celana jeans belel, kemeja, lengkap dengan topi koboinya.
"Kamu kira kita akan pergi ke mana Lola?" seru Abi setelah puas tertawa melihat barang bawaan adiknya.
"Mommy bilang kita akan berpetualang, jadi kubawa semua peralatan petualanganku," sungut Lola membela diri. Abi tertawa lagi.
"Sudah, ayo cepat dihabiskan sarapannya. Semakin lama kalian makan, semakin banyak yang akan kalian lewatkan," sahutku. Abi dan Lola kembali tekun mengaduk-aduk sarapan mereka.
****
Mobil sewaan kami bergoyang-goyang seperti menyeimbangkan diri dengan kondisi jalan yang bergelombang. Di bangku belakang Abi dan Lola duduk terkantuk-kantuk. Penerbangan singkat Jakarta-Semarang di pagi hari dan perjalanan darat ini cukup membuat mereka lelah.
"Sudah berapa belas tahun ya Bunda kita tidak ke sini," ujar Mas Aji. Aku tersenyum. Mengenangkan jaman-jaman saat kami berpacaran dulu.
"Kendal tidak banyak berubah ya Yah," sahutku.
"Benar. Masih sama saja, sejak kita belum menikah sampai beranak dua,". Aku tertawa. Deretan kebun tebu di tepian tanggul Sungai Bodri membuat siang menjadi lebih sejuk. Di malam hari pastilah tidak ada orang yang berani melewati jalan ini karena tidak ada penerangan yang memadai sampai saat ini. Kebun tebu pun tampak mengancam.
Hari ini kupenuhi undangan reuni dari teman-teman lamaku di Facebook. Setelah menikah dan mengikuti Mas Aji menetap di Sydney, praktis aku tidak lagi berkontak dengan teman-temanku di Indonesia. Baru setahun belakangan ini aku bersua kembali dengan teman-temanku melalui Facebook. Dari sinilah kemudian kami menggagas reuni kecil-kecilan di kampung masa kecil kami, bertepatan dengan momen Idul Fitri.
Aku terkekeh sendiri. Ingatanku melayang ke puluhan tahun yang lalu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar