"Mommy," si kecil Lola terbangun dari tidurnya. "Sudah sampai?" tanyanya.
"Belum sayang, sebentar lagi," sahutku.
Aku seumur Lola dulu ketika pertama kali menginjak tanah Jawa, di Kendal lebih tepatnya.
Anak kecil yang kebingungan mendapati kenyataan tak sesuai dengan fantasinya.
Renee kecil terlanjur percaya bahwa Jawa memiliki banyak gedung tinggi dan mobil. Memang semua itu kutemui di Jakarta. Tapi tidak demikian dengan Kendal, kota kecil yang akan kami tempati.
Saat itu aku nyaris tidak percaya kota ini masih bagian dari pulau Jawa.
****
Kendal, Juli 1979
"Renee, ayo bangun nak, saatnya sekolah," ujar Mama lembut sembari menggoyang-goyang badanku. Aku pura-pura masih tertidur.
"Renee!" kali ini suara Papa yang memanggil namaku.
Oo, kali ini aku harus membuka mata daripada menerima pukulan sapu kasur dari Papa.
"Bangun! Mandi segera, hari ini kau harus pergi sekolah," ujar Papa lagi.
"Renee tak mau sekolah!" teriakku.
"Jangan jadi anak nakal Renee!" suara Mama yang lembut berubah tajam.
"Tak ada teman Renee di sini! Rumah kita jelek, jalanannya becek, Renee tak mau di sini, Renee mau pulang ke Manado!" rengekku.
Papa segera mengambil sapu di dekatnya. "Jangan jadi anak manja kau Renee. Dalam hitungan ketiga kau tidak bangun ke kamar mandi, sapu ini mendarat di pantatmu!"
Aku masih kukuh memberontak.
"Satu!" suara bariton Papa menggema di kamarku.
"Dua!" jeri juga aku membayangkan pantatku lebam-lebam kena pukulan sapu. Bergegas aku berlari ke kamar mandi, melewati Papa yang kukuh berdiri dengan sapu di tangannya.
****
Sekolahku terletak di ujung desa. Jauuuuuuuh sekali dari rumahku. Tidak seperti sekolahku di Manado, sekolahku yang baru tidak menyediakan bus sekolah untuk mengantar jemput siswa. Sebagai gantinya Papa mengantarku dengan motor butut dari Koramil, memastikan aku masuk gerbang sekolah dan ikut berbaris dengan anak-anak lainnya.
Hari ini hari Senin.
Seragamku berubah menjadi putih merah, dasi laki-laki dan topi. Jelek.
Dulu seragamku putih dengan rok dan rompi biru serta dasi kupu-kupu untuk siswa perempuan. Kami pun tidak dijemur mengikuti upacara bendera seperti ini tetapi masuk ke aula dan menyanyikan lagu rohani setiap pagi.
Aku menempati kelas 3, seperti seharusnya di Manado sana.
"Selamat pagi anak-anak," seru seorang perempuan yang kuduga guru di depan kelas.
"Selamat pagi bu Guru!" seru teman-teman sekelasku, dengan 'u' yang sangat panjang di akhir kalimat.
"Hari ini kita kedatangan seorang teman baru. Ayo Renee, maju ke depan dan perkenalkan diri," ujar Bu Guru sambil menatapku dengan lembut.
Kuseret kakiku ke depan kelas dengan malas.
"Nama saya Renee. Saya dari Manado. Terima kasih," ujarku singkat.
"Nah, ayo anak-anak ucapkan selamat datang kepada Renee," perintah Bu Guru
"Selamat datang Reni!"seru teman-temanku.
"Nama saya Renee, bukan Reni!" seruku, merasa tersinggung mereka salah menyebutkan namaku. Kelas menjadi sunyi kembali. Bu Guru memintaku duduk di bangkuku lagi, kuturuti ia dengan bibir monyong menahan kesal.
Resmi sudah aku menyandang status sebagai siswa SD Kartika Jaya.
****

Tidak ada komentar:
Posting Komentar