Saya terlahir sebagai perempuan.
Semestinya lah saya concern peduli pada kehidupan perempuan,
dan segala yang terlibat di dalamnya.
Apa sebenarnya yang anda sebut dengan perempuan?
Apa yang anda pikirkan ketika anda mendengar frasa perempuan/wanita?
Menjadi perempuan adalah kutukan.
Percaya atau tidak?
Seyogyanya semua manusia sama.
Tapi manusia sendiri yang menciptakan jurang lebar dikotomi jenis kelamin : Laki-laki dan Perempuan.
Sudah bukan rahasia lagi legenda-legenda yang menyatakan mempunyai anak laki-laki adalah kehormatan, sedangkan anak perempuan adalah aib.
Sudah bukan rahasia lagi kisah mengenai anak perempuan yang dikubur hidup-hidup oleh orangtuanya.
Bukan hal yang baru lagi perempuan dijadikan komoditas jual beli.
Bukan rahasia lagi perempuan dicap sebagai perusak kehidupan.
Bukan rahasia lagi perempuan dipandang sebelah mata dan dianggap tak berguna kecuali untuk urusan perut, syahwat dan rumahtangga.
Mau menyangkal?
Mau kembali meneriakkan emansipasi wanita di muka saya?
Wah maaf, saya lebih percaya realitas ketimbang dogma.
Mohon maaf, karena kita hidup dalam realita, bukan dunia ideal.
Anak laki-laki dididik agar mereka bisa berperang, bisa membela diri dan keluarga mereka.
Anak laki-laki dididik untuk bisa mandiri, bisa menghidupi diri sendiri dan keluarganya.
Anak laki-laki dididik untuk bisa memimpin, bagaimana pun caranya.
Anak laki-laki dididik untuk bisa berkuasa, dihormati, disegani.
Anak laki-laki dididik untuk bisa melindungi diri sendiri dan keluarganya.
Anak laki-laki dididik untuk menunjukkan kemampuan fisik dan nonfisiknya untuk bisa dihormati.
Anak perempuan dididik agar mereka terampil urusan dapur, bersih-bersih, dan melayani suami.
Anak perempuan dididik untuk bisa menerima dan mengelola hasil kerja suaminya.
Anak perempuan dididik untuk patuh pada tiap titah suaminya kelak.
Anak perempuan dididik untuk segan, hormat dan tunduk pada keinginan suaminya.
Anak perempuan dididik menjadi objek yang seakan selalu butuh perlindungan.
Anak perempuan dididik untuk menonjolkan fisiknya ketimbang nonfisiknya untuk memperoleh lirikan laki-laki yang didambakan.
Mempunyai anak laki-laki berarti hanya berkewajiban menjadikannya manusia mandiri yang pintar cari nafkah.
Mempunyai anak perempuan berarti berkewajiban mendidiknya menjadi calon istri dan ibu yang baik, menjadikannya sebagai manager handal, menjadikannya pelayan paling patuh, menjadikannya guru yang baik, menjadikannya manusia yang paling rajin, menjadikannya manusia berke"cukup"an.
Anak perempuan dilarang orangtuanya untuk pergi jauh/malam sendirian.
Kenapa?
Karena orangtua takut anaknya kenapa-kenapa, karena takut anaknya menjadi korban kejahatan laki-laki.
Tanya pada perempuan, siapa yang paling mereka takuti, jawabannya laki-laki.
Tapi pernah kah berpikir terbalik?
Anak laki-laki dibiarkan orangtuanya pergi jauh/malam dengan alasan laki-laki haruslah berani.
Tapi pernahkah berpikir bahwa keberanian yang ditanamkan pada mereka justru memicu ketakutan perempuan di satu pihak?
Maka percuma gembar-gembor emansipasi kalau pola pikir masih stagnan begitu.
Saya tidak pernah suka perempuan genit, tidak pernah setuju perempuan diperbudak dan diperjual-belikan, tidak pernah rela perempuan dianggap tak berdaya.
Tapi saya tidak bisa menyalahkan.
Karena itulah hasil dididikan kepada perempuan.
Perempuan genit hanyalah manifestasi keinginan mendapatkan pasangan hidup.
Perempuan memang dididik dan disetir untuk bermental budak.
Perempuan memang didoktrin untuk dilihat sebagai "barang berharga" ketimbang dihargai
Perempuan memang telah dididik seolah mereka adalah makhluk lemah yang harus terus berlindung di bawah ketiak laki-laki.
Ah, itulah kodrat perempuan.
Maka jangan heran banyak perempuan berkubang dalam kemiskinan dan menderita hanya karena cerai dengan suaminya.
Jangan heran kalau makin banyak saja anak perempuan yang menjadi korban pelecehan.
Jangan heran kalau perempuan masih saja diam ketika menghadapi masalah.
Jangan heran kalau perempuan terlihat lebih tua daripada laki-laki dengan umur yang sama.
Saya bukan anti laki-laki.
Saya ingin semua pihak kembali berpikir. Introspeksi.
Manusia ada bukan untuk saling menyakiti dan disakiti.
Saya berharap semua pihak memandang objektif.
Saya berharap perempuan bukan hanya sekedar objek, tapi juga subjek.
Saya berharap perempuan sadar bahwa kodratnya bukan untuk diinjak-injak, tapi menjadi manusia yang istimewa.
Emansipasi jangan hanya mendongak kepada segelintir perempuan yang sukses, tapi tengoklah juga gelontoran perempuan yang masih "buta".
Emansipasi jangan hanya kehidupan materiil saja, tetapi juga pola pikir, sikap, dan kontrol diri.
Kesetaraan gender jangan hanya diacung-acungkan untuk hal-hal tidak penting yang justru merugikan perempuan itu sendiri, tetapi seyogyanya dijunjung tinggi untuk menciptakan iklim yang harmonis dan mendukung kemandirian perempuan.
Selasa, 11 Desember 2012
Evolusi
Ini nih materi paling kontroversial sedunia :
EVOLUSI
Yep.
Manusia jadi terbagi dua akibat satu kata tadi.
Sebenarnya, apa yang kita pikirin kalau dengar kata "evolusi"?
Manusia dari kera?
Menentang ajaran Tuhan?
Atau apa?
Yuk, kita tengok dulu deh apa itu evolusi sebelum makin salah kaprah.
Pengertian umum evolusi yaitu perubahan menuju kesempurnaan yang terjadi perlahan-lahan dalam jangka waktu yang lama.
Evolusi banyak dikaitkan dengan ilmu hayat.
Ya bener sih, di ilmu hayat kita bakal mempelajari evolusi makhluk hidup.
Nah, di sini juga termasuk evolusi manusia.
Banyak tokoh yang mengajukan teori evolusi makhluk hidup,
sejak dari awal terjadinya makhluk hidup hingga perkembangan makhluk hidup tadi.
Di sini, aku pengen berbagi pikiran aja tentang evolusi, terutama evolusi manusia.
Yah, kita semua udah tahu lah ya, ada teori (nggak tepat juga kalau disebut teori Darwin) yang mengatakan kalau manusia berasal dari kera.
Wuih, mesti timbul kontroversi dong ya?
Masa iya kita mau disamain sama kera? Hehehe
Apalagi yang datang dari kalangan religius, pasti dengan tegas menolak karena mereka meyakini apa yang termaktub dalam kitab suci bahwa Tuhan menciptakan manusia pertama yaitu Adam kemudian pasangannya, Hawa.
Ayok merenung!
Manusia, dibekali Tuhan dengan panca indera, akal budi, dan pikiran.
Oleh sebab itu, manusia bisa beradaptasi dengan lingkungannya.
Manusia bisa banyak belajar dari lingkungan sekitarnya.
Manusia bisa menciptakan berbagai hal untuk membantu hidupnya.
Tapi ingat, manusia tetaplah terbatas, tetaplah nggak ada apa-apanya dibanding Tuhan.
Dengan keterbatasannya, manusia mencoba menguak berbagai misteri yang dihamparkan Tuhan.
Salah satunya ya asal usul mereka sendiri.
Berbagai teori diajukan tentang asal usul makhluk hidup.
Tapi siapa sih yang tahu mana yang paling benar? Kita kan nggak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi saat itu.
Tapi, dengan bekal-bekal super yang Tuhan pinjamkan, manusia bisa meraba kebenaran walaupun mungkin nyatanya masih jauh dari yang sebenarnya.
Dalam penelitian yang terkait dengan evolusi, ada beberapa cara yang lazim digunakan untuk menentukan rantai evolusi suatu spesies.
Di antaranya dengan penggalian dan penyusunan fosil.
Tiap lapisan kerak bumi terdapat fosil-fosil yang berbeda umurnya.
Dari situ kita bisa merunut jejak generasi yang paling tua hingga yang paling muda.
Kemudian kita bisa melihat kemiripan yang ada dalam satu spesies.
Bukti evolusi yang paling nyata ditinjau dari fosilnya adalah evolusi kuda (silahkan search)
Ingat lagi, manusia itu terbatas.
Ditemukanlah sejumlah fosil manusia.
Dengan metode yang sama, manusia menyusun rantai evolusi mereka sendiri.
Maka keluarlah teori bahwa manusia awalnya adalah kera yang berjalan tegak.
Metode lain yang digunakan adalah pencocokan DNA.
Dari metode ini, DNA manusia dan kera mempunyai kecocokan sebesar 97%.
Tiga persen sisanya lah yang membedakan manusia dengan kera.
Memang masih ada missing link dari rantai evolusi manusia.
Misteri yang sudah lama ada dan belum terpecahkan.
Tapi untuk sementara teori tersebut dianggap kuat.
Sekarang, dari tinjauan agama.
Tuhan menciptakan manusia pertama, Adam-Hawa.
Ada yang tahu bagaimana morfologis mereka?
Dari beberapa buku yang aku baca, banyak keterangan mengenai umur panjang nabi-nabi terdahulu dan ukuran tubuh mereka yang luar biasa.
Jika ditilik lagi, jenis-jenis manusia purba juga memiliki ukuran tubuh yang besar.
Hal itu diduga karena kondisi bumi yang juga dihuni makhluk-makhluk gigantis lain.
Manusia purba pun dibekali akal budi, pikiran, sama seperti kita sekarang.
Mohon maaf sebelumnya.
Tapi mungkinkah kita sendiri yang menafsirkan dan menggambarkan Adam selayaknya kita yang hidup sekarang ini?
Karena jika kita mendengar kata "manusia", kita tentu akan menafsirkan diri kita bukan?
Tidakkah pernah terpikir mungkin saja "manusia" terdahulu berbeda dengan kita yang sekarang?
Maafkan aku kalau tulisanku aneh begini.
Iman.
Aku mengimani Tuhan dan segala sabda-Nya, ciptaan-Nya, segala-Nya.
Di satu sisi aku juga manusia yang percaya dengan bukti-bukti yang dibentangkan di depanku.
Keterbatasan manusia.
Mungkin begitu.
Mungkin itu yang membuat seolah agama dan pengetahuan begitu jauh.
Padahal kita semua tahu, pengetahuan selalu berlandaskan dan diawali dari agama,
dari sabda-sabda Tuhan. Karena siapa lagi yang bisa dipercaya selain pencipta pengetahuan itu sendiri?
Hanya Tuhan Yang Maha Tahu dan Maha Sempurna.
*menggigil hebat*
EVOLUSI
Yep.
Manusia jadi terbagi dua akibat satu kata tadi.
Sebenarnya, apa yang kita pikirin kalau dengar kata "evolusi"?
Manusia dari kera?
Menentang ajaran Tuhan?
Atau apa?
Yuk, kita tengok dulu deh apa itu evolusi sebelum makin salah kaprah.
Pengertian umum evolusi yaitu perubahan menuju kesempurnaan yang terjadi perlahan-lahan dalam jangka waktu yang lama.
Evolusi banyak dikaitkan dengan ilmu hayat.
Ya bener sih, di ilmu hayat kita bakal mempelajari evolusi makhluk hidup.
Nah, di sini juga termasuk evolusi manusia.
Banyak tokoh yang mengajukan teori evolusi makhluk hidup,
sejak dari awal terjadinya makhluk hidup hingga perkembangan makhluk hidup tadi.
Di sini, aku pengen berbagi pikiran aja tentang evolusi, terutama evolusi manusia.
Yah, kita semua udah tahu lah ya, ada teori (nggak tepat juga kalau disebut teori Darwin) yang mengatakan kalau manusia berasal dari kera.
Wuih, mesti timbul kontroversi dong ya?
Masa iya kita mau disamain sama kera? Hehehe
Apalagi yang datang dari kalangan religius, pasti dengan tegas menolak karena mereka meyakini apa yang termaktub dalam kitab suci bahwa Tuhan menciptakan manusia pertama yaitu Adam kemudian pasangannya, Hawa.
Ayok merenung!
Manusia, dibekali Tuhan dengan panca indera, akal budi, dan pikiran.
Oleh sebab itu, manusia bisa beradaptasi dengan lingkungannya.
Manusia bisa banyak belajar dari lingkungan sekitarnya.
Manusia bisa menciptakan berbagai hal untuk membantu hidupnya.
Tapi ingat, manusia tetaplah terbatas, tetaplah nggak ada apa-apanya dibanding Tuhan.
Dengan keterbatasannya, manusia mencoba menguak berbagai misteri yang dihamparkan Tuhan.
Salah satunya ya asal usul mereka sendiri.
Berbagai teori diajukan tentang asal usul makhluk hidup.
Tapi siapa sih yang tahu mana yang paling benar? Kita kan nggak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi saat itu.
Tapi, dengan bekal-bekal super yang Tuhan pinjamkan, manusia bisa meraba kebenaran walaupun mungkin nyatanya masih jauh dari yang sebenarnya.
Dalam penelitian yang terkait dengan evolusi, ada beberapa cara yang lazim digunakan untuk menentukan rantai evolusi suatu spesies.
Di antaranya dengan penggalian dan penyusunan fosil.
Tiap lapisan kerak bumi terdapat fosil-fosil yang berbeda umurnya.
Dari situ kita bisa merunut jejak generasi yang paling tua hingga yang paling muda.
Kemudian kita bisa melihat kemiripan yang ada dalam satu spesies.
Bukti evolusi yang paling nyata ditinjau dari fosilnya adalah evolusi kuda (silahkan search)
Ingat lagi, manusia itu terbatas.
Ditemukanlah sejumlah fosil manusia.
Dengan metode yang sama, manusia menyusun rantai evolusi mereka sendiri.
Maka keluarlah teori bahwa manusia awalnya adalah kera yang berjalan tegak.
Metode lain yang digunakan adalah pencocokan DNA.
Dari metode ini, DNA manusia dan kera mempunyai kecocokan sebesar 97%.
Tiga persen sisanya lah yang membedakan manusia dengan kera.
Memang masih ada missing link dari rantai evolusi manusia.
Misteri yang sudah lama ada dan belum terpecahkan.
Tapi untuk sementara teori tersebut dianggap kuat.
Sekarang, dari tinjauan agama.
Tuhan menciptakan manusia pertama, Adam-Hawa.
Ada yang tahu bagaimana morfologis mereka?
Dari beberapa buku yang aku baca, banyak keterangan mengenai umur panjang nabi-nabi terdahulu dan ukuran tubuh mereka yang luar biasa.
Jika ditilik lagi, jenis-jenis manusia purba juga memiliki ukuran tubuh yang besar.
Hal itu diduga karena kondisi bumi yang juga dihuni makhluk-makhluk gigantis lain.
Manusia purba pun dibekali akal budi, pikiran, sama seperti kita sekarang.
Mohon maaf sebelumnya.
Tapi mungkinkah kita sendiri yang menafsirkan dan menggambarkan Adam selayaknya kita yang hidup sekarang ini?
Karena jika kita mendengar kata "manusia", kita tentu akan menafsirkan diri kita bukan?
Tidakkah pernah terpikir mungkin saja "manusia" terdahulu berbeda dengan kita yang sekarang?
Maafkan aku kalau tulisanku aneh begini.
Iman.
Aku mengimani Tuhan dan segala sabda-Nya, ciptaan-Nya, segala-Nya.
Di satu sisi aku juga manusia yang percaya dengan bukti-bukti yang dibentangkan di depanku.
Keterbatasan manusia.
Mungkin begitu.
Mungkin itu yang membuat seolah agama dan pengetahuan begitu jauh.
Padahal kita semua tahu, pengetahuan selalu berlandaskan dan diawali dari agama,
dari sabda-sabda Tuhan. Karena siapa lagi yang bisa dipercaya selain pencipta pengetahuan itu sendiri?
Hanya Tuhan Yang Maha Tahu dan Maha Sempurna.
*menggigil hebat*
Selasa, 04 Desember 2012
Sebuah Cerita
Perkenalkan, namaku Aira, umurku 18 tahun.
Aku masih SMA, semester akhir.
Kehidupanku terlihat normal-normal saja.
Baik-baik saja.
Seputar kehidupan pelajar yang terhimpit masalah tugas dan ulangan sekolah.
Seputar kehidupan remaja yang ingin banyak bersenang-senang bersama teman.
Seputar kehidupan remaja yang sedang asyik jatuh cinta.
Latar pendidikanku bisa dibilang lumayan baik.
Setidaknya aku tidak pernah tinggal kelas walau tak bisa dibilang selalu jadi yang terbaik.
Latar belakang keluargaku baik-baik saja.
Sama seperti keluarga kecil lainnya yang bahagia tanpa ada banyak konflik.
Namaku Aira, 18 tahun.
Aku dilahirkan sebagai perempuan dari rahim bundaku yang juga perempuan.
Aku tidak memilih begitu, melainkan takdir itu yang memilihku untuk menjalani dan menanggung segala konsekuensinya.
Aku baik-baik saja.
Aku senang menjalaninya.
Hingga tiba saatku mekar.
Bukan lagi sekedar kuncup.
Umurku 13 tahun.
Aku mulai mencintai, dan tentu saja ingin dicintai.
Semua berjalan normal.
Orangtuaku mengerti akan perubahan-perubahan ini.
Aku senang mereka memahami.
Umurku 14 tahun.
Aku mulai mengenal seks.
Bukan, bukan seperti yang telah diajarkan dengan baik oleh orangtua dan sekolahku.
Bukan, bukan tabu atau penuh ancaman berbahaya seperti yang digambarkan buku-buku.
Aku mulai mencoba, mencicipi.
Dan aku senang.
Aku ketagihan.
Bukan, aku bukannya tak terkontrol.
Orangtua selalu ada untukku, dan aku cukup terbuka dengan mereka.
Kecuali untuk yang satu itu.
Umurku 14 tahun.
Prestasiku sedang menanjak.
Orangtua mana yang tak bangga?
Urusan kenakalan nanti dulu saja lah.
Semua kebusukan terkunci rapat dengan prestasi-prestasi yang aku sodorkan.
Umurku 15 tahun.
Sejak awal aku menyadari ada yang salah.
Sejak awal aku tahu ada konsekuensi yang harus aku tanggung dari semua perbuatanku.
Tapi namanya candu, sulit sekali dihilangkan, terutama jika ada pemicunya di sekitarku.
Umurku 16 tahun.
Memasuki masa SMA.
Mulai paham alasan cinta yang kupakai untuk menghalalkan tabiat burukku tidaklah abadi.
Mulai mengerti dan mengkhawatirkan konsekuensi yang menghadang di depan mata.
Umurku 17 tahun.
Mencoba lepas dari ketergantungan itu.
Tapi semua sudah menjadi terlanjur bukan?
Tak ada lagi yang bisa kuubah.
Aku terlanjur mengerti dan kehilangan di usia sebelia itu.
Sekarang umurku 18 tahun.
Merasa kehilangan jatidiri.
Kehilangan harapan.
Kehilangan masa depan.
*dicuplik dari penggalan novel apik Djenar Maesa Ayu dengan sedikit editing*
Aku masih SMA, semester akhir.
Kehidupanku terlihat normal-normal saja.
Baik-baik saja.
Seputar kehidupan pelajar yang terhimpit masalah tugas dan ulangan sekolah.
Seputar kehidupan remaja yang ingin banyak bersenang-senang bersama teman.
Seputar kehidupan remaja yang sedang asyik jatuh cinta.
Latar pendidikanku bisa dibilang lumayan baik.
Setidaknya aku tidak pernah tinggal kelas walau tak bisa dibilang selalu jadi yang terbaik.
Latar belakang keluargaku baik-baik saja.
Sama seperti keluarga kecil lainnya yang bahagia tanpa ada banyak konflik.
Namaku Aira, 18 tahun.
Aku dilahirkan sebagai perempuan dari rahim bundaku yang juga perempuan.
Aku tidak memilih begitu, melainkan takdir itu yang memilihku untuk menjalani dan menanggung segala konsekuensinya.
Aku baik-baik saja.
Aku senang menjalaninya.
Hingga tiba saatku mekar.
Bukan lagi sekedar kuncup.
Umurku 13 tahun.
Aku mulai mencintai, dan tentu saja ingin dicintai.
Semua berjalan normal.
Orangtuaku mengerti akan perubahan-perubahan ini.
Aku senang mereka memahami.
Umurku 14 tahun.
Aku mulai mengenal seks.
Bukan, bukan seperti yang telah diajarkan dengan baik oleh orangtua dan sekolahku.
Bukan, bukan tabu atau penuh ancaman berbahaya seperti yang digambarkan buku-buku.
Aku mulai mencoba, mencicipi.
Dan aku senang.
Aku ketagihan.
Bukan, aku bukannya tak terkontrol.
Orangtua selalu ada untukku, dan aku cukup terbuka dengan mereka.
Kecuali untuk yang satu itu.
Umurku 14 tahun.
Prestasiku sedang menanjak.
Orangtua mana yang tak bangga?
Urusan kenakalan nanti dulu saja lah.
Semua kebusukan terkunci rapat dengan prestasi-prestasi yang aku sodorkan.
Umurku 15 tahun.
Sejak awal aku menyadari ada yang salah.
Sejak awal aku tahu ada konsekuensi yang harus aku tanggung dari semua perbuatanku.
Tapi namanya candu, sulit sekali dihilangkan, terutama jika ada pemicunya di sekitarku.
Umurku 16 tahun.
Memasuki masa SMA.
Mulai paham alasan cinta yang kupakai untuk menghalalkan tabiat burukku tidaklah abadi.
Mulai mengerti dan mengkhawatirkan konsekuensi yang menghadang di depan mata.
Umurku 17 tahun.
Mencoba lepas dari ketergantungan itu.
Tapi semua sudah menjadi terlanjur bukan?
Tak ada lagi yang bisa kuubah.
Aku terlanjur mengerti dan kehilangan di usia sebelia itu.
Sekarang umurku 18 tahun.
Merasa kehilangan jatidiri.
Kehilangan harapan.
Kehilangan masa depan.
*dicuplik dari penggalan novel apik Djenar Maesa Ayu dengan sedikit editing*
Langganan:
Postingan (Atom)
