Selasa, 04 Desember 2012

Sebuah Cerita

Perkenalkan, namaku Aira, umurku 18 tahun.
Aku masih SMA, semester akhir.
Kehidupanku terlihat normal-normal saja.
Baik-baik saja.
Seputar kehidupan pelajar yang terhimpit masalah tugas dan ulangan sekolah.
Seputar kehidupan remaja yang ingin banyak bersenang-senang bersama teman.
Seputar kehidupan remaja yang sedang asyik jatuh cinta.
Latar pendidikanku bisa dibilang lumayan baik.
Setidaknya aku tidak pernah tinggal kelas walau tak bisa dibilang selalu jadi yang terbaik.
Latar belakang keluargaku baik-baik saja.
Sama seperti keluarga kecil lainnya yang bahagia tanpa ada banyak konflik.

Namaku Aira, 18 tahun.
Aku dilahirkan sebagai perempuan dari rahim bundaku yang juga perempuan.
Aku tidak memilih begitu, melainkan takdir itu yang memilihku untuk menjalani dan menanggung segala konsekuensinya.
Aku baik-baik saja.
Aku senang menjalaninya.

Hingga tiba saatku mekar.
Bukan lagi sekedar kuncup.

Umurku 13 tahun.
Aku mulai mencintai, dan tentu saja ingin dicintai.
Semua berjalan normal.
Orangtuaku mengerti akan perubahan-perubahan ini.
Aku senang mereka memahami.

Umurku 14 tahun.
Aku mulai mengenal seks.
Bukan, bukan seperti yang telah diajarkan dengan baik oleh orangtua dan sekolahku.
Bukan, bukan tabu atau penuh ancaman berbahaya seperti yang digambarkan buku-buku.
Aku mulai mencoba, mencicipi.
Dan aku senang.
Aku ketagihan.
Bukan, aku bukannya tak terkontrol.
Orangtua selalu ada untukku, dan aku cukup terbuka dengan mereka.
Kecuali untuk yang satu itu.

Umurku 14 tahun.
Prestasiku sedang menanjak.
Orangtua mana yang tak bangga?
Urusan kenakalan nanti dulu saja lah.
Semua kebusukan terkunci rapat dengan prestasi-prestasi yang aku sodorkan.

Umurku 15 tahun.
Sejak awal aku menyadari ada yang salah.
Sejak awal aku tahu ada konsekuensi yang harus aku tanggung dari semua perbuatanku.
Tapi namanya candu, sulit sekali dihilangkan, terutama jika ada pemicunya di sekitarku.

Umurku 16 tahun.
Memasuki masa SMA.
Mulai paham alasan cinta yang kupakai untuk menghalalkan tabiat burukku tidaklah abadi.
Mulai mengerti dan mengkhawatirkan konsekuensi yang menghadang di depan mata.

Umurku 17 tahun.
Mencoba lepas dari ketergantungan itu.
Tapi semua sudah menjadi terlanjur bukan?
Tak ada lagi yang bisa kuubah.
Aku terlanjur mengerti dan kehilangan di usia sebelia itu.

Sekarang umurku 18 tahun.
Merasa kehilangan jatidiri.
Kehilangan harapan.
Kehilangan masa depan.


*dicuplik dari penggalan novel apik Djenar Maesa Ayu dengan sedikit editing*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar