Minggu, 22 Maret 2015

Siapa Kalian?

Siapa kalian, mahasiswa?
Yang mengepalkan tangan dan berteriak lantang di sepanjang jalan?
Siapa kalian, mahasiswa?
Yang tiap hari datang ke kampus megah dan duduk di kelasnya yang mewah?
Siapa kalian, mahasiswa?
Yang bercokol di sekretariat organisasi mengkaji isu korupsi, absennya subsidi, hingga harga beras yang melangit?
Siapa kalian, mahasiswa?
Yang berdiam di laboratorium berusaha menemukan formula anti kuman paling manjur?
Siapa kalian, mahasiswa?
Yang senang turun ke jalan dan mengkritisi apapun kata mereka yang di atas sana?
Siapa kalian, mahasiswa?
Yang memilih menyusuri rak perpustakaan dengan tekun dan memperdebatkan pendapat Plato atau Hipocrates?
Siapa kalian, mahasiswa?
Yang menggulung lengan jas almamaternya dan meneriakkan “Hidup Rakyat Indonesia!” ?
Siapa kalian, mahasiswa?
Yang memilin kerah kemejanya, menyematkan jas almamaternya dengan bangga di bahunya di kompetisi karya ilmiah tingkat Internasional?
Jika,
Mahasiswa hanyalah kalian yang setia “membela” kepentingan rakyat dengan semangat yang berkobar,
berteriak hingga suara serak,
mengepalkan tangan kuat-kuat,
Meraung.
Mengaum.
Menyalak galak pada pihak-pihak yang kalian bilang tidak pro rakyat.
Kami adalah pembela rakyat, kata kalian.
Kami adalah agen perubahan, itu yang kalian sampaikan.
Kalau bukan kami, mahasiswa yang peduli pada kepentingan rakyat, lalu siapa lagi?
Jika,
Mahasiswa hanyalah kalian yang duduk manis di kelas dan mendengarkan kuliah yang kadang menjemukan,
Tekun belajar hingga larut malam,
Mengumpulkan medali dari berbagai kompetisi,
Aktif mengikuti diskusi, simulasi sidang dan konferensi hingga lintas benua.
Kami adalah intelektual muda bangsa, kata kalian.
Kami adalah generasi emas bangsa, itu yang kalian sampaikan.
Kalau bukan kami, cendekiawan muda yang mengharumkan nama bangsa ke kancah dunia, lalu siapa lagi?
Jika demikian,
Maka siapakah teman-teman kalian,
Yang aktif menulis di berbagai media massa menyuarakan ide-idenya tanpa harus berpeluh berdebu
Yang meluangkan waktu mereka mendampingi anak-anak jalanan agar tidak putus pendidikan
Yang sepulang kuliah harus turut membantu ibunya menggoreng pisang untuk dijual sore nanti
Yang menebar bunga ke pengguna jalan untuk sekedar mengingatkan agar hati-hati di jalan
Yang membuka konsultasi kesehatan gratis di rumah-rumah warga miskin
Yang menyuapkan nasi, berbagi tawa, menuntun langkah mereka yang tidak sempurna
Yang hitam terpanggang matahari pantai demi menyemai bibit-bibit bakau
Yang bersusah payah menapaki jalan terjal berbatu demi mengibarkan merah putih di puncak tertinggi dunia
Yang berkreasi dan berinovasi, mengumpulkan pundi-pundi dengan tangan sendiri
Yang menyusuri tiap jengkal tanah pertiwi dan membagikan gambar keindahannya agar seluruh dunia tahu
Yang dengan suaranya, goresan tangannya di kanvas, lenggok badannya, membuka mata dunia bahwa ada bagian dunia bernama Indonesia
Tidakkah mereka bagian dari kalian, mahasiswa?
Benarkah diam berarti tidak berbuat apa-apa?
Benarkah yang tampak tidak bergerak berarti juga tidak bertindak?
Benarkah yang tidak mengepalkan tangan berarti tidak membela rakyat?
Perjuangan bukan hanya dengan kepal tangan, bambu runcing dan senjata
Perjuangan bukan sekedar dengan pikiran dan ide-ide cemerlang
Kecintaan kepada rakyat, bangsa, dan negara tidak hanya milik mereka yang mengharumkan nama bangsa di kancah dunia
Perjuangan adalah hak, dan yang terpenting adalah kewajiban kita semua
Vertikal, horizontal, diagonal, atau apalah caranya
Karena kita mahasiswa, segelintir orang yang beruntung mencecap pendidikan tinggi negeri ini,
Kaum terpelajar yang seyogyanya sudah adil sejak dalam pikiran, perkataan bahkan perbuatan
Kita bergerak disebabkan, berdasarkan, dan hanya untuk kebenaran.
Hidup Mahasiswa Indonesia!
Hidup Rakyat Indonesia!
Yogya, tengah malam yang kacau, 2015