Senin, 22 Desember 2014
Gugur Bunga
Kelopak mawar berjatuhan.
Merah, putih, kuning, biru.
Wangi. Kubiarkan wanginya meresap ke pori-pori jemariku.
Kutegakkan lagi bahuku.
Anak sulungku tak henti mengusap punggungku.
Sang ayah masih sibuk membereskan segala sesuatu.
Anastasia Wilhelmina.
31 Agustus, lima belas tahun lalu di bilik rumah bersalin sederhana aku berjuang membawanya melihat dunia.
Kunamai ia laiknya Ratu di Belanda sana.
Aku berharap kelak ia tumbuh menjadi wanita yang tinggi derajatnya, dihormati, dan dipuja banyak orang.
Dia sangat menyukai mawar.
Dengan telaten ia selalu mengganti jambangan di kamarnya dengan setangkai mawar segar setiap hari.
"Aku suka wanginya, Ibunda,"
Begitu jawabnya mengapa ia begitu menyukai mawar.
"Sama seperti Ibunda yang menyukai harum bunga sedap malam, dan kak Pertiwi menyukai melati," kicaunya.
Aku hanya tersenyum memahami.
Tiap orang berhak memilih apa yang mereka sukai.
Maka aku membiarkan kedua putriku yang gemilang memilih sendiri apapun yang mereka sukai, meskipun sesederhana bunga.
Anastasia Wilhelmina.
Tumbuh di dalam keluarga yang utuh dan menyenangkan, adalah hal yang patut disyukuri karena tak semua teman-temannya seberuntung dia.
Aku dan sang ayah berusaha sebaik-baiknya memenuhi kebutuhan kedua kembang kami.
Hasilnya mereka berdua tumbuh menjadi gadis-gadis yang cantik dan gemilang.
Senang rasanya doa-doa kami mewujud dalam diri anak-anak kami.
Pertiwi tumbuh menjadi gadis sederhana yang tenang dan santun, persis melati.
Ia harum dengan sendirinya tanpa harus menonjolkan diri berlebihan.
Anastasia tumbuh menjadi gadis yang riang, cerdas, dan menarik hati, laiknya mawar yang warna warni.
Anastasia Wilhelmina.
Sayangnya mawar kami tidak setegar mawar dengan duri-durinya.
Mawar kami takluk pada penyakit yang bahkan penyebabnya pun tak kasat mata.
Kanker hati.
Mawar kami yang riang berubah sendu, layu.
Kami tahu sekuat tenaga ia menjaga keceriaannya, kekuatannya, menunjukkan ia baik-baik saja.
Kami pun menunjukkan semua masih baik-baik saja, tak ada perlakuan yang berbeda terhadap Anastasia seperti sebelumnya.
Tapi sebagaimana kami tahu juga kalau ia tidak baik-baik saja.
Tak terkatakan hancurnya perasaan kami semua tiap kali mendengar Anastasia merintih kesakitan.
Sebisa mungkin kami sembunyikan tangis kami, kesedihan kami demi menjaga mawar kami tetap berseri.
Anastasia Wilhelmina.
"Ibunda,"
"Iya sayang?"
"Aku punya sesuatu untuk Ibunda," ujarnya lirih. Kubelai kepalanya yang kian tipis rambutnya akibat kemoterapi. Sekuat tenaga aku menahan airmata agar tidak tumpah.
"Wah, apa sayang?"
Anastasia mendorong kursi rodanya perlahan, mengambil entah apa di dalam lemari bajunya.
"Ini Ibunda, Ibunda terima ya hadiah dari Tasya," ujarnya tersenyum, mengulurkan sebuket sedap malam kepadaku.
"Ini.. Lho kan Bunda nggak lagi ulang tahun," sahutku pelan
"Nggak papa dong Ibunda, maaf ya Tasya cuma bisa kasih ini buat Ibunda. Ibunda udah baik banget sama Tasya, udah sayang banget sama Tasya. Maafin Tasya ya Bunda, Tasya udah selalu ngerepotin Bunda, Ayah, sama Kak Pertiwi. Maafin Tasya ya Bunda, Tasya nggak bisa jadi anak Bunda yang cantik, yang baik, lihat kan Bunda, bahkan rambut Tasya udah mulai habis,"
"Nak...,"
Sekali ini aku berhenti berusaha menahan tangis.
"Bunda, bilang juga ya sama ayah sama kak Pertiwi, jangan sedih lagi dong. Tasya tahu Ibunda, Ayah, dan Kak Pertiwi sering menangis di dalam sholat. Janji ya Bunda, jangan sedih-sedih lagi,"
Allah, pertanda apa ini?
"Iya nak, Bunda berjanji. Bunda juga akan bilang ke ayah dan kak Pertiwi biar nggak sedih lagi. Sudah malam nak, yuk Tasya istirahat biar cepat sembuh," ujarku terisak.
Anastasia mengangguk.
"Terima kasih Bunda,"
"Terima kasih juga nak atas hadiahnya, Bunda simpan di kamar Bunda ya,"
Kupandangi tubuh mungil putriku bergelung dalam remang lampu tidur.
Allah, aku ikhlas.
Anastasia Wilhelmina.
Subuh keesokan harinya aku mengguncang tubuhnya untuk sholat subuh berjamaah seperti hari-hari biasanya.
Mawar kami hanya terdiam.
Kuraba pergelangan tangannya. Tidak berdenyut.
Kusentuhkan punggung tanganku ke ujung hidungnya. Tidak ada hembusan nafas yang teraba.
Inalillahi wa inna illahi raji'un.
Kudekap tubuh mawar kecilku kuat kuat.
Ayah dan Pertiwi bergegas menyusul ke kamar Anastasia.
Prosesi pemakaman segera dimulai.
Kuciumi wajah putri kecilku untuk yang terakhir kalinya.
Lihat nak, Ibunda menepati janji, Ibunda tidak menangis lagi.
Pertiwi mengecup kening adiknya dengan khidmat.
Ayah sudah berdiri di liang lahat, menanti jenazah Anastasia diturunkan.
Ayah menyerukan adzan di telinga Anastasia.
Sama seperti lima belas tahun lalu ketika Ayah membopong tubuh mungilnya untuk pertama kalinya.
Allah, segala yang berasal dari-Mu akan kembali pula pada-Mu.
Gundukan tanah sempurna menutup tubuh mawar kecilku.
Kutaburkan mawar-mawar warna warni di atas pusaranya.
Mawar kami telah berbahagia, kembali pulang kepada Penciptanya, kembali ke tempat yang damai, bertemu dengan Ia Yang Maha.
Harum mawar menguar ke mana-mana.
Selamat berbahagia, Nak. Selamat berjumpa dengan Rabb-Mu. Tunggu kami semua di surga.
Magelang, 18 Desember 2014
Buat Ibuk :)
Dia nggak sempurna.
Bukan orang kaya, bukan orang paling cantik, bahkan bukan orang paling
baik sedunia.
Bukan orang paling pinter, bukan orang paling super.
Tapi kami sayang dia.
Dia,
Yang kokoh punggungnya, yang lapang dadanya, yang kuat lengannya.
Yang keras hatinya, yang tangguh jiwanya.
Yang tajam matanya, yang peka telinganya.
Yang lembut hatinya, yang terjaga kata-kata dan perilakunya.
Dia,
yang memilih terikat menjadi abdi, menjadi panutan, menjadi tameng,
saat dia punya pilihan berbahagia, merdeka dengan hidupnya.
Yang memilih menukar perhiasannya dengan susu dan popok kami.
Yang menolak makan sebelum kami semua kenyang.
Yang rela tidur di ranjang lapuk asal kami tidur nyenyak di kasur
empuk.
Yang bekerja menempuh puluhan kilometer agar kami tetap bisa sekolah.
Yang memilih membanjiri kami dengan buku alih-alih mengoleksi pakaian
dan sepatu.
Dia,
Yang tak jarang kami sakiti hatinya, kami lukai perasaannya, kami
korbankan egonya.
Yang diam-diam menangis dalam sholatnya, tetap menyebut nama kami dalam
doanya meski kami sering lalai atas kewajiban kami terhadapnya.
Dia,
Yang tidak pernah menuntut apa pun dari kami.
Yang membebaskan kami.
Yang memanusiakan kami.
Yang tidak pernah kehilangan cara mengasah akal budi kami.
Yang menanamkan mimpi-mimpi dalam hati kami.
Yang tidak pernah lelah menempa kami.
Yang menjadi pelita kami, penunjuk arah kami.
Dia,
Yang memanjakan kami bukan dengan harta,
bukan dengan pemenuhan semua keinginan,
Tidak akan ada yang kami dapat dengan kemalasan tanpa kerja keras.
bukan dengan elusan ketika kami luka,
Tidak ada tempat di dunia untuk orang yang lemah.
bukan dengan pelukan ketika kami menangis,
Tidak akan selesai masalah dengan air mata.
bukan dengan toleransi ketika kami salah,
Tidak ada pilihan kecuali bertanggung jawab atas setiap perbuatan.
bukan dengan uluran tangan ketika kami jatuh,
Tidak akan kemana-mana orang yang hanya bisa mengandalkan bantuan orang
lain.
Dia,
Yang tetap berlari di depan kami ketika kami ingin berhenti.
Dulu kami benci, tapi sekarang kami tahu itu agar kami tidak pernah
berhenti mengejar tujuan kami.
Yang tetap melemparkan bola voli ke tangan kami, meminta kami mencoba
memukulnya berkali-kali lagi.
Dulu kami benci, tapi sekarang kami tahu itu agar kami benar-benar
mengeluarkan kemampuan terbaik kami dalam berbagai kondisi.
Yang tetap menghukum kami berdiri seharian ketika kami sudah mengakui
kesalahan kami.
Dulu kami benci, tapi sekarang kami mengerti, kami haruslah jadi ksatria
yang berani mengakui kesalahan dan menanggung konsekuensinya.
Selamat Hari Ibu, Ibuk yang kami sayang, yang kami banggakan.
Terima kasih untuk setiap perjuangan, setiap tetes keringat, setiap air
mata.
Kami sayang Ibuk :*
Kamis, 11 Desember 2014
Hanya saja kita nggak pernah tahu ke mana jalan kita menuju.
Begitu tiba di persimpangan kita pasti ragu, menimbang-nimbang kira-kira jalan mana yang paling baik untuk ditempuh. Jalan mana yang benar-benar menuju ke tujuan yang digariskan.
Apa keputusanmu?
Lama sekali berdiri mencoba menebak-nebak dan terjebak dalam ketidakpastian?
Atau mencoba menyusuri jalan itu satu-satu?
Konsekuensinya, nggak bisa balik arah karena begitu jalan dipilih, pintu di belakangmu tertutup selamanya.
Udah gedhe sekarang.
Masalah makin banyak.
Simpangan makin sering ditemui.
Dan sumpah bener-bener nggak gampang mau nentuin belok kanan, kiri, atau lempeng-lempeng aja.
Antara belajar, rapat, atau main-main nggak jelas.
Antara tidur, begadang, nulis, membaca.
Antara berani ambil risiko atau main aman.
Antara kamu, dia, dia, dia, dan entah siapa lagi.
Lupakan.
Rabu, 05 November 2014
Jadi?
Someday we'll meet again.
Entah di sini, di situ, di sana.
Jemari kita akan kembali bertemu.
Entah esok, lusa, atau windu.
Diana memuntir cincin emas putih yang melingkar di jari manisnya.
Tak henti-hentinya dia menyumpah-nyumpah.
Andai dia bisa melihat apa yang akan terjadi di masa depan.
Andai dia tahu rahasia-rahasia apa yang menantinya di luar sana.
Benda mungil di jarinya itu kini terasa berat luar biasa. Sejak tadi Diana gatal ingin melepas dan melemparnya keluar hingga remuk dilindas roda kereta.
***
Marcell menekan tombol redial berkali-kali. Hasilnya sama, suara perempuan memberitahukan nomor yang ia tuju tidak aktif terdengar berkali-kali.
Sejak tadi Marcell frustasi ingin membanting ponselnya hingga tak berbentuk lagi.
Ke mana kekasihnya pergi?
***
Drian menenggak isi cangkirnya sekali lagi.
Sudah lebih dari 3 gelas kopi hitam pahit ludes dihirupnya. Kali ini aroma dan cita rasa legit kopi tidak cukup ampuh menghalau gelisahnya.
Apa yang telah ia lakukan?
Tiap detik bertambah pula campur aduk pikiran dan perasaannya.
Cemas, tapi juga tak sabar.
Tak suka, tapi toh senang juga.
Sepertinya ia akan menghabiskan lebih banyak cangkir kopi malam ini.
***
Halo Jogja!
Diana seakan bisa menghirup bau tanahnya, dan tentu saja kenangannya.
Jakarta bukan tempat asing bagi Diana. Kota kelahirannya. Meskipun Diana tidak pernah benar-benar tinggal di sana. Sebentar bukan berarti tidak berbekas.
Hari ini Diana kembali ke sana untuk mengambil kembali apa yang dulu ia pernah tinggalkan.
Dengan malas Diana merogoh sakunya dan menemukan ponselnya.
Sengaja ia mengganti SIMcardnya untuk sementara menghilang dari kehidupannya di Jakarta. Nama Marcell berkelebat di pikirannya. Diana memaki untuk kesekian kalinya. Marcell adalah hal terakhir yang ingin diingatnya di Jogja.
***
Drian tersentak mendengar jeritan ponselnya. Ia memaki begitu melihat jam di layar ponselnya. Ia sukses tertidur di kafe 24 jam yang ia kunjungi sejak semalam.
"Halo," ujarnya dengan suara serak. Serabutan ia memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.
"Pasti baru bangun tidur," sahut suara di seberang teleponnya. Jantung Drian seketika melompat tak karuan. Ia tak yakin ini karena efek kafein atau karena suara yang barusan didengarnya.
"Hmm,"
"Jemput aku sekarang," ujar suara itu lagi. Drian berjalan menuju meja kasir sembari mendengarkan instruksi dari rekan bicaranya di ujung telepon.
Lima menit kemudian mobil sedan Drian sudah meluncur ke Lempuyangan.
***
Diana dan Drian sama-sama terpaku di tempat mereka berdiri.
Cincin di jari manis Diana terasa semakin berat. Refleks ia memasukkan tangan kirinya ke dalam saku jaketnya.
Drian bingung harus mengawali semua ini dari mana. Dia, Diananya, sekarang berdiri di depannya. Diam-diam ia mencubit lengannya sendiri untuk meyakinkan diri bahwa ia sudah benar-benar bangun tidur.
"Hai," sapa Diana dengan canggung. Dulu ia pasti akan langsung menghambur memeluk laki-laki di depannya ini. Tapi lagi-lagi, cincin di jari manisnya terasa seperti borgol yang menahannya untuk tetap di tempatnya.
"Hai juga. Maaf lama," sahut Drian.
Diana tersenyum. "Berantakan," ujarnya sembari mengacak rambut Drian. Seperti yang selalu dilakukannya dulu. Diana memalingkan muka, berharap Drian tidak melihatnya berkaca-kaca.
***
"Maaf kalau rumahku kurang nyaman, tapi please, anggap saja rumahmu sendiri," ujar Drian. Diana manggut-manggut saja. Hawa sejuk Kaliurang terasa lebih bersahabat ketimbang panasnya Jakarta.
"Mau ke mana?"
"Ngantor,"
"Jam segini? Jangan bercanda!"
Drian meraup muka frustasi. Ia memang benar-benar tak pandai berbohong, apalagi di depan Diana.
"Kita jalan-jalan saja Drian. Tapi tunggu sebentar, aku mandi dulu," usul Diana. Drian mengangguk saja, pasrah.
***
Sepanjang jalan Diana banyak bercerita, dengan Drian yang menyimak dengan khidmat.
Diana bekerja di perusahaan farmasi ternama di Jakarta, sementara Drian tetap di Jogja melanjutkan karirnya di bidang perhotelan.
Matahari sudah semakin condong ke barat. Seharian ini mereka berdua sudah mengelilingi berbagai tempat di Jogja. Dari mampir ke kantin sekolah mereka dulu, hingga akhirnya sore ini terduduk di tepi Samudra Hindia.
"Andai Doraemon benar-benar nyata, aku akan minta mesin pembeku waktu," ujar Diana. Drian menoleh, memandangi rambut Diana yang kemilau terkena cahaya senja. "Kenapa?" tanya Drian.
"Karena aku mau terus begini, ada di sini denganmu. Sudah lama sekali aku tidak merasa damai begini," sahut Diana
"Diana, apa yang kamu cari di sini?" tanya Drian tiba-tiba. Ia bukan tak melihat kilau cincin perak di jari Diana. Setengah mati ia menahan diri untuk tidak membahasnya, tapi pernyataan Diana barusan semakin membuatnya kacau.
"Keputusan," sahut Diana mantap.
"Atas?"
"Drian, dengar, bukan tidak ada artinya cincin ini ada di jari manisku. Seminggu yang lalu Marcell datang melamarku,"
"Dan kamu menerimanya. Tidak perlu kamu jelaskan juga aku tahu, Diana," potong Marcell pahit. "Apa yang kamu cari di sini?" ulang Drian.
"Jawab dengan jujur Drian, maukah kamu, suatu hari nanti menyematkan cincin di jariku?"
Di luar dugaan, Drian tertawa. Bahkan Drian pun tak mengerti mengapa ia justru tertawa mendengar pertanyaan Diana.
"Kembalilah ke Jakarta dan kirimkan undangan pernikahanmu secepatnya. Aku janji akan datang, hahaha," sahut Drian. Sakit sekali rasanya. Ia tahu tiap kata-katanya adalah kebohongan yang mengoyak hatinya sendiri. Tapi ia sudah kalah, ia tahu ia tidak akan bisa merengkuh Diananya kembali. Dengan dongkol ia merutuki dirinya sendiri. Bahkan setelah bertahun-tahun ia tak kunjung mampu mengungkapkan betapa sayang ia pada gadis di depannya ini.
Diana ikut tertawa sampai menangis. Atau ia menangis di dalam tawanya. Entahlah, ia juga tak peduli. Keyakinannya atas Drian ternyata salah. Apa yang ia angankan dari perjalanan ratusan kilometer ini tidak pernah tercapai.
"Baiklah Drian, ayo kita pulang. Aku akan pulang malam ini juga," ujar Diana masih dengan isak di sela tawanya.
***
"Halo,"
"Hai, syukurlah akhirnya kamu mengangkat teleponku. Ke mana saja kamu ini? Aku sudah siap menelepon polisi kalau kamu tidak juga menghubungiku hari ini,". Diana menarik nafas panjang.
"Jemput aku di bandara malam ini,"
Telepon pun ditutup. Diana memandangi cincinnya sekali lagi dan menangis tanpa henti. Ia akan menikah dengan Marcell.
Langit Jogja mendung malam ini.
Entah di sini, di situ, di sana.
Jemari kita akan kembali bertemu.
Entah esok, lusa, atau windu.
Diana memuntir cincin emas putih yang melingkar di jari manisnya.
Tak henti-hentinya dia menyumpah-nyumpah.
Andai dia bisa melihat apa yang akan terjadi di masa depan.
Andai dia tahu rahasia-rahasia apa yang menantinya di luar sana.
Benda mungil di jarinya itu kini terasa berat luar biasa. Sejak tadi Diana gatal ingin melepas dan melemparnya keluar hingga remuk dilindas roda kereta.
***
Marcell menekan tombol redial berkali-kali. Hasilnya sama, suara perempuan memberitahukan nomor yang ia tuju tidak aktif terdengar berkali-kali.
Sejak tadi Marcell frustasi ingin membanting ponselnya hingga tak berbentuk lagi.
Ke mana kekasihnya pergi?
***
Drian menenggak isi cangkirnya sekali lagi.
Sudah lebih dari 3 gelas kopi hitam pahit ludes dihirupnya. Kali ini aroma dan cita rasa legit kopi tidak cukup ampuh menghalau gelisahnya.
Apa yang telah ia lakukan?
Tiap detik bertambah pula campur aduk pikiran dan perasaannya.
Cemas, tapi juga tak sabar.
Tak suka, tapi toh senang juga.
Sepertinya ia akan menghabiskan lebih banyak cangkir kopi malam ini.
***
Halo Jogja!
Diana seakan bisa menghirup bau tanahnya, dan tentu saja kenangannya.
Jakarta bukan tempat asing bagi Diana. Kota kelahirannya. Meskipun Diana tidak pernah benar-benar tinggal di sana. Sebentar bukan berarti tidak berbekas.
Hari ini Diana kembali ke sana untuk mengambil kembali apa yang dulu ia pernah tinggalkan.
Dengan malas Diana merogoh sakunya dan menemukan ponselnya.
Sengaja ia mengganti SIMcardnya untuk sementara menghilang dari kehidupannya di Jakarta. Nama Marcell berkelebat di pikirannya. Diana memaki untuk kesekian kalinya. Marcell adalah hal terakhir yang ingin diingatnya di Jogja.
***
Drian tersentak mendengar jeritan ponselnya. Ia memaki begitu melihat jam di layar ponselnya. Ia sukses tertidur di kafe 24 jam yang ia kunjungi sejak semalam.
"Halo," ujarnya dengan suara serak. Serabutan ia memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.
"Pasti baru bangun tidur," sahut suara di seberang teleponnya. Jantung Drian seketika melompat tak karuan. Ia tak yakin ini karena efek kafein atau karena suara yang barusan didengarnya.
"Hmm,"
"Jemput aku sekarang," ujar suara itu lagi. Drian berjalan menuju meja kasir sembari mendengarkan instruksi dari rekan bicaranya di ujung telepon.
Lima menit kemudian mobil sedan Drian sudah meluncur ke Lempuyangan.
***
Diana dan Drian sama-sama terpaku di tempat mereka berdiri.
Cincin di jari manis Diana terasa semakin berat. Refleks ia memasukkan tangan kirinya ke dalam saku jaketnya.
Drian bingung harus mengawali semua ini dari mana. Dia, Diananya, sekarang berdiri di depannya. Diam-diam ia mencubit lengannya sendiri untuk meyakinkan diri bahwa ia sudah benar-benar bangun tidur.
"Hai," sapa Diana dengan canggung. Dulu ia pasti akan langsung menghambur memeluk laki-laki di depannya ini. Tapi lagi-lagi, cincin di jari manisnya terasa seperti borgol yang menahannya untuk tetap di tempatnya.
"Hai juga. Maaf lama," sahut Drian.
Diana tersenyum. "Berantakan," ujarnya sembari mengacak rambut Drian. Seperti yang selalu dilakukannya dulu. Diana memalingkan muka, berharap Drian tidak melihatnya berkaca-kaca.
***
"Maaf kalau rumahku kurang nyaman, tapi please, anggap saja rumahmu sendiri," ujar Drian. Diana manggut-manggut saja. Hawa sejuk Kaliurang terasa lebih bersahabat ketimbang panasnya Jakarta.
"Mau ke mana?"
"Ngantor,"
"Jam segini? Jangan bercanda!"
Drian meraup muka frustasi. Ia memang benar-benar tak pandai berbohong, apalagi di depan Diana.
"Kita jalan-jalan saja Drian. Tapi tunggu sebentar, aku mandi dulu," usul Diana. Drian mengangguk saja, pasrah.
***
Sepanjang jalan Diana banyak bercerita, dengan Drian yang menyimak dengan khidmat.
Diana bekerja di perusahaan farmasi ternama di Jakarta, sementara Drian tetap di Jogja melanjutkan karirnya di bidang perhotelan.
Matahari sudah semakin condong ke barat. Seharian ini mereka berdua sudah mengelilingi berbagai tempat di Jogja. Dari mampir ke kantin sekolah mereka dulu, hingga akhirnya sore ini terduduk di tepi Samudra Hindia.
"Andai Doraemon benar-benar nyata, aku akan minta mesin pembeku waktu," ujar Diana. Drian menoleh, memandangi rambut Diana yang kemilau terkena cahaya senja. "Kenapa?" tanya Drian.
"Karena aku mau terus begini, ada di sini denganmu. Sudah lama sekali aku tidak merasa damai begini," sahut Diana
"Diana, apa yang kamu cari di sini?" tanya Drian tiba-tiba. Ia bukan tak melihat kilau cincin perak di jari Diana. Setengah mati ia menahan diri untuk tidak membahasnya, tapi pernyataan Diana barusan semakin membuatnya kacau.
"Keputusan," sahut Diana mantap.
"Atas?"
"Drian, dengar, bukan tidak ada artinya cincin ini ada di jari manisku. Seminggu yang lalu Marcell datang melamarku,"
"Dan kamu menerimanya. Tidak perlu kamu jelaskan juga aku tahu, Diana," potong Marcell pahit. "Apa yang kamu cari di sini?" ulang Drian.
"Jawab dengan jujur Drian, maukah kamu, suatu hari nanti menyematkan cincin di jariku?"
Di luar dugaan, Drian tertawa. Bahkan Drian pun tak mengerti mengapa ia justru tertawa mendengar pertanyaan Diana.
"Kembalilah ke Jakarta dan kirimkan undangan pernikahanmu secepatnya. Aku janji akan datang, hahaha," sahut Drian. Sakit sekali rasanya. Ia tahu tiap kata-katanya adalah kebohongan yang mengoyak hatinya sendiri. Tapi ia sudah kalah, ia tahu ia tidak akan bisa merengkuh Diananya kembali. Dengan dongkol ia merutuki dirinya sendiri. Bahkan setelah bertahun-tahun ia tak kunjung mampu mengungkapkan betapa sayang ia pada gadis di depannya ini.
Diana ikut tertawa sampai menangis. Atau ia menangis di dalam tawanya. Entahlah, ia juga tak peduli. Keyakinannya atas Drian ternyata salah. Apa yang ia angankan dari perjalanan ratusan kilometer ini tidak pernah tercapai.
"Baiklah Drian, ayo kita pulang. Aku akan pulang malam ini juga," ujar Diana masih dengan isak di sela tawanya.
***
"Halo,"
"Hai, syukurlah akhirnya kamu mengangkat teleponku. Ke mana saja kamu ini? Aku sudah siap menelepon polisi kalau kamu tidak juga menghubungiku hari ini,". Diana menarik nafas panjang.
"Jemput aku di bandara malam ini,"
Telepon pun ditutup. Diana memandangi cincinnya sekali lagi dan menangis tanpa henti. Ia akan menikah dengan Marcell.
Langit Jogja mendung malam ini.
Sabtu, 23 Agustus 2014
Gemilangnya Gemintang #5
Kubentangkan foto berukuran poster ini.
Dua orang berpose berlatarkan senja di bibir samudra.
Laki-laki dan perempuan.
Gemilang, dan Gemintang.
Itu foto yang kami ambil saat study tour beberapa tahun yang lalu.
Pelan-pelan aku mencerna kata-kata Gemilang.
Mengingat-ingat lagi polah tingkahnya, yang mungkin mengandung petunjuk di mana dia berada sekarang.
Rasanya seperti ada sesuatu yang bersinar di dalam kepalaku begitu aku menyadari sesuatu.
Aku tahu.
Bahkan sudah sejak lama aku tahu di mana Gemilang berada sekarang.
Aku sangat yakin tentang ini.
Bagaimana tidak, aku mengenal sudah sejak lama, menghabiskan begitu banyak waktu bersamanya.
Mana mungkin saudara tidak akan mengenali saudaranya?
Gemilang tidak pernah berbohong kepadaku, pun tentang yang satu ini.
Aku juga tahu ada alasan di balik sikapnya menyembunyikan semua ini.
Lebih dari itu, aku paham.
Makanya aku tidak akan pernah menggugatnya.
Terharu dia masih ingat padaku, masih membaginya denganku.
Gemilang akan terus gemilang.
Bersinar jauh lebih terang daripada Gemintang.
Sungguh aku tidak minta yang aneh-aneh, cukuplah aku tahu dia ada.
Silakan hilang dari dunia, tapi jangan pernah hilang dariku.
Teruslah jadi Gemilang yang kukenal.
Aku harap suatu hari nanti dia akan pulang, mengetuk pintu rumahku, kembali makan bersama keluargaku.
Aku harap suatu saat aku akan menemukan sepasang mata yang teduh dan bersinar lagi.
Mendapati bahunya. Senyumnya.
Bahkan sekarang saat menuliskan ini semua suara tawanya terngiang-ngiang jelas.
Sudah bertahun-tahun, tapi kurasa sampai kapan pun aku tidak bisa menghilangkan sayangku untuk Gemilang.
Menguranginya pun tidak.
Hidup memang bergerak, banyak hal terjadi dan berubah.
Aku tidak tahu bagaimana dengan Gemilang, yang jelas selalu ada ruang untuknya pulang.
Dua orang berpose berlatarkan senja di bibir samudra.
Laki-laki dan perempuan.
Gemilang, dan Gemintang.
Itu foto yang kami ambil saat study tour beberapa tahun yang lalu.
Pelan-pelan aku mencerna kata-kata Gemilang.
Mengingat-ingat lagi polah tingkahnya, yang mungkin mengandung petunjuk di mana dia berada sekarang.
Rasanya seperti ada sesuatu yang bersinar di dalam kepalaku begitu aku menyadari sesuatu.
Aku tahu.
Bahkan sudah sejak lama aku tahu di mana Gemilang berada sekarang.
Aku sangat yakin tentang ini.
Bagaimana tidak, aku mengenal sudah sejak lama, menghabiskan begitu banyak waktu bersamanya.
Mana mungkin saudara tidak akan mengenali saudaranya?
Gemilang tidak pernah berbohong kepadaku, pun tentang yang satu ini.
Aku juga tahu ada alasan di balik sikapnya menyembunyikan semua ini.
Lebih dari itu, aku paham.
Makanya aku tidak akan pernah menggugatnya.
Terharu dia masih ingat padaku, masih membaginya denganku.
Gemilang akan terus gemilang.
Bersinar jauh lebih terang daripada Gemintang.
Sungguh aku tidak minta yang aneh-aneh, cukuplah aku tahu dia ada.
Silakan hilang dari dunia, tapi jangan pernah hilang dariku.
Teruslah jadi Gemilang yang kukenal.
Aku harap suatu hari nanti dia akan pulang, mengetuk pintu rumahku, kembali makan bersama keluargaku.
Aku harap suatu saat aku akan menemukan sepasang mata yang teduh dan bersinar lagi.
Mendapati bahunya. Senyumnya.
Bahkan sekarang saat menuliskan ini semua suara tawanya terngiang-ngiang jelas.
Sudah bertahun-tahun, tapi kurasa sampai kapan pun aku tidak bisa menghilangkan sayangku untuk Gemilang.
Menguranginya pun tidak.
Hidup memang bergerak, banyak hal terjadi dan berubah.
Aku tidak tahu bagaimana dengan Gemilang, yang jelas selalu ada ruang untuknya pulang.
Yogya, 2014.
Untuk Gemilang yang Gemintang sayang.
Gemilangnya Gemintang #4
Amrita.
Itu nama kekasih Gemilang.
Sejak Gemilang punya pacar, sedikit banyak hubungan kami berubah.
Gemilang tetaplah seorang kakak yang menyayangi adiknya, masih berbagi cerita kepada adiknya.
Tapi aku juga cukup tahu diri.
Nggak mungkin aku masih mendominasi keberadaan Gemilang.
Kubilang padanya agar tidak sering-sering main dan tidur di rumah, nggak enak sama Amrita.
Kami berdua toh sebenarnya tidak benar-benar bersaudara.
Aku hanya takut terjadi salah paham.
Perasaan?
Kalau ditanya perasaan, sejujurnya aku mau Amrita nggak usah ada.
Tapi kan Gemilang menginginkan Amrita ada, dan sejauh ini dia terlihat baik-baik saja, bahagia.
Jadi, apa sih kebahagiaan yang lebih besar daripada melihat orang yang kita sayangi bahagia?
Awalnya, Gemilang masih sering menghubungiku, via sms, telepon, dan sebagainya.
Biasanya setiap malam.
Kemudian menjadi dua hari sekali.
Lalu seminggu sekali.
Tidak pernah kutanyakan pada Gemilang mengapa jadi begitu.
Dia masih menghubungiku saja aku sudah sangat bersyukur.
Saat kelulusan.
Aku tidak heran Gemilang tidak datang ke pelepasanku.
Gemilang memang tidak kuberitahu, dan dia juga tidak bertanya.
Aku melanjutkan studi ke salah satu universitas negeri, sesuai dengan yang pernah kuceritakan pada Gemilang saat suatu siang dia tiba-tiba datang ke sekolahku.
Tapi aku tidak tahu Gemilang melanjutkan ke mana.
Sampai suatu hari pintu rumahku diketuk.
Amrita berdiri di sana membawa bungkusan entah apa.
"Gemilang menitipkan ini padaku untuk diberikan padamu," ujarnya.
Aku menatap bungkusan itu dengan heran.
"Mengapa bukan dia sendiri yang mengantarkannya kemari?"
Amrita menggeleng. "Gemilang tidak bisa," sahutnya.
"Mengapa tidak bisa?"
"Gemilang sudah pergi, Gemintang,"
Pergi? Ke mana? Kenapa dia tidak bilang dulu padaku? Lalu apa urusannya aku dengan bungkusan yang di bawa Amrita?
Begitu pertanyaan itu bertubi-tubi kulontarkan pada Amrita, jawabannya hanya satu kalimat singkat "Aku tidak tahu,"
"Kamu.. masih kekasih Gemilang bukan?"
Amrita lagi-lagi hanya menggeleng. "Tidak Gemintang, bahkan tidak pernah. Aku tahu setelah bertahun-tahun dia hanya memiliki satu kekasih sepanjang hidupnya. Dan itu bukan aku, tidak pernah aku. Permisi,"
Amrita kemudian berlalu, meninggalkan aku terbengong-bengong memegangi bungkusan yang dibawa Amrita dengan gemetar.
Itu nama kekasih Gemilang.
Sejak Gemilang punya pacar, sedikit banyak hubungan kami berubah.
Gemilang tetaplah seorang kakak yang menyayangi adiknya, masih berbagi cerita kepada adiknya.
Tapi aku juga cukup tahu diri.
Nggak mungkin aku masih mendominasi keberadaan Gemilang.
Kubilang padanya agar tidak sering-sering main dan tidur di rumah, nggak enak sama Amrita.
Kami berdua toh sebenarnya tidak benar-benar bersaudara.
Aku hanya takut terjadi salah paham.
Perasaan?
Kalau ditanya perasaan, sejujurnya aku mau Amrita nggak usah ada.
Tapi kan Gemilang menginginkan Amrita ada, dan sejauh ini dia terlihat baik-baik saja, bahagia.
Jadi, apa sih kebahagiaan yang lebih besar daripada melihat orang yang kita sayangi bahagia?
Awalnya, Gemilang masih sering menghubungiku, via sms, telepon, dan sebagainya.
Biasanya setiap malam.
Kemudian menjadi dua hari sekali.
Lalu seminggu sekali.
Tidak pernah kutanyakan pada Gemilang mengapa jadi begitu.
Dia masih menghubungiku saja aku sudah sangat bersyukur.
Saat kelulusan.
Aku tidak heran Gemilang tidak datang ke pelepasanku.
Gemilang memang tidak kuberitahu, dan dia juga tidak bertanya.
Aku melanjutkan studi ke salah satu universitas negeri, sesuai dengan yang pernah kuceritakan pada Gemilang saat suatu siang dia tiba-tiba datang ke sekolahku.
Tapi aku tidak tahu Gemilang melanjutkan ke mana.
Sampai suatu hari pintu rumahku diketuk.
Amrita berdiri di sana membawa bungkusan entah apa.
"Gemilang menitipkan ini padaku untuk diberikan padamu," ujarnya.
Aku menatap bungkusan itu dengan heran.
"Mengapa bukan dia sendiri yang mengantarkannya kemari?"
Amrita menggeleng. "Gemilang tidak bisa," sahutnya.
"Mengapa tidak bisa?"
"Gemilang sudah pergi, Gemintang,"
Pergi? Ke mana? Kenapa dia tidak bilang dulu padaku? Lalu apa urusannya aku dengan bungkusan yang di bawa Amrita?
Begitu pertanyaan itu bertubi-tubi kulontarkan pada Amrita, jawabannya hanya satu kalimat singkat "Aku tidak tahu,"
"Kamu.. masih kekasih Gemilang bukan?"
Amrita lagi-lagi hanya menggeleng. "Tidak Gemintang, bahkan tidak pernah. Aku tahu setelah bertahun-tahun dia hanya memiliki satu kekasih sepanjang hidupnya. Dan itu bukan aku, tidak pernah aku. Permisi,"
Amrita kemudian berlalu, meninggalkan aku terbengong-bengong memegangi bungkusan yang dibawa Amrita dengan gemetar.
Gemilangnya Gemintang #3
Lulus dari sekolah menengah pertama, aku dan Gemilang melanjutkan di SMA yang berbeda.
Tapi persahabatan kami masih tetap berjalan seperti biasanya.
Gemilang masih selalu menceritakan banyak hal padaku.
Sekarang beberapa nama anak perempuan sudah masuk dalam ceritanya.
Aku tertawa saja mendengarkan, tapi sejujurnya ada sesuatu yang mengaduk-aduk perutku tiap kali ada nama perempuan disebutkan Gemilang dalam ceritanya.
Kadang kami jalan-jalan, entah hanya berdua atau ramai-ramai dengan teman sekolah yang lain.
Lebih sering hanya berdua.
Ke mall, bioskop, pantai, naik gunung, atau hanya sekedar duduk-duduk minum di warung lesehan di dekat sekolah kami dulu.
Gemilang juga masih sering main ke rumahku, tidur, atau minimal numpang makan siang, hahaha.
Gemilang terlihat semakin matang di usianya yang masih belasan.
Pertumbuhan badannya yang kelihatan paling mencolok. Tubuhnya semakin berisi dan atletis.
Benar saja kalau semakin banyak anak perempuan yang tertarik kepadanya.
Tiap kali memasuki bulan Maret, aku selalu memutar otak mencari kado apa lagi yang akan kuberikan untuk kakakku tersayang.
Bertahun-tahun Gemilang bertambah usia bersamaku. Tiap tahun aku mencoba memberikan sesuatu untuknya. Begitu pula sebaliknya.
Di ulang tahunnya yang ke-14, dia meneleponku sesenggukan.
Terang saja aku bingung, seharian bersamaku dia terlihat baik-baik saja, mengapa sore ini dia menangis seperti itu.
"Kamu jangan ngasih tulisan kayak begini lagi ke aku dong, malu tahu sampai nangis begini cuma gara-gara baca tulisanmu," ujarnya di telepon. Kontan saja aku tertawa sekaligus menghembuskan nafas lega. Kukira dia kenapa.
Seperti juga hari itu, ulang tahunnya ke-16.
Pagi-pagi aku sudah menggedor pintu toko roti untuk mengambil pesananku, taart mungil berwarna biru bertuliskan namanya beserta lilin ulang tahunnya.
Aku sudah menyusun permainan untuk Gemilang. Dia harus menyelesaikan permainan itu untuk menemukanku dan mengambil kue taartnya.
Lokasinya di taman bermain yang sering kami kunjungi sejak kecil.
Aku sudah tersenyum senang membayangkan Gemilang yang harus kembali bermain seperti anak-anak untuk mendapatkan kuenya ketika suaranya tiba-tiba ada di belakangku.
"Jangan bercanda deh Gemintang, kamu yakin mainannya masih kuat menahan bebanku waktu kunaiki?" ujarnya. Aku tersipu. Berantakan sudah rencanaku.
"Selamat ulang tahun," kusodorkan kue taart birunya. Sekarang kami sudah ada di pinggir pantai, menghadap ke gelombang-gelombang kecil Laut Jawa. Gemilang dengan senang hati mengambil kuenya dari tanganku.
Dikecupnya puncak kepalaku. Rasanya saat itu aku ingin lebur saja dengan pasir pantai dibawa gelombang.
"Terima kasih adikku, sahabatku selama bertahun-tahun. Maaf ya kalau selama ini aku tidak bisa menjadi sahabat dan kakak terbaikmu," ujar Gemilang. Aku terkekeh. Kucorengkan krim ke hidungnya, pipinya. Dia membalas.
Sesorean kami saling mengejar hingga matahari seperti tenggelam ke perut samudra.
Itu adalah terakhir kali Gemilang menghabiskan hari ulang tahunnya hanya bersamaku.
Tahun selanjutnya ia habiskan dengan kekasihnya, perempuan manis teman satu kelasnya.
Iri. Tapi ya mau bagaimana lagi. Tetap kutunaikan janjiku sebagai adik sebaik-baiknya.
Bagaimana pun juga Gemilang kakakku, sahabatku, saudaraku. Aku percaya padanya.
Aku percaya dia tidak akan benar-benar pergi dariku.
Tapi persahabatan kami masih tetap berjalan seperti biasanya.
Gemilang masih selalu menceritakan banyak hal padaku.
Sekarang beberapa nama anak perempuan sudah masuk dalam ceritanya.
Aku tertawa saja mendengarkan, tapi sejujurnya ada sesuatu yang mengaduk-aduk perutku tiap kali ada nama perempuan disebutkan Gemilang dalam ceritanya.
Kadang kami jalan-jalan, entah hanya berdua atau ramai-ramai dengan teman sekolah yang lain.
Lebih sering hanya berdua.
Ke mall, bioskop, pantai, naik gunung, atau hanya sekedar duduk-duduk minum di warung lesehan di dekat sekolah kami dulu.
Gemilang juga masih sering main ke rumahku, tidur, atau minimal numpang makan siang, hahaha.
Gemilang terlihat semakin matang di usianya yang masih belasan.
Pertumbuhan badannya yang kelihatan paling mencolok. Tubuhnya semakin berisi dan atletis.
Benar saja kalau semakin banyak anak perempuan yang tertarik kepadanya.
Tiap kali memasuki bulan Maret, aku selalu memutar otak mencari kado apa lagi yang akan kuberikan untuk kakakku tersayang.
Bertahun-tahun Gemilang bertambah usia bersamaku. Tiap tahun aku mencoba memberikan sesuatu untuknya. Begitu pula sebaliknya.
Di ulang tahunnya yang ke-14, dia meneleponku sesenggukan.
Terang saja aku bingung, seharian bersamaku dia terlihat baik-baik saja, mengapa sore ini dia menangis seperti itu.
"Kamu jangan ngasih tulisan kayak begini lagi ke aku dong, malu tahu sampai nangis begini cuma gara-gara baca tulisanmu," ujarnya di telepon. Kontan saja aku tertawa sekaligus menghembuskan nafas lega. Kukira dia kenapa.
Seperti juga hari itu, ulang tahunnya ke-16.
Pagi-pagi aku sudah menggedor pintu toko roti untuk mengambil pesananku, taart mungil berwarna biru bertuliskan namanya beserta lilin ulang tahunnya.
Aku sudah menyusun permainan untuk Gemilang. Dia harus menyelesaikan permainan itu untuk menemukanku dan mengambil kue taartnya.
Lokasinya di taman bermain yang sering kami kunjungi sejak kecil.
Aku sudah tersenyum senang membayangkan Gemilang yang harus kembali bermain seperti anak-anak untuk mendapatkan kuenya ketika suaranya tiba-tiba ada di belakangku.
"Jangan bercanda deh Gemintang, kamu yakin mainannya masih kuat menahan bebanku waktu kunaiki?" ujarnya. Aku tersipu. Berantakan sudah rencanaku.
"Selamat ulang tahun," kusodorkan kue taart birunya. Sekarang kami sudah ada di pinggir pantai, menghadap ke gelombang-gelombang kecil Laut Jawa. Gemilang dengan senang hati mengambil kuenya dari tanganku.
Dikecupnya puncak kepalaku. Rasanya saat itu aku ingin lebur saja dengan pasir pantai dibawa gelombang.
"Terima kasih adikku, sahabatku selama bertahun-tahun. Maaf ya kalau selama ini aku tidak bisa menjadi sahabat dan kakak terbaikmu," ujar Gemilang. Aku terkekeh. Kucorengkan krim ke hidungnya, pipinya. Dia membalas.
Sesorean kami saling mengejar hingga matahari seperti tenggelam ke perut samudra.
Itu adalah terakhir kali Gemilang menghabiskan hari ulang tahunnya hanya bersamaku.
Tahun selanjutnya ia habiskan dengan kekasihnya, perempuan manis teman satu kelasnya.
Iri. Tapi ya mau bagaimana lagi. Tetap kutunaikan janjiku sebagai adik sebaik-baiknya.
Bagaimana pun juga Gemilang kakakku, sahabatku, saudaraku. Aku percaya padanya.
Aku percaya dia tidak akan benar-benar pergi dariku.
Gemilangnya Gemintang #2
Di tengah begitu banyak perhatian yang diterima Gemilang, rasanya aku harus sangat bersyukur Gemilang masih menganggap aku kawannya.
Dia tetap menceritakan banyak hal padaku.
Hal-hal yang kadang orang lain tidak tahu dan tidak boleh tahu.
Tumbuh bersama Gemilang begitu ringan.
Rumah kami tidak berdekatan, tapi kami sering pulang bersama.
Gemilang sudah biasa pulang ke rumahku, mengerjakan PR, lalu makan siang bersama keluargaku.
Dia sudah dianggap anak sendiri oleh orangtuaku.
Maka aku pun sudah menganggapnya sebagai kakakku, meskipun usia kami hanya terpaut 2 bulan.
"Tuh kan, sepertinya kita memang ditakdirkan untuk bersaudara, Lang," ujarku suatu ketika. Gemilang hanya tertawa.
"Mungkin benar begitu. Gemintangnya Gemilang, Gemilangnya Gemintang," sahutnya.
"Tapi selain nama, sebenarnya kita nggak terlalu mirip," bisikku. "Kamu populer, aku nggak. Kamu pintar, aku biasa aja. Kamu cakep, aku kayak itik buruk rupa. Kamu idola, aku rakyat jelata," sambungku.
Gemilang kembali tertawa. "Makanya, jadilah anak pintar dan cantik," ujarnya. Aku memonyongkan bibir, semakin merasa minder dengannya. "Setidaknya untukku. Kamu nggak perlu kok jadi anak populer dan jadi idola semua orang. Nanti aku dicuekin kalau begitu," sambungnya sembari mencubit pipiku dengan gemas.
Aku tersenyum. Untuk kakakku yang satu ini, sebisa mungkin aku berusaha menjadi anak pintar dan tampil cantik. Begini-begini aku nggak mau juga mempermalukan kakakku sendiri.
Selayaknya hubungan pertemanan, aku dan Gemilang tak selamanya sepaham. Malah kami lebih sering bertengkar, adu mulut.
Gemilang bilang aku yang terlalu sensitif, hal kecil saja bisa membuatku mutung padanya.
Sebaliknya, menurutku Gemilang terlalu emosional, nggak sabaran.
Tapi toh tetap saja kami berdua akan baikan lagi tak lama kemudian.
Semarah-marahnya kami berdua nggak pernah sampai serius.
Kurasa karena kami saling membutuhkan.
Aku perlu Gemilang sebagai bahu, pelindung, nyaris segalanya. Gemilang membutuhkanku sebagai partner berbagi cerita.
Aku pernah bertanya padanya, di antara begitu banyak perempuan yang mengaguminya kenapa tak ia pilih satu untuk jadi kekasihnya.
"Hush, ngomong apa kamu ini. Nggak lah, nggak ada yang cocok," jawabnya.
"Kamu tahu cocok atau enggak dari mana Lang? Kamu saja tidak pernah menanggapi mereka," tukasku.
"Yah ngapain juga sih begitu ditanggapin? Aku nggak perlu punya pacar sekarang. Aku sudah punya sahabat, adik seperti kamu. Apa lagi yang aku perlukan selain kamu?"
Kurasa mukaku sudah semerah air sumba yang kami aduk-aduk dari tadi.
"Tetaplah jadi adik kesayanganku, apapun yang terjadi, oke?" imbuhnya. Aku mengangguk patuh.
Memangnya apa yang akan terjadi?
Dia tetap menceritakan banyak hal padaku.
Hal-hal yang kadang orang lain tidak tahu dan tidak boleh tahu.
Tumbuh bersama Gemilang begitu ringan.
Rumah kami tidak berdekatan, tapi kami sering pulang bersama.
Gemilang sudah biasa pulang ke rumahku, mengerjakan PR, lalu makan siang bersama keluargaku.
Dia sudah dianggap anak sendiri oleh orangtuaku.
Maka aku pun sudah menganggapnya sebagai kakakku, meskipun usia kami hanya terpaut 2 bulan.
"Tuh kan, sepertinya kita memang ditakdirkan untuk bersaudara, Lang," ujarku suatu ketika. Gemilang hanya tertawa.
"Mungkin benar begitu. Gemintangnya Gemilang, Gemilangnya Gemintang," sahutnya.
"Tapi selain nama, sebenarnya kita nggak terlalu mirip," bisikku. "Kamu populer, aku nggak. Kamu pintar, aku biasa aja. Kamu cakep, aku kayak itik buruk rupa. Kamu idola, aku rakyat jelata," sambungku.
Gemilang kembali tertawa. "Makanya, jadilah anak pintar dan cantik," ujarnya. Aku memonyongkan bibir, semakin merasa minder dengannya. "Setidaknya untukku. Kamu nggak perlu kok jadi anak populer dan jadi idola semua orang. Nanti aku dicuekin kalau begitu," sambungnya sembari mencubit pipiku dengan gemas.
Aku tersenyum. Untuk kakakku yang satu ini, sebisa mungkin aku berusaha menjadi anak pintar dan tampil cantik. Begini-begini aku nggak mau juga mempermalukan kakakku sendiri.
Selayaknya hubungan pertemanan, aku dan Gemilang tak selamanya sepaham. Malah kami lebih sering bertengkar, adu mulut.
Gemilang bilang aku yang terlalu sensitif, hal kecil saja bisa membuatku mutung padanya.
Sebaliknya, menurutku Gemilang terlalu emosional, nggak sabaran.
Tapi toh tetap saja kami berdua akan baikan lagi tak lama kemudian.
Semarah-marahnya kami berdua nggak pernah sampai serius.
Kurasa karena kami saling membutuhkan.
Aku perlu Gemilang sebagai bahu, pelindung, nyaris segalanya. Gemilang membutuhkanku sebagai partner berbagi cerita.
Aku pernah bertanya padanya, di antara begitu banyak perempuan yang mengaguminya kenapa tak ia pilih satu untuk jadi kekasihnya.
"Hush, ngomong apa kamu ini. Nggak lah, nggak ada yang cocok," jawabnya.
"Kamu tahu cocok atau enggak dari mana Lang? Kamu saja tidak pernah menanggapi mereka," tukasku.
"Yah ngapain juga sih begitu ditanggapin? Aku nggak perlu punya pacar sekarang. Aku sudah punya sahabat, adik seperti kamu. Apa lagi yang aku perlukan selain kamu?"
Kurasa mukaku sudah semerah air sumba yang kami aduk-aduk dari tadi.
"Tetaplah jadi adik kesayanganku, apapun yang terjadi, oke?" imbuhnya. Aku mengangguk patuh.
Memangnya apa yang akan terjadi?
Gemilangnya Gemintang #1
I always believe that a bestfriend will always be a bestfriend.
Time's changing.
Peoples change.
But I still don't know, berapa banyak bagian dari kita yang berubah.
Missing that eyes, that smile.
I've tried to write it in many ways, but I still can't describe it well.
Hehehe.
Gemilang.
Nama yang aku suka, hihi.
Kurasa sesuai dengan yang menyandangnya.
Karena Gemilang berarti selalu bersinar, tanpa cela.
Tahun ajaran baru, semua anak terlihat bersemangat melangkahkan kaki ke sekolah barunya.
Ke kelas barunya. Bertemu teman-teman baru.
Guru-guru baru.
Menyandang tas baru, sepatu baru, seragam baru.
Semua serba baru.
Sama halnya denganku.
Bocah ingusan yang baru kemarin lulus SD, hari ini untuk pertama kalinya memakai seragam putih-biru.
Terlongok-longok berjalan menyusuri koridor, menekuri nama-nama yang tertempel di tiap pintu kelas.
Kelasku di ujung koridor.
Riuh rendah suasana kelas yang serba baru.
Senang rasanya berjabat tangan dengan nama orang dan menyebutkan nama.
"Gemintang," ujarku dengan riang.
Seperti lazimnya, murid-murid baru harus menjalani Masa Orientasi.
Mengitari sekolah, berkenalan dengan anak-anak kelas lain, kakak kelas, guru, dan karyawan.
Satu yang paling aku ingat dari masa orientasi ini, ketika aku berjabat tangan dengan bocah laki-laki berpipi tembam, berkulit gelap.
"Gemintang," ujarku.
"Gemilang," sahutnya.
Kami berdua sama-sama cekikikan begitu tahu nama masing-masing.
Entah apa yang dia tertawakan, tapi menurutku nama kami terdengar seperti saudara kembar.
Tak lama kami pun berpisah, melanjutkan perjalanan untuk berkenalan dengan banyak orang lain lagi.
"Gemintang!" sapa seseorang di belakangku.
"Gemilang!" seruku.
"Daftar juga?"
"Iya,"
"Baguslah, kita akan sering bertemu," ujar Gemilang. Mau tak mau aku tersenyum. Sepertinya menyenangkan memiliki teman seperti Gemilang.
Kami berdua pun resmi terdaftar sebagai anggota klub Olimpiade sekolah.
Aku Biologi, Gemilang Matematika.
Itu awal jumpaku dengan Gemilang, bocah berpipi tembam yang sangat menyenangkan.
Sejak saat itu, kami berdua benar-benar menjadi sering bertemu.
Tidak hanya di klub Olimpiade, tetapi juga dalam kegiatan Pramuka, OSIS, dan sebagainya.
Aku dan Gemilang tumbuh bersama-sama selama bertahun-tahun.
Aku menyaksikan sendiri transformasi seorang bocah tembam berkulit gelap ini menjadi laki-laki yang diidolakan banyak perempuan.
Selalu saja aku tertawa kalau ingat. Bagiku, Gemilang tetap Gemilang yang kutemui di hari-hari awal masuk sekolah ini.
Memang, pipi tembam itu sudah berubah menjadi tirus, mempertegas bentuk wajahnya. Hidung Gemilang lancip, potongan wajahnya tajam, berwibawa. Bibirnya penuh, dan bila Gemilang tersenyum akan tampak geliginya yang putih dan berderet rapi. Ada kumis tipis yang mulai muncul di atas bibirnya.
Badannya yang dulu bulat, sekarang menjulang dengan otot-otot yang padat berisi.
Rambutnya hitam legam dipotong pendek, jabrik. Alis yang menaungi matanya juga hitam dan lebat memberi kesan teduh. Bulu matanya lentik.
Hanya satu bagian tubuhnya yang kurasa tetap sama. Matanya. Mata yang bersinar, khas kanak-kanak. Aku suka mata itu.
Gemilang tidak hanya menarik secara fisik, dia juga pintar. Beberapa kali juara Matematika dari Kabupaten hingga Nasional. Namanya tak pernah absen dari deretan tiga besar terbaik di kelasnya.
Kemampuan non-akademisnya juga bagus. Dia dipercaya menjabat Wakil Ketua OSIS di sekolah.
Dengan tampilan sedemikian rupa, wajar saja bila teman-teman perempuan banyak yang mengidolakannya, diam-diam hingga terang-terangan.
Setiap pagi kami berdua akan menemukan setumpuk surat cinta di loker Gemilang. Setiap itu pula aku terbahak-bahak.
Time's changing.
Peoples change.
But I still don't know, berapa banyak bagian dari kita yang berubah.
Missing that eyes, that smile.
I've tried to write it in many ways, but I still can't describe it well.
Hehehe.
Gemilang.
Nama yang aku suka, hihi.
Kurasa sesuai dengan yang menyandangnya.
Karena Gemilang berarti selalu bersinar, tanpa cela.
Tahun ajaran baru, semua anak terlihat bersemangat melangkahkan kaki ke sekolah barunya.
Ke kelas barunya. Bertemu teman-teman baru.
Guru-guru baru.
Menyandang tas baru, sepatu baru, seragam baru.
Semua serba baru.
Sama halnya denganku.
Bocah ingusan yang baru kemarin lulus SD, hari ini untuk pertama kalinya memakai seragam putih-biru.
Terlongok-longok berjalan menyusuri koridor, menekuri nama-nama yang tertempel di tiap pintu kelas.
Kelasku di ujung koridor.
Riuh rendah suasana kelas yang serba baru.
Senang rasanya berjabat tangan dengan nama orang dan menyebutkan nama.
"Gemintang," ujarku dengan riang.
Seperti lazimnya, murid-murid baru harus menjalani Masa Orientasi.
Mengitari sekolah, berkenalan dengan anak-anak kelas lain, kakak kelas, guru, dan karyawan.
Satu yang paling aku ingat dari masa orientasi ini, ketika aku berjabat tangan dengan bocah laki-laki berpipi tembam, berkulit gelap.
"Gemintang," ujarku.
"Gemilang," sahutnya.
Kami berdua sama-sama cekikikan begitu tahu nama masing-masing.
Entah apa yang dia tertawakan, tapi menurutku nama kami terdengar seperti saudara kembar.
Tak lama kami pun berpisah, melanjutkan perjalanan untuk berkenalan dengan banyak orang lain lagi.
"Gemintang!" sapa seseorang di belakangku.
"Gemilang!" seruku.
"Daftar juga?"
"Iya,"
"Baguslah, kita akan sering bertemu," ujar Gemilang. Mau tak mau aku tersenyum. Sepertinya menyenangkan memiliki teman seperti Gemilang.
Kami berdua pun resmi terdaftar sebagai anggota klub Olimpiade sekolah.
Aku Biologi, Gemilang Matematika.
Itu awal jumpaku dengan Gemilang, bocah berpipi tembam yang sangat menyenangkan.
Sejak saat itu, kami berdua benar-benar menjadi sering bertemu.
Tidak hanya di klub Olimpiade, tetapi juga dalam kegiatan Pramuka, OSIS, dan sebagainya.
Aku dan Gemilang tumbuh bersama-sama selama bertahun-tahun.
Aku menyaksikan sendiri transformasi seorang bocah tembam berkulit gelap ini menjadi laki-laki yang diidolakan banyak perempuan.
Selalu saja aku tertawa kalau ingat. Bagiku, Gemilang tetap Gemilang yang kutemui di hari-hari awal masuk sekolah ini.
Memang, pipi tembam itu sudah berubah menjadi tirus, mempertegas bentuk wajahnya. Hidung Gemilang lancip, potongan wajahnya tajam, berwibawa. Bibirnya penuh, dan bila Gemilang tersenyum akan tampak geliginya yang putih dan berderet rapi. Ada kumis tipis yang mulai muncul di atas bibirnya.
Badannya yang dulu bulat, sekarang menjulang dengan otot-otot yang padat berisi.
Rambutnya hitam legam dipotong pendek, jabrik. Alis yang menaungi matanya juga hitam dan lebat memberi kesan teduh. Bulu matanya lentik.
Hanya satu bagian tubuhnya yang kurasa tetap sama. Matanya. Mata yang bersinar, khas kanak-kanak. Aku suka mata itu.
Gemilang tidak hanya menarik secara fisik, dia juga pintar. Beberapa kali juara Matematika dari Kabupaten hingga Nasional. Namanya tak pernah absen dari deretan tiga besar terbaik di kelasnya.
Kemampuan non-akademisnya juga bagus. Dia dipercaya menjabat Wakil Ketua OSIS di sekolah.
Dengan tampilan sedemikian rupa, wajar saja bila teman-teman perempuan banyak yang mengidolakannya, diam-diam hingga terang-terangan.
Setiap pagi kami berdua akan menemukan setumpuk surat cinta di loker Gemilang. Setiap itu pula aku terbahak-bahak.
Selasa, 29 Juli 2014
Maka Selayaknya Kita Bersyukur
Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar.....
Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil - hamd.
Segala puji bagi Allah, Tuhanku, Tuhan seru sekalian alam.
Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar.....
Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil - hamd.
Gebyar kembang api menerangi sepanjang jalan.
Berderet-deret lampu kendaraan memenuhi jalanan.
Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar.....
Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil - hamd.
Seru sukacita dikumandangkan.
Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar.....
Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil - hamd.
Nun jauh di belahan bumi, bukan suara kembang api yang terdengar.
Bukan pula gebyarnya yang membelah langit malam.
Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar.....
Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil - hamd.
Segala puji bagiMu Allah, Tuhanku, Tuhan seru sekalian alam.
Bersipongang dalam lengang yang mencekam.
Maafkan kami duhai Sang Maha Welas Asih.
Takbir kami kalah dengan geram meriam, letupan syukur kami kalah dengan ledakan bom dan misil.
Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar.....
Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil - hamd.
Sembah sujud kami padaMu Sang Maha Perkasa.
Tangan-tangan kami, tubuh-tubuh kami tidak lagi berdaya mempertahankan rumahMu untuk tetap tegak di hari yang suci ini.
Ampuni kami wahai Engkau Yang Maha Mengetahui
Bahwa di dalam hati kami tidak sepenuhnya sukacita, malah lebih banyak duka di hari ini.
Bahwa hari ini, di dalam hati kami terselip ketakutan di luar syukur kami padaMu.
Maka lihatlah Allah, Tuhanku, dengan gagah berani kami songsong kematian
Lebur dalam sujud, syukur, takbir, dan tasbih.
Dengar seruan kami Tuhanku!
Sesungguhnya kami percaya Engkau begitu dekat.
Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar.....
Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil - hamd.
Di belahan bumi yang lain, bukan berderet-deret kendaraan yang mengantre,
melainkan berderet mayat bocah-bocah yang berserak, yang mati kelaparan.
Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar.....
Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil - hamd.
Sembah sujud kami padaMu Sang Maha Pemberi Rahmat
Di tanah tandus, gersang ini telah Engkau berikan nikmat Fitrah.
Setelah kami diwajibkan sebulan berpuasa.
Wahai Engkau Yang Maha dari Segala Maha,
sesungguhnya tanpa turun perintahMu pun kami tiap hari berpuasa, mengikat perut kami menahan lapar dan dahaga, melihat anak-anak kami yang menyerah berjuang dan akhirnya tinggal tulang berserak di tanah.
Hampir setiap hari.
Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar.....
Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil - hamd.
Betapa beruntung saudara-saudara kami yang menikmati malam Fitri ini.
Betapa bahagia saudara-saudara kami yang dengan tenang mengumandangkan takbir dan bersujud kepadaMu
Betapa menyenangkan melihat senyum kanak-kanak yang membawa permen dan berlarian di halaman.
Betapa teduh menyaksikan anak-anak yang menciumi tangan orangtuanya
Betapa nikmat orang-orang yang diberikan kesempatan berkumpul dengan keluarganya dalam keadaan sehat.
Sementara kami bergumul dengan bencana, kelaparan, roket, tank, misil, bom, senapan, dan maut yang siap menjemput kami kapan saja.
Sementara kami bersujud di reruntuhan masjid, di bawah todongan senjata
Sementara kami meratapi jenazah anak-anak kami, handai taulan kami, di balik puing-puing rumah kami yang masih tersisa
Tidak ada permen untuk anak-anak kami.
Tidak ada kembang apai di langit kota kami.
Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar.....
Betapa bahagia saudara-saudara kami yang dengan tenang mengumandangkan takbir dan bersujud kepadaMu
Betapa menyenangkan melihat senyum kanak-kanak yang membawa permen dan berlarian di halaman.
Betapa teduh menyaksikan anak-anak yang menciumi tangan orangtuanya
Betapa nikmat orang-orang yang diberikan kesempatan berkumpul dengan keluarganya dalam keadaan sehat.
Sementara kami bergumul dengan bencana, kelaparan, roket, tank, misil, bom, senapan, dan maut yang siap menjemput kami kapan saja.
Sementara kami bersujud di reruntuhan masjid, di bawah todongan senjata
Sementara kami meratapi jenazah anak-anak kami, handai taulan kami, di balik puing-puing rumah kami yang masih tersisa
Tidak ada permen untuk anak-anak kami.
Tidak ada kembang apai di langit kota kami.
Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar.....
Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil - hamd.
Surakarta, 28 Juli 2014
Langganan:
Postingan (Atom)

