Dia nggak sempurna.
Bukan orang kaya, bukan orang paling cantik, bahkan bukan orang paling
baik sedunia.
Bukan orang paling pinter, bukan orang paling super.
Tapi kami sayang dia.
Dia,
Yang kokoh punggungnya, yang lapang dadanya, yang kuat lengannya.
Yang keras hatinya, yang tangguh jiwanya.
Yang tajam matanya, yang peka telinganya.
Yang lembut hatinya, yang terjaga kata-kata dan perilakunya.
Dia,
yang memilih terikat menjadi abdi, menjadi panutan, menjadi tameng,
saat dia punya pilihan berbahagia, merdeka dengan hidupnya.
Yang memilih menukar perhiasannya dengan susu dan popok kami.
Yang menolak makan sebelum kami semua kenyang.
Yang rela tidur di ranjang lapuk asal kami tidur nyenyak di kasur
empuk.
Yang bekerja menempuh puluhan kilometer agar kami tetap bisa sekolah.
Yang memilih membanjiri kami dengan buku alih-alih mengoleksi pakaian
dan sepatu.
Dia,
Yang tak jarang kami sakiti hatinya, kami lukai perasaannya, kami
korbankan egonya.
Yang diam-diam menangis dalam sholatnya, tetap menyebut nama kami dalam
doanya meski kami sering lalai atas kewajiban kami terhadapnya.
Dia,
Yang tidak pernah menuntut apa pun dari kami.
Yang membebaskan kami.
Yang memanusiakan kami.
Yang tidak pernah kehilangan cara mengasah akal budi kami.
Yang menanamkan mimpi-mimpi dalam hati kami.
Yang tidak pernah lelah menempa kami.
Yang menjadi pelita kami, penunjuk arah kami.
Dia,
Yang memanjakan kami bukan dengan harta,
bukan dengan pemenuhan semua keinginan,
Tidak akan ada yang kami dapat dengan kemalasan tanpa kerja keras.
bukan dengan elusan ketika kami luka,
Tidak ada tempat di dunia untuk orang yang lemah.
bukan dengan pelukan ketika kami menangis,
Tidak akan selesai masalah dengan air mata.
bukan dengan toleransi ketika kami salah,
Tidak ada pilihan kecuali bertanggung jawab atas setiap perbuatan.
bukan dengan uluran tangan ketika kami jatuh,
Tidak akan kemana-mana orang yang hanya bisa mengandalkan bantuan orang
lain.
Dia,
Yang tetap berlari di depan kami ketika kami ingin berhenti.
Dulu kami benci, tapi sekarang kami tahu itu agar kami tidak pernah
berhenti mengejar tujuan kami.
Yang tetap melemparkan bola voli ke tangan kami, meminta kami mencoba
memukulnya berkali-kali lagi.
Dulu kami benci, tapi sekarang kami tahu itu agar kami benar-benar
mengeluarkan kemampuan terbaik kami dalam berbagai kondisi.
Yang tetap menghukum kami berdiri seharian ketika kami sudah mengakui
kesalahan kami.
Dulu kami benci, tapi sekarang kami mengerti, kami haruslah jadi ksatria
yang berani mengakui kesalahan dan menanggung konsekuensinya.
Selamat Hari Ibu, Ibuk yang kami sayang, yang kami banggakan.
Terima kasih untuk setiap perjuangan, setiap tetes keringat, setiap air
mata.
Kami sayang Ibuk :*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar