Sabtu, 23 Agustus 2014

Gemilangnya Gemintang #3

Lulus dari sekolah menengah pertama, aku dan Gemilang melanjutkan di SMA yang berbeda.
Tapi persahabatan kami masih tetap berjalan seperti biasanya.
Gemilang masih selalu menceritakan banyak hal padaku.
Sekarang beberapa nama anak perempuan sudah masuk dalam ceritanya.
Aku tertawa saja mendengarkan, tapi sejujurnya ada sesuatu yang mengaduk-aduk perutku tiap kali ada nama perempuan disebutkan Gemilang dalam ceritanya.

Kadang kami jalan-jalan, entah hanya berdua atau ramai-ramai dengan teman sekolah yang lain.
Lebih sering hanya berdua.
Ke mall, bioskop, pantai, naik gunung, atau hanya sekedar duduk-duduk minum di warung lesehan di dekat sekolah kami dulu.
Gemilang juga masih sering main ke rumahku, tidur, atau minimal numpang makan siang, hahaha.

Gemilang terlihat semakin matang di usianya yang masih belasan.
Pertumbuhan badannya yang kelihatan paling mencolok. Tubuhnya semakin berisi dan atletis.
Benar saja kalau semakin banyak anak perempuan yang tertarik kepadanya.

Tiap kali memasuki bulan Maret, aku selalu memutar otak mencari kado apa lagi yang akan kuberikan untuk kakakku tersayang.
Bertahun-tahun Gemilang bertambah usia bersamaku. Tiap tahun aku mencoba memberikan sesuatu untuknya. Begitu pula sebaliknya.
Di ulang tahunnya yang ke-14, dia meneleponku sesenggukan.
Terang saja aku bingung, seharian bersamaku dia terlihat baik-baik saja, mengapa sore ini dia menangis seperti itu.
"Kamu jangan ngasih tulisan kayak begini lagi ke aku dong, malu tahu sampai nangis begini cuma gara-gara baca tulisanmu," ujarnya di telepon. Kontan saja aku tertawa sekaligus menghembuskan nafas lega. Kukira dia kenapa.

Seperti juga hari itu, ulang tahunnya ke-16.
Pagi-pagi aku sudah menggedor pintu toko roti untuk mengambil pesananku, taart mungil berwarna biru bertuliskan namanya beserta lilin ulang tahunnya.
Aku sudah menyusun permainan untuk Gemilang. Dia harus menyelesaikan permainan itu untuk menemukanku dan mengambil kue taartnya.
Lokasinya di taman bermain yang sering kami kunjungi sejak kecil.
Aku sudah tersenyum senang membayangkan Gemilang yang harus kembali bermain seperti anak-anak untuk mendapatkan kuenya ketika suaranya tiba-tiba ada di belakangku.
"Jangan bercanda deh Gemintang, kamu yakin mainannya masih kuat menahan bebanku waktu kunaiki?" ujarnya. Aku tersipu. Berantakan sudah rencanaku.

"Selamat ulang tahun," kusodorkan kue taart birunya. Sekarang kami sudah ada di pinggir pantai, menghadap ke gelombang-gelombang kecil Laut Jawa. Gemilang dengan senang hati mengambil kuenya dari tanganku.
Dikecupnya puncak kepalaku. Rasanya saat itu aku ingin lebur saja dengan pasir pantai dibawa gelombang.
"Terima kasih adikku, sahabatku selama bertahun-tahun. Maaf ya kalau selama ini aku tidak bisa menjadi sahabat dan kakak terbaikmu," ujar Gemilang. Aku terkekeh. Kucorengkan krim ke hidungnya, pipinya. Dia membalas.
Sesorean kami saling mengejar hingga matahari seperti tenggelam ke perut samudra.

Itu adalah terakhir kali Gemilang menghabiskan hari ulang tahunnya hanya bersamaku.
Tahun selanjutnya ia habiskan dengan kekasihnya, perempuan manis teman satu kelasnya.
Iri. Tapi ya mau bagaimana lagi. Tetap kutunaikan janjiku sebagai adik sebaik-baiknya.
Bagaimana pun juga Gemilang kakakku, sahabatku, saudaraku. Aku percaya padanya.
Aku percaya dia tidak akan benar-benar pergi dariku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar