Maukah kalian mendengar kisah?
Mungkin klasik, kisah romansa anak manusia.
Tidak, tidak! Bukan yang seperti itu!
Jangan mencibir dulu!
Tak baik mencela sebelum kau dengar kisahnya.
Ini bukan sembarang cerita.
Ini romansa purba.
Jauh, jauh sebelum manusia cinta pada sesamanya.
Jauh, jauh sebelum pemaktuban kisah Romeo-Juliette.
Jauh, jauh sebelum cinta dikenal hanya sebagai nafsu belaka
Jauh, sungguh jauh sebelum orang-orang dibuat tak mengerti apa itu cinta.
Ini kisah yang sungguh sederhana,
tetapi langka, kuno, purba.
Lama tertimbun begitu banyak huru-hara jaman
Terkubur, sudah entah bagaimana rupa.
Tapi tetap saja, layak untuk kembali dikenang, diceritakan.
Hanya seorang bocah.
Kusut, masai, legam jelaga, nyaris buruk rupa.
Kadang bau keringat begitu kental menguar darinya.
Hidup adalah hidup baginya.
Bah! Tak ada itu senang-senang!
Ayah-bunda pun dia tiada.
Bah! Tak kenal itu tertawa!
Yang ada hanyalah kerja! Makan!
Hanya seorang bocah.
Piatu rupanya.
Tiadalah tempatnya mengadu akan hidupnya.
Bah! Tuhan?
Sungguh, dia tiada pernah mengenalnya, mempercayainya
Mana mungkin dia berpengharapan pada Dzat yang begitu tega padanya?
Mana mungkin dia berkisah pada Dzat yang mungkin meludah melihat hina hidupnya.
Bah! Tuhan terlalu sombong padanya!
Hanya seorang bocah.
Terdampar di tengah hamparan peta langit yang begitu cemerlang.
Setelah seharian dikerjai orang.
Bah! Tiada lah mengerti bocah ini apa yang bajingan-bajingan itu lakukan padanya.
Dia hanya tahu bau busuk rokok dan alkohol yang bercampur keringat lengket tubuh mereka.
Dia hanya tahu gelap kolong jembatan tempatnya dibaringkan
Dia hanya tahu lagu klakson kendaraan menyayat tangisannya.
Bah!
Bocah duabelas tahun ini korban perkosaaan rupanya!
Hanya seorang bocah.
Untuk pertama kali menengadah.
Malu-malu mengintip langit, seakan dia tahu ada keadilan di sana.
Malu-malu mengerjap mata pada bintang-bintang, berpengharapan dia akan didengar.
"Manusia lebih buruk daripada anjing! Mereka mendengar, tapi tak pernah mempedulikan!"
"Manusia jauh lebih hina dari binatang! Mereka berakal, tapi tak berbudi pikiran!"
Bah! Darimana pula gadis cilik ini tahu bersajak?
Hanya seorang bocah.
Untuk pertama kali mempertanyakan hidupnya.
Untuk pertama kali menangisi takdirnya.
Untuk pertama kali mempertanyakan nasibnya.
Untuk pertama kali merasa tak akan kuat menjalaninya.
Peta langit tergulung.
Tanah pijakannya ikut tergugu bersamanya.
Bah! Rupanya langit pun tak kuasa melihatnya!
Bah! Rupanya bumi pun hendak merengkuh, memintanya membagi sedihnya.
Airmata langit tumpah seketika.
Tangis gadis kecil mereda.
Gantinya ia ternganga.
Untuk pertama kali ia merasa didengar.
Untuk pertama kali ia merasa berkawan.
Untuk pertama kali ia merasa diterima.
Untuk pertama kali ia merasa begitu dicintai.
Ahh,
Gadis kecil ini jatuh cinta!
Sungguh, ia pun berlari menyongsong cinta pertamanya.
Memeluknya.
Setelah meredam rindu duabelas tahunnya.
Malam ini tercapailah semua cintanya.
Menerjunkan diri dalam buaian kekasih hidup-matinya.
Merasakan sentuhan-sentuhan lembut belahan jiwanya.
Ahh,
betapa lama gadis ini menyimpan rindunya!
Mengabdikan diri pada yang amat dicintai dan dirinduinya.
Bukan bernafas bersamanya, melainkan turut larut bersamanya.
Bukan menari bersamanya, melainkan melebur di dalamnya.
Ah, ini cinta!
Ah, ini sungguh layak diperjuangkan!
Menggigil badannya.
Koyak, compang-camping pakaiannya.
Dihunus belati kekasih hatinya.
Ah, biar saja! Aku mencintainya!
Apalah arti menjadi begini dibandingkan penerimaannya yang tulus?
Sungguh, jauh lebih damai bila aku mati dalam pelukannya,
daripada mati sia-sia terkapar di trotoar jalanan.
Aih, mereka terus menari bersama.
Ribut orang meneriakinya.
Ah, sudahlah, diam kalian!
Ketika aku butuh kalian, tiada lah pernah kalian menggubrisku.
Kini aku bahagia bersama kekasihku, mengapa lah kalian meributkannya?
Semakin ramai orang mengejar dan meneriakinya.
Dia sedang bahagia, terus berputar, menari bersama Hujannya.
Tertawa. Sungguh, dia tertawa!
Gemuruh hatinya berbaur dengan guruh di angkasa.
Ah, Hujan-nya semakin menggelora.
Terhanyut dia dalam pusarannya yang memabukkan.
Mendadak dia membuka mata.
"Aku mencintaimu, Hujan-ku. Bawalah aku menyertaimu kemana pun kau pergi,"
Hujan-nya menggenggam mantap.
Berdua mereka memadu kasih.
Gerbang samudera menyambut mereka.
Selamat datang di Gerbang Kematian.
Pelangi, si gadis kecil, mati terseret badai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar