Minggu, 19 Juli 2015

Belum Berjudul (Part 1.1)

Manado, 1979

"Renee, sudah bisa kau jawab pertanyaan di papan tulis itu?"
Pertanyaan mudah. Soal penjumlahan tiga susun. Kulihat teman-temanku masih sibuk mencorat coret buku tulis mereka. Aku sudah menemukan jawabannya sejak sepuluh menit yang lalu.
"Bisa, Bapa Guru," jawabku yakin. Bapa Guru pun mempersilakan aku maju ke depan. Dalam sekejap kelas menjadi lengang, tidak ada lagi teman-temanku yang mencoret-coret buku atau berkasak kusuk bertanya pada teman sebangku.
Dengan tenang aku mengerjakan soal hitungan di papan tulis.
Yep, kupandangi jawabanku untuk memastikan kembali apakah ada yang kurang tepat. Setelah yakin dengan jawabanku, kukembalikan kapur pada Bapa Guru dan kembali ke tempat duduk.
Bapa Guru meneliti jawabanku dengan seksama.
"Jawaban Renee benar anak-anak! Beri tepuk tangan!" seru beliau.
Kelas yang tadinya lengang mendadak kembali riuh dengan tepuk tangan teman-temanku. Aku merasa puas. Hari ini sangat menyenangkan.

****

"Ma, Renee di mana?" sayup-sayup kudengar suara bariton Papa di ruang tengah.
"Sedang mengerjakan PR di kamarnya," sahut Mama.
"Baiklah. Ma, ada hal penting yang harus Papa bicarakan,"
Hal penting? Kuletakkan pensil kayuku. Pembicaraan ini mungkin lebih menarik dibandingkan PR Matematika dari Bapa Guru.

"Bulan depan kan Papa pensiun, Ma,..."
Kelanjutan percakapan Papa dan Mama seperti menghilang ditelan pikiranku sendiri. Papa pensiun? Bulan depan Papa tidak lagi menjadi tentara dengan seragam lorengnya yang gagah? Kupasang telinga lebar-lebar untuk mengetahui kelanjutan ceritanya.
"Bagaimana menurutmu Ma, apakah kita terima saja tawaran ke Jawa ini?" suara berat Papa kembali terdengar.
"Terserah padamu saja bagaimana baiknya," kali ini terdengar suara halus Mama.
"Aku rasa ada baiknya kita terima tawaran itu. Di Jawa sudah disediakan rumah dan sawah untuk kita dengan cuma-cuma, kita bisa hidup bertani untuk menambah penghasilan pensiun Papa. Renee masih perlu sekolah hingga sarjana. Di sini kita hanya bergantung pada uang pensiun saja," terang Papa.

Wow, kami akan ke Jawa! Bapa Guru pernah bercerita tentang Jawa. Tanahnya subur, banyak hewan dan tanaman indah di sana. Jalanannya pun mulus, banyak dilalui mobil. Astaga mobil! Belum lagi gambar gedung-gedung tinggi yang Bapa Guru bawakan dari rekanannya di Jakarta. Sepertinya Jawa sangat menyenangkan!

"Bagaimana dengan sekolah Renee di sini?" ujar Mama lagi.
"Satu bulan cukup untuk mengurus kepindahan bukan?" sahut Papa.
"Tapi apakah ada sekolah Kristen juga di sana?" kudengar sedikit rasa cemas pada suara Mama.
"Sekolah Dasar Negeri tidak terlalu menjadi masalah kan?" sahut Papa lagi.
Kurasa Mama sudah sepakat dengan Papa karena tidak ada lagi suara-suara mereka yang kudengar. Aku kembali menekuri buku Matematikaku. Ah tidak sabar rasanya kuceritakan kabar ini pada teman-temanku. Aku akan ke Jawa!

****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar