Tangan bertangkup
bibir terus mendaras puja puji
kepada Purnama yang teduh melatari
tegak tinggi menjulang
puncak-puncak Swargaloka
Berdiri di sana,
membelakangi altar Siwagrha
Tegap, gagah, yakin
memburu Angkara yang meraung menggila
Terucap doa-doa kepada Sang Hyang
yang kepadamu, Putra Surya,
telah melimpahkan banyak brahmastra
agar senantiasa mereka
melingkupi berkah dan selamat untukmu
Vishnu awatara
Sabit terbit di antara puja pujiku
ketika kau berdiri di hadapanku
sekilas memandangku yang memujamu
Ah, semakin deras butir-butir tasbih
kudaraskan untukmu
Kembali membeku melihatmu,
merentang busur Shiva
mencabut anak-anak panah
yang kemudian melesat membelah malam
Raungan Angkara merobek egoku
Ah, mengapa pula bukan demi aku
kau lakukan segala itu?
Bilakah Sri Rama boleh tak setia
kepada Shinta?
Hanya sekali saja, lalu sudah
Biarkan Shinta dicumbu Angkara
dan kau, kau untuk sekali saja
menjadi sosok utuh yang maujud
bukan hanya menghantui mimpi
yang bisa, boleh
kusentuh dan kumiliki
Lalu biarkan Shinta terbakar hangus
lebur dalam nafsu api sucinya
Dan kau, lagi-lagi kau,
akan kuminta bermain cinta lagi
denganku
Kita ciptakan sendiri legenda kita,
membumihangus lakon-lakon lawas Ramayana
merobek bab-babnya
dan menggantinya dengan aku dan engkau
Maryada Purushottama
Kian deras tasbihku menderu
meluruhkan relung-relung batu Pura
ruang-ruang singgah Dewata
yang kepada mereka aku terus bertanya
Bilakah Rama boleh tak setia?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar