Rabu, 04 Juni 2014

Memoar #3




Fakultas Kedokteran tidak jauh berbeda dari yang kuingat beberapa belas tahun yang lalu. Tetap saja menawan, tetap saja terlihat eksklusif dengan gedung-gedung cantik dan laboratorium yang bersih. Aku tertawa mengingat fakultasku hanya mendapat tambahan kata “gigi”, tetapi fasilitas kami jangan dibandingkan dengan fakultas yang kuinjak sekarang ini.

Beberapa kali aku berpapasan dengan mahasiswa yang berjalan sambil mendiskusikan materi kuliah. Ada pula yang mengeluhkan sulitnya materi praktikum esok hari. Aku hanya bisa tersenyum. Semua hal perlu proses bukan? Sungguh, proses itu akan sangat membekas di ingatan, selalu indah untuk dikenang bila kita menikmatinya.

Dunia kerja sangat jauh berbeda dengan dunia perkuliahan. Begitu banyak tantangan dan masalah yang tak terduga, siap tak siap harus kita hadapi juga. Saat kuliah, rasanya berat sekali dijalani. Tiap hari aku dan teman-temanku bermimpi agar cepat lulus, cepat bebas dari tugas-tugas kuliah, cepat lari dari dosen-dosen killer. Toh nyatanya ketika mimpi itu benar-benar nyata, justru kami merindukan masa-masa kuliah kami.
Kuliah di fakultas berlabel “kedokteran” memang berat. Makanya, bukan hal yang lazim kalau anak-anak Fakes (begitulah teman-temanku menyebut anak-anak dari FK, FKG, dan Farmasi) aktif dalam organisasi dan kegiatan kampus. Di KM saat periode kepengurusanku hanya ada 5 anak Fakes yang aktif menjadi pengurus. Aku dan Dipta di Kastrat, Arliefa di Humas, Bang Ismaya di Advokasi, dan Joni di Minat dan Bakat. Dari semuanya memang aku lebih dekat dengan Dipta. Selain satu departemen, kosku dan Dipta berdekatan, jadilah kami sering pulang pergi bersama.

Beberapa kali aku masuk fakultas kedokteran. Kebanyakan karena menumpang praktikum (laboratorium KG belum lengkap saat itu, entah sekarang), dan beberapa kali aku datang karena Dipta, tentu saja beramai-ramai dengan teman-teman di Kastrat.

Lapangan basket di seberang Gedung Radioputro masih ramai. Aku ingat suatu malam Dipta mengajakku menonton Pensi yang diadakan BEM FK.
“Tolonglah, biar aku kelihatan punya gandengan,”katanya. Aku terbahak-bahak mendengar permohonannya.
“Nggak bisa, Dipta. Besok aku ujian praktikum. Kapan aku belajar coba?” tolakku.
“Sejak kapan kamu lebih memilih belajar daripada nongkrong rame-rame?”
“Ya bedalah, ini ujian, Dipta. Kalau kuliah biasa sih oke aja. Ajak Christine sana,”
“Gila! Bisa-bisa aku ditonjok Bang Darjo kalau aku mengajak Christine datang,” sanggahnya. Aku tertawa. Christine dan Bang Darjo pacaran, parahnya, semua orang tahu temperamen Bang Darjo.
“Ya sudah, ajak Bang Darjo sekalian. Masalah selesai kan?”
“Apanya yang selesai? Mereka pacaran, aku tetep sendirian,” gerutunya.
“Lah, memangnya tidak ada cewek FK yang mau jadi gandenganmu? Padahal kamu pinter, muka juga lumayan. Atau jangan jangan…”
“Apa?”
Aku terbahak-bahak sebelum bisa meneruskan. “Jangan jangan yang kamu suka itu laki-laki, jadi kamu ngajak aku buat nutupin itu dari temen-temenmu. Iya kan? Hayo ngaku!”. Jawabannya adalah cubitan Dipta di pipiku.
“Aku nggak separah itu!” sanggahnya sambil ikut tertawa.
Malam itu toh akhirnya aku datang juga, dan tentu saja ujian praktikumku kacau balau esok harinya.
****

Wisma Kagama, Desember 2013

Malam ini seluruh alumni Universitas Gadjah Mada berkumpul dalam rangka reuni dan memperingati Dies Natalis UGM. Wisma Kagama penuh sesak. Aku sempat kebingungan mencari tempat, sebelum akhirnya menemukan teman-temanku alumni Kedokteran Gigi.

“Lia!” seru Hasna dengan wajah sumringah. Aih, semakin cantik saja kembang kampus ini. Kupeluk dan kusalami dia.
“Datang sendiri, Has?”
“Mana bisa datang sendiri Li, itu buntutnya ada dua lagi main sama papanya,” sahutnya riang. Aku tertawa. “Lama sekali nggak ketemu ya, Li. Sekarang kamu praktik di mana?”
“Aku di Bangka, Has, di Rumah Sakit Daerah, sambil buka praktik sendiri di rumah. Kamu di mana?”
“Aku sih di sini-sini aja, ikut suami. Omong-omong, kamu gimana? Udah nemu yang sreg belum?” tanyanya bersemangat. Aku hanya tersenyum. Itu lagi itu lagi. Kujawab dengan gelengan singkat.
“Duh, kamu ini, jangan terlalu idealis lah. Nggak pengen cepet-cepet gendong anak, Li?”
Aku tersenyum lagi. Sebenarnya, beberapa laki-laki pernah dekat denganku, bahkan ada yang sudah menyampaikan keinginan menikahiku. Tapi entah kenapa rasanya aku belum siap dengan semua itu. Ada sesuatu yang hilang, dan untuk itulah aku kemari.
“Tentu saja pengen, Has. Doakan saja ya,” sahutku. Hasna hanya mengangguk.
“Pasti, Lia, pasti. Yuk kita bergabung dengan teman-teman yang lain,”. Aku menyambut ajakannya tanpa bertanya.

Beberapa orang angkatanku datang malam ini. Karisma dan Ana, pasangan idaman yang akhirnya benar-benar menikah datang bersama anak laki-laki mereka. Pratomo, Wening, Anisa, Widya, Desi, Redyan juga datang. Mereka memang membuka praktik di Yogya. Ada pula Fira yang datang jauh-jauh dari Aceh, Rahmat yang langsung terbang dari Jayapura. Semua membawa kisahnya masing-masing. Ramai sekali kami berbincang, mengingat kembali jaman-jaman susah ketika kuliah. Membahas Profesor A yang galaknya setengah mati, menertawakan kuliah Dokter B yang selalu sukses membius mahasiswa hingga tidur di kelas, mengingat Redyan yang seringkali bangun kesiangan hingga tidak datang kuliah, mengingat kebiasaan buruk Wening yang sering lupa meninggalkan alat praktikumnya sembarangan. Rasanya tidak sia-sia aku mengambil cuti seminggu demi berkumpul lagi bersama mereka.

“Tunggu sebentar, aku ambil minum dulu ya,” ujarku. Saat itulah mataku menemukan matanya. Mata yang sempat hilang belasan tahun yang lalu. Mata yang sama, yang kuingat bagaimana terakhir kali aku menatapnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar