Fakultas Kedokteran tidak jauh berbeda dari yang kuingat
beberapa belas tahun yang lalu. Tetap saja menawan, tetap saja terlihat
eksklusif dengan gedung-gedung cantik dan laboratorium yang bersih. Aku tertawa
mengingat fakultasku hanya mendapat tambahan kata “gigi”, tetapi fasilitas kami
jangan dibandingkan dengan fakultas yang kuinjak sekarang ini.
Beberapa kali aku berpapasan dengan mahasiswa yang berjalan
sambil mendiskusikan materi kuliah. Ada pula yang mengeluhkan sulitnya materi
praktikum esok hari. Aku hanya bisa tersenyum. Semua hal perlu proses bukan?
Sungguh, proses itu akan sangat membekas di ingatan, selalu indah untuk
dikenang bila kita menikmatinya.
Dunia kerja sangat jauh berbeda dengan dunia perkuliahan.
Begitu banyak tantangan dan masalah yang tak terduga, siap tak siap harus kita
hadapi juga. Saat kuliah, rasanya berat sekali dijalani. Tiap hari aku dan
teman-temanku bermimpi agar cepat lulus, cepat bebas dari tugas-tugas kuliah,
cepat lari dari dosen-dosen killer. Toh nyatanya ketika mimpi itu benar-benar
nyata, justru kami merindukan masa-masa kuliah kami.
Kuliah di fakultas berlabel “kedokteran” memang berat.
Makanya, bukan hal yang lazim kalau anak-anak Fakes (begitulah teman-temanku
menyebut anak-anak dari FK, FKG, dan Farmasi) aktif dalam organisasi dan
kegiatan kampus. Di KM saat periode kepengurusanku hanya ada 5 anak Fakes yang
aktif menjadi pengurus. Aku dan Dipta di Kastrat, Arliefa di Humas, Bang Ismaya
di Advokasi, dan Joni di Minat dan Bakat. Dari semuanya memang aku lebih dekat
dengan Dipta. Selain satu departemen, kosku dan Dipta berdekatan, jadilah kami
sering pulang pergi bersama.
Beberapa kali aku masuk fakultas kedokteran. Kebanyakan
karena menumpang praktikum (laboratorium KG belum lengkap saat itu, entah
sekarang), dan beberapa kali aku datang karena Dipta, tentu saja beramai-ramai
dengan teman-teman di Kastrat.
Lapangan basket di seberang Gedung Radioputro masih ramai.
Aku ingat suatu malam Dipta mengajakku menonton Pensi yang diadakan BEM FK.
“Tolonglah, biar aku kelihatan punya gandengan,”katanya. Aku terbahak-bahak
mendengar permohonannya.
“Nggak bisa, Dipta. Besok aku ujian praktikum. Kapan aku
belajar coba?” tolakku.
“Sejak kapan kamu lebih memilih belajar daripada nongkrong
rame-rame?”
“Ya bedalah, ini ujian, Dipta. Kalau kuliah biasa sih oke
aja. Ajak Christine sana,”
“Gila! Bisa-bisa aku ditonjok Bang Darjo kalau aku mengajak
Christine datang,” sanggahnya. Aku tertawa. Christine dan Bang Darjo pacaran,
parahnya, semua orang tahu temperamen Bang Darjo.
“Ya sudah, ajak Bang Darjo sekalian. Masalah selesai kan?”
“Apanya yang selesai? Mereka pacaran, aku tetep sendirian,”
gerutunya.
“Lah, memangnya tidak ada cewek FK yang mau jadi
gandenganmu? Padahal kamu pinter, muka juga lumayan. Atau jangan jangan…”
“Apa?”
Aku terbahak-bahak sebelum bisa meneruskan. “Jangan jangan
yang kamu suka itu laki-laki, jadi kamu ngajak aku buat nutupin itu dari
temen-temenmu. Iya kan? Hayo ngaku!”. Jawabannya adalah cubitan Dipta di
pipiku.
“Aku nggak separah itu!” sanggahnya sambil ikut tertawa.
Malam itu toh akhirnya aku datang juga, dan tentu saja ujian
praktikumku kacau balau esok harinya.
****
Wisma Kagama, Desember 2013
Malam ini seluruh alumni Universitas Gadjah Mada berkumpul
dalam rangka reuni dan memperingati Dies Natalis UGM. Wisma Kagama penuh sesak.
Aku sempat kebingungan mencari tempat, sebelum akhirnya menemukan teman-temanku
alumni Kedokteran Gigi.
“Lia!” seru Hasna dengan wajah sumringah. Aih, semakin
cantik saja kembang kampus ini. Kupeluk dan kusalami dia.
“Datang sendiri, Has?”
“Mana bisa datang sendiri Li, itu buntutnya ada dua lagi
main sama papanya,” sahutnya riang. Aku tertawa. “Lama sekali nggak ketemu ya,
Li. Sekarang kamu praktik di mana?”
“Aku di Bangka, Has, di Rumah Sakit Daerah, sambil buka
praktik sendiri di rumah. Kamu di mana?”
“Aku sih di sini-sini aja, ikut suami. Omong-omong, kamu
gimana? Udah nemu yang sreg belum?” tanyanya bersemangat. Aku hanya tersenyum.
Itu lagi itu lagi. Kujawab dengan gelengan singkat.
“Duh, kamu ini, jangan terlalu idealis lah. Nggak pengen
cepet-cepet gendong anak, Li?”
Aku tersenyum lagi. Sebenarnya, beberapa laki-laki pernah
dekat denganku, bahkan ada yang sudah menyampaikan keinginan menikahiku. Tapi
entah kenapa rasanya aku belum siap dengan semua itu. Ada sesuatu yang hilang,
dan untuk itulah aku kemari.
“Tentu saja pengen, Has. Doakan saja ya,” sahutku. Hasna
hanya mengangguk.
“Pasti, Lia, pasti. Yuk kita bergabung dengan teman-teman
yang lain,”. Aku menyambut ajakannya tanpa bertanya.
Beberapa orang angkatanku datang malam ini. Karisma dan Ana,
pasangan idaman yang akhirnya benar-benar menikah datang bersama anak laki-laki
mereka. Pratomo, Wening, Anisa, Widya, Desi, Redyan juga datang. Mereka memang
membuka praktik di Yogya. Ada pula Fira yang datang jauh-jauh dari Aceh, Rahmat
yang langsung terbang dari Jayapura. Semua membawa kisahnya masing-masing.
Ramai sekali kami berbincang, mengingat kembali jaman-jaman susah ketika
kuliah. Membahas Profesor A yang galaknya setengah mati, menertawakan kuliah
Dokter B yang selalu sukses membius mahasiswa hingga tidur di kelas, mengingat
Redyan yang seringkali bangun kesiangan hingga tidak datang kuliah, mengingat
kebiasaan buruk Wening yang sering lupa meninggalkan alat praktikumnya
sembarangan. Rasanya tidak sia-sia aku mengambil cuti seminggu demi berkumpul
lagi bersama mereka.
“Tunggu sebentar, aku ambil minum dulu ya,” ujarku. Saat
itulah mataku menemukan matanya. Mata yang sempat hilang belasan tahun yang
lalu. Mata yang sama, yang kuingat bagaimana terakhir kali aku menatapnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar