Rabu, 04 Juni 2014

Memoar #9


Aku dan Dipta tidak kembali ke Bunderan. Kami langsung berlari menuju kos kami di daerah Sekip. Luka Dipta harus dirawat, tidak mungkin kami melanjutkan demonstrasi. Aku membawa Dipta ke UGD Sardjito untuk mendapatkan perawatan.

“Sudah lebih baik sekarang?”. Dipta terbaring di ranjangnya setelah membersihkan badan dari sisa-sisa kebrutalan sore tadi.
“Kamu kacau sekali Lia,” ujarnya dengan nada bergurau, tapi matanya tidak bisa menyembunyikan kekalutannya.
“Aku nggak papa. Diminum ya tehnya. Nggak papa kan kalau aku tinggal pulang sekarang?”
Dipta menggeleng. “Tinggal lah,” ujarnya.
“Aku harus bersih-bersih, Dipta. Lagipula tidak baik perempuan ada di kamar laki-laki hingga selarut ini,” sanggahku.
“Pakai kamar mandiku. Tetaplah di sini,”

Aku mendengus heran. Kupikir-pikir tidak ada salahnya juga aku menemani Dipta malam ini. Siapa tahu dia masih memerlukan bantuanku. Lagipula, aku tidak akan tidur se ranjang dengannya bukan?

Aku membasuh mukaku yang memang demikian keruh. Kutatap wajah sinting di cermin itu. Matanya penuh ketakutan sekaligus bara api. Rahangnya demikian kaku hingga tak meninggalkan sisa feminim sama sekali. Lama sekali aku baru mau menerima kalau itu wajahku.

Tidak pernah ada dalam pikiranku aku terjebak dalam situasi gila seperti sore tadi. Memang aku tahu suatu saat aku akan melakukan aksi. Tapi sejauh yang pernah kualami, aku hanya ada di perifer, bersama teman-teman perempuan yang lain. Kerusuhan tadi bukan kerusuhan yang kecil. Kabar tentang ini pasti akan sampai juga ke telinga orangtuaku. Sepertinya mereka akan semakin cemas saja.

“Kemarilah,” pinta Dipta ketika aku keluar dari kamar mandi. Aku menatapnya bingung. Ke sana? Ke ranjangnya? Aku bergidik. Dipta mencoba menegakkan badannya. Dengan sigap kubantu dia untuk duduk. “Duduklah di sini, Lia,”. Aku pun duduk di kaki ranjangnya.
“Maafkan aku,” ujarnya lagi.
“Maaf untuk apa?”
“Maafkan aku membiarkanmu terjebak dalam kekacauan itu begitu lama. Aku kehilangan tanganmu begitu saja. Seharusnya aku melindungimu, bukan malah menelantarkanmu di tengah-tengah massa yang gila itu,”
Aku mencoba tersenyum. “Aku baik-baik saja, sungguh. Yang harus dikhawatirkan justru kamu,” sahutku.
“Tidak,kamu tidak baik-baik saja,”. Sebuah pernyataan yang memang sulit sekali kubantah. “Berhentilah bersikap semuanya baik-baik saja Lia, karena memang semuanya tidak sedang baik-baik saja,”

Benar, semua tidak sedang baik-baik saja. Mungkinkah aku salah memilih ikut terlibat? Mungkinkah semua akan baik-baik saja andaikan aku hanya menjadi mahasiswa kedokteran gigi biasa? Mungkinkah semua akan berbeda kalau aku tidak menceburkan diri dalam organisasi kampus? Mungkin sore tadi aku sudah di kos, membaca buku-buku diktatku, bukan malah terjebak kerusuhan liar itu.

Sepasang tangan kokoh meraupku dalam pelukan hangat. Airmataku meleleh satu satu. Lelah, frustasi, takut, merasa bersalah, marah, sedih, tak berdaya meruap keluar. Menyaksikan banyak kekerasan di depan mata membuatku mual. Membayangkan korban-korban yang berjatuhan membuatku merasa tak berdaya. Aku sadar kekuasaan yang ingin kami dobrak sebegitu kokohnya, sedemikian tingginya. Memangnya siapa kami berani-beraninya menggulingkan mereka? Semua perasaan itu tiba-tiba mendobrak sedemikian kerasnya.

“Ssstt, kamu akan baik-baik saja, Lia, aku janji. Jangan takut, aku tidak akan meninggalkanmu lagi,” bisik Dipta disela isakanku. Tangannya membelai punggungku dengan lembut. Aku baru sadar kami sedemikian dekatnya. Kupaksakan menarik diri.
“Maafkan aku cengeng begini. Aku mempercayaimu. Sekarang istirahatlah,” bisikku.

Kedua tangan Dipta kembali merengkuh tubuhku. Kali ini diciuminya puncak kepalaku. “Semua akan kembali baik-baik saja Lia, aku janji. Kamu akan kembali kuliah dengan tenang, Lia. Diskusi kita akan kembali aman, aku janji,”

Aku menatap matanya, lalu ketakutan. Mata itu penuh dendam, penuh kemarahan. Kemudian bibirnya melumat bibirku tanpa ampun. Malam itu kami saling bergelung, membagi dendam kami, kemarahan kami, kesedihan kami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar