Jumat, 27 Desember 2013

(Hujan) Salah Musim

Beginilah jika hujan salah musim.
Apa-apa yang harusnya tak tumbuh,
tumbuhlah jua tanpa tahu sebab.

Namaku Reneta,
kekasih Erlang.
Dan aku benci hujan.

Beginilah jika hujan salah musim,
apa-apa yang seharusnya tumbuh,
kikis juga oleh derasnya.
Gugur kelopak melati satu-satu.

Mengapa?
Hai, karena hujan sudah berlaku sangat kejam,
sangat tidak adil padaku.
Pada untaian melati yang susah payah kurangkai,
untuk kukalungkan pada Erlang kelak.

Beginilah jika hujan salah musim.
Kebun melati justru tak berbunga,
kalah saing dengan ilalang.

Hei, siapa kamu gadis berparas teduh berpayung bening?
Mengapa di balik teduhmu menyimpan begitu banyak petaka?
Mengapa di balik tenangmu menyimpan sembilu yang menyakitkan?
Mengapa mendungmu justru menutupkan mata kekasihku akan matahari?

Ini hujan salah musim.
Gugur melati.
Gugur bunga gugur kelopak gugur pula wanginya.
Padam purnama padam pula terangnya.

"Aku tidak buta, Erlang. Siapa dia yang tiba-tiba datang?"
"Dia.. Garis nasib yang tiba-tiba ditautkan padaku tanpa kutahu muasalnya," jawab Erlang.
"Berhentilah berpuisi!"
"Apa lagi yang bisa kukatakan Reneta? Kenapa kau berpikir sebegini janggalnya?"
"Janggal katamu Erlang? Janggal kah kekasih yang bertanya tentang seorang yang tiba-tiba menelusup ruang hati kekasihnya? Janggal kah itu Erlang?"
Erlang hanya membisu.
Aku semakin beku.

April, dan hujan sesekali masih menderasi bumi.
Empat warsa kuhabiskan bersama Erlang.
Bagaimana aku tidak paham betul perangainya?
Erlang, yang begitu kucintai.
Erlang, yang bahunya sanggup menopang beribu-ribu ton masalah dan pikiran.
Erlang, yang di kedalaman matanya aku berani berharap.
Erlang, yang untuknya aku berjuang meronce namaku bersama harum melati.

Lalu rusak sudah.
Hujan menyapu semuanya tentang Erlang dariku,
bersama dengan Gadis Berpayung Bening.
Dia, yang tiba-tiba ada di mobil Erlang ketika Erlang menjemputku pulang.
Dia, yang sketsanya dengan tidak sadar selalu dilukis Erlang.
Gadis berpayung transparan di tengah rerimbun hujan.
Bukan lagi gadis dengan senyum cemerlang diterpa cahaya mentari.

"Erlang, kumohon, jujurlah,"
"Aku ingin berteduh Reneta. Berlari bersama hujan. Aku ingin menciptakan pelangi, Reneta,"
"Tidakkah kau suka pada kehangatan matahari, Erlang?"
"Ada masanya, Reneta, ketika aku harus menepi dari matahari. Bumi pun perlu hujan untuk meredakan kemarau,"
"Erlang, sungguh aku membenci hujan!"
"Kemarilah Reneta. Cinta kasih yang sama kukalungkan untukmu. Jangan benci hujan karena aku. Jangan pula karena payung transparan milikku. Bukan salahnya, Reneta. Kumohon jangan salahkan hujan atas pilihan yang aku ambil,"
"Aku benci hujan! Aku benci hujan yang membasuh segala tentangku di hadapanmu, yang melebur empat tahunku bersamamu, yang membilas habis mimpi yang kubangun denganmu!"

Lalu yang kutahu hanyalah hangat.
Hanyalah air yang meleleh di kemeja Erlang.
Hanyalah tangan Erlang yang membelai rambutku.
Hanyalah bibir Erlang yang terasa lama sekali melebur di bibirku.
Hanyalah nafas berat entah Erlang entah aku yang satu-satu.

Sungguh, ini hujan salah musim.
Tahu hancur hati menggenggam melati,
tetapi kenanga anggrek yang didapati.
Sungguh, aku benci hujan salah musim!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar