Ini sudah bulan Februari.
Dan hujan masih saja ngeyel belum mau berhenti.
"Bete deh, kalau hujan begini terus kan aku harus berangkat lebih pagi. Belum lagi kalau banjir, menyiksa," keluh Reneta panjang pendek.
Reneta, kekasihku.
"Simpan keluh kesahmu sayang, mukamu aneh kalau cemberut begitu," gurauku.
Kian maju sajalah manyun bibir Reneta. Kian deraslah tawaku.
"Kamu ini kenapa sih? Udah bete begini masih juga dibercandain," sungut Reneta.
"Lho, justru kamu ini yang kenapa, bukannya hujan begini malah jadi sejuk? Hujan kan rejeki juga Reneta,"
"Iya, rejeki kalau di saat yang tepat. Tapi kalau tiap hari begini susah juga kita,"
Aku tersenyum. Renetaku yang manja.
Kalau sudah begini mending aku diam saja.
Kuantarkan Reneta sampai depan pintu kantornya.
Pak Sugeng, satpam kantor Reneta melambai padaku.
Kubalas lambaiannya dengan senyum hangat.
"Senyum dulu dong sayang, bisa-bisa bosmu pun akan takut melihatmu begitu," godaku.
Renata memukul lenganku. Tapi kemudian dia tersenyum dan mengangguk.
"Jam 5 yaa," ujarnya seraya membuka pintu mobil.
Aku mengacungkan ibu jari dan membiarkan Reneta memasuki kantornya.
Ah, sungguh tidak pas gadis secerah Reneta berada di tengah background muram hujan begini.
Payung-payung berseliweran membentuk pelangi di sepanjang trotoar jalan.
Aih, merah, kuning, hijau, sungguh cerah seperti gadisku.
Tapi, hey, ada payung transparan menyembul di situ.
Bening. Tidak memancarkan warna apapun.
Tapi hey, justru bertambah elok dia diapit beragam warna.
Ah, kembali aku ke kedai kopi hampir setahun berselang.
Ketika duduk di depanku gadis sedingin subuh.
Dan tentu saja, buram.
Lucunya, kami hanya saling bertukar pandang tanpa melempar bilah-bilah pertanyaan yang menggantung memenuhi kepala kami.
Sampai akhirnya meluncur kata-kata "Kacamatamu basah" dari mulutnya.
Pembukaan yang aneh.
Gadis sebeku mendung.
Tapi sekaligus teduh kalau boleh aku bilang.
Reneta adalah Matahari yang menyala, terang, menawan.
Sementara gadis entah siapa itu tak ubahnya mendung yang mengembun.
Sejuk.
Ah, ya, bagaimana bisa aku justru memberikan payung teduhku untuknya?
Kukira sederhana saja.
Aku cemburu.
Pada titik-titik air hujan yang menciumi tubuhnya sebelum dia menepi dan duduk di hadapanku.
Aih, aku iri pada tetes-tetes mendung yang bebas melebur di bibirnya, merayapi pipinya, dan melingkupi jemarinya yang cantik.
Bagaimana bisa aku begitu memperhatikan?
Tidak tahu.
Yang kutahu aku hanya cemburu.
Sudah hampir setahun.
Dan aku masih mengulum senyum.
Aku tahu payung beningku ada di antara milyaran manusia yang memandang hal serupa.
Hujan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar