Dunia kami yang sekarang..
Bukan lagi dunia yang bahagia.
Bukan lagi dunia yang penuh tawa.
Dunia kami yang sekarang,
adalah dunia yang penuh sesak
adalah dunia yang berjejal dan rumpak
adalah dunia yang terlipat di sini sana
Dunia kami yang sekarang,
bukan lagi dunia milik kami seutuhnya
bukan lagi otoritas kami untuk mengaturnya
bukan lagi dunia yang bisa kami genggam sempurna
Dunia kami yang sekarang,
adalah dunia menahan
dunia yang tenggelam
dunia yang karam
Dunia kami yang sekarang
bukan lagi dunia yang bisa kami nikmati indahnya
bukan lagi dunia yang bisa kami rasakan nyamannya
bukan lagi dunia yang menyediakan sisi nyaman bagi imajinasi-imajinasi kami
bukan lagi dunia yang bisa mewadahi sisi lain dari jiwa kami
bukan lagi dunia yang bisa mewakili siapa kami
Dunia kami yang sekarang,
adalah dunia yang disesaki tanggungjawab
adalah dunia yang berjejal dan rumpak oleh beban
adalah dunia yang terlipat,
seperti dahi-dahi kami yang kusut masai
Dunia kami sekarang,
adalah dunia milik orangtua kami, gengsi kami, ego kami
adalah dunia dengan otoritas penuh dari sosok bernama "masa depan"
adalah dunia yang genggaman kami yang telah lepas
Dunia kami sekarang,
adalah menahan diri untuk tertawa, berekspresi, berkreasi sesuka hati
adalah dunia yang tenggelam dalam kesibukan belajar atasnama masa depan
adalah dunia yang karam atasnama tanggungjawab
Dunia kami yang sekarang,
adalah dunia yang kehilangan keindahannya
adalah dunia yang kehilangan kenyamanannya
adalah dunia yang kehilangan inspirasi sebagai imajinasi kami
adalah dunia yang terlalu sesak untuk sekedar menampung senyum dan tawa polos kami
adalah dunia yang terlalu banyak kebohongan dan tipu daya tentang kami yang sebenarnya
Inikah rasanya berusia 17 tahun?
Harus begini kah menjadi dewasa sebenarnya?
Harus selalu hati-hati kah?
Harus selalu bertanggung jawab kah?
Harus selalu egois kah?
Harus selalu menipu diri menjadi orang yang bukan kita yang sebenarnya?
Jika begitu,
sungguh aku benci jadi dewasa.
sungguh aku tidak pernah rela kehilangan masa kanak-kanakku
sungguh aku tidak pernah rela menghapus sisi kekanakanku
jika memang hanya itu yang tersisa untuk memasuki usia dewasaku dengan tersenyum.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar