Kamis, 24 Juli 2014

Catatan Hati Seorang Calon Dokter Gigi

Judulnya alay bett ya?

Sekarang jam 2 pagi di kampung halaman.
Tapi mata, hati, nggak mau kompromi buat tidur sebentar.

Lama ya aku nggak cerita tentang aku tanpa pakai nama orang lain? Wkwk.

Btw, kenapa judulnya begitu?
Karena ceritanya begitu.

Aku baru melepas semester 2 di FKG.
Baru dua semester aku kuliah, tapi rasanya udah entahlah.
Seneng kok seneng aku dikasih kesempatan belajar, tanya, baca apaaa aja yang aku mau.
Tapi ngeluh juga sih kadang.

"Kenapa kuliah harus seberat ini?"
"Karena kamu ambil jurusan aneh-aneh, pakai embel-embel 'kedokteran'. Mana ada sekolah kedokteran enteng,"
"Bahkan aku ngerasa materi kuliahku nggak nyambung sama kerjaan aku besok. Bayangin deh, aku kan mau jadi dokter gigi, ngapain juga aku harus belajar Sosiologi, Demografi, Penyakit Mata, Penyakit Saraf, Kulit dan Kelamin, Kesehatan Jiwa, ngehafalin segitu banyak nama tulang belulang, otot, saraf, sampai sedetail-detailnya?"

Percakapan di atas sering muncul di kehidupan sehari-hari aku.

Kemudian aku baca Laskar Pelangi.
Kemudian aku dengar cerita anak-anak dan keluarga serba kekurangan di kampung halaman.
Kemudian aku lihat orang-orang korban perang dan bencana.

Satu pertanyaan yang muncul :
"Kenapa kamu pilih mau jadi dokter?"

"Kalau kamu hanya ingin kaya, ngapain kamu susah-susah menempuh kuliah, belajar penyakit-penyakit entah apa itu, bayar kuliah mahal-mahal. Kalau kamu hanya ingin kaya, gampang. Kumpulin tuh duit kuliahmu buat modal, buka usaha, kelar deh. Atau kalau mau yang lebih gampang lagi, berhenti kuliah, uang untukmu kuliah ditimbun ajalah, ntar kan kaya sendiri,"

"Kalau kamu hanya ingin dapat sanjungan, ngapain repot-repot praktikum sampai tengah malem di kampus, belajar sampai nggak pernah tidur. Kalau hanya ingin disanjung, gampang. Lakukan saja 1 kebaikan di depan orang lain, maka sanjungan udah bakal mampir kok ke namamu,"

Lalu pagi ini rasanya nggak sanggup kalau aku harus menyandang gelar dokter gigi.

Rasanya julukan itu kayak kutukan, mantra, apalah, pokoknya menakutkan buat aku.

"Lho kan padahal enak jadi dokter gigi, tinggal tambal, cabut, dapet duit deh,"

Pengen kugaplok rasanya orang yang ngomong kayak gitu.

Tugas utama seorang dokter itu bukan cari duit guys, tetapi entah gimana caranya seorang dokter harus bisa membuat orang dan lingkungan sekitarnya hidup layak. Minimal sehat.

Kenapa ngerasa nggak sanggup?

Satu.
Sering aku pergi, dan ketemu orang-orang yang sama sekali asing. Hampir semuanya bertanya sedang kuliah apa. Kujawab jujur. Kemudian jadilah aku tempat konsultasi berbagai macam keluhan kesehatan mereka.
Sekarang aku masih semester 2, ada alasan buat ngeles ketika aku nggak bisa menjawab keluhan mereka : "Saya baru masuk, Bu, belum belajar tentang itu,"
Lama-lama mikir juga, mau sampai kapan ngeles kayak gitu terus?
Gimana nanti kalau udah beneran kerja, mau ngeles juga?

Dua.
Suatu hari nanti aku akan kerja.
Dan kerjaku sama manusia, bukan boneka praktikum di lab.
Objek kerjaku nyawa, bukan cuma barang kecil yang tertanam di gusi.
Mau kayak apa aku nanti.
Ngehafalin nama, letak saraf aja ngeluh mulu, gimana bisa aku mengenali lokasi mana aja yang harus aku bius. Salah-salah aku kena sangkaan malpraktik dan bikin nyawa orang hilang gitu aja akibat ulah tanganku.
Aku nggak sanggup menanggung dosa sebesar itu.

Tiga.
Aku sadar sepenuhnya kalau tempatku sama sekali bukan di kota.
Aku seharusnya ada di pelosok-pelosok negeri yang belum terjamah fasilitas kesehatan, atau di daerah rawan bencana dan darurat perang.
Kewajiban dokter melayani, bukan ongkang-ongkang di rumah nunggu pasien dateng sendiri.
Dengan latar tempat kerja yang seperti itu, jauh dari fasilitas yang memadai, maka dokter yang memilih bekerja di tempat seperti ini dituntut punya empati, fleksibel, siap setiap waktu dalam segala kondisi.
Jangankan sakit gigi, bisa saja aku pun dimintai tolong mengobati sawar, ayan, bahkan kesurupan.
Bisa jadi aku dimintai tolong membantu persalinan ibu-ibu, memandikan bayi, mengobati malaria, melakukan operasi darurat, merawat patah tulang, dan sebagainya.
Mungkin aku harus bisa menanam jagung sendiri, mengolah sagu, menyuling air, mengemudikan perahu, hingga menggunakan senjata untuk menopang hidupku sendiri.
Rasanya kuliah seumur hidup pun masih kurang untuk mengisi otakku yang melompong dengan segala pengetahuan itu.

Hehe, jadi dokter nggak gampang ya? Nggak seindah kata orang-orang.

Sebenernya kembali ke niat. Suatu hari aku pernah didamprat Ibuk. Perkaranya, aku berandai-andai kalau  hidupku mapan, maka aku tidak perlu membuka praktik sendiri.

"Lalu kamu akan membiarkan orang-orang yang membutuhkan pertolongan di luar jam kerjamu? Gimana kalau mereka nggak bisa pergi ke rumah sakit padahal rumahmu hanya sepelemparan batu tapi kamu nggak mau buka praktik? Kamu melanggar kewajibanmu! Mungkin kelak di akhirat akan dipertanyakan apa guna pendidikanmu, profesimu, gelarmu untuk orang-orang di sekitarmu,"

Inilah catatan hati seorang calon dokter gigi yang cuma bisa terus belajar dan berdoa untuk menghadapi ke-nggak-kuat-annya sendiri. Mohon doanya juga biar aku mau terus belajar, sanggup menerima tantangan dan risiko atas pilihanku, dan benar-benar jadi "dokter" yang diinginkan semua orang.

Setakut, se-nggak-yakin, se-nggak-kuat, se-nggak-sanggup apapun, aku memilih nggak mau mundur. Kalaupun suatu ketika aku merasa nggak berdaya lagi, semoga perasaan itu justru membuat aku mau lebih giat berusaha memantaskan diri.

Trims udah baca curhatannya, wkwk.

4 komentar: