Aku masih terjaga di kamar penginapan Dipta. Aku bisa
mendengar degup jantungnya di punggungku.
Begitu banyak tahun-tahun terlewati,
begitu banyak kisah yang tidak kuketahui. Kudapati wajah Dipta yang tenang
ketika terlelap. Wajah yang kukenang bertahun silam. Wajah yang kukira hilang.
“Ada apa sayang?”
“Tidak, tidak ada apa-apa. Tidurlah lagi,” bisikku sembari
mengelus pipinya.
“Hmm? Apa yang ingin kamu ketahui?”
“Semuanya Dipta. Di mana kamu selama ini?”
“Kamu tahu kekerasan yang dialami warga Tionghoa kan?
Orangtuaku yang tahu aku sedang di Jakarta, malam itu juga menjemputku. Kukira
mereka hanya memintaku pulang dan singgah di Bandung. Aku mulai merasa janggal
ketika Papa tidak melewati jalan menuju Bandung,”
Dipta menciumiku sejenak sebelum akhirnya melanjutkan.
“Kami terbang ke Singapura. Aku tidak pernah tahu rencana
ini. Terang saja aku mengamuk, memberontak tidak mau ikut. Orangtuaku mengakui
memang hal ini tidak direncanakan sebelumnya. Mengingat kondisi yang tidak lagi
aman untuk tinggal di Indonesia, sementara waktu kami akan tinggal di
Singapura, kata mereka,”
“Kukira sebentar hanya 1 atau 2 bulan, tapi ternyata
bertahun-tahun. Aku tidak tahu apa-apa tentang ini semua, bahkan surat
kepindahanku dari Fakultas sudah diurus Papa. Aku kembali melanjutkan studi di
sana,”
“Kenapa kamu tidak mencoba mengabari kami?”
“Tidak bisa, Papa melarangku berhubungan lagi dengan
Indonesia. Tidak aman,”
Aku hanya bisa diam.
Keesokan harinya setelah Presiden
mundur, rombongan kami langsung bertolak ke Yogya dengan kereta api. Kami semua
bingung dengan hilangnya Dipta dari rombongan. Aku sempat histeris mengingat
tragedi beberapa hari yang lalu.
Aku berharap Dipta hanya bangun kesiangan, lalu dia akan
berlari menyusul kami di stasiun. Hingga kereta akan berangkat aku masih diam
di peron, berharap Dipta akan datang dengan rambut acak-acakan dan senyum tanpa
dosa. Kemudian aku akan menjitak kepalanya dan berjanji akan marah padanya.
Tapi Dipta tidak pernah datang.
Di Yogya, setiap hari aku menanti di gerbang Fakultas
Kedokteran, berharap melihat mobilnya melintas atau berpapasan langsung
dengannya. Setiap sore aku menyambangi sekre, berharap Dipta duduk di situ,
berdiskusi dengan yang lain.
Tapi Dipta tak kunjung datang.
Berangkat dan pulang kuliah aku memilih melewati kos Dipta
meski jalannya memutar untuk mengecek apakah mobilnya sudah terparkir di sana,
atau mungkin mendapati Dipta dengan kaos oblong sedang bermain gitar di teras.
Tapi Dipta tidak pernah ada.
Setiap kali kami makan bersama, aku selalu menyiapkan
seporsi lebih untuk Dipta, berharap dia tiba-tiba datang dan menyantap masakanku
dengan lahapnya. Aku selalu menyiapkan kursi lebih bila anak-anak Kastrat
mampir ke kosku.
“Lia, berhenti menunggu. Kita semua tidak tahu Dipta di
mana, terimalah kenyataan dia tak lagi ada di antara kita,” ujar Christine
suatu ketika.
“Tidak. Dipta pasti pulang, dia sudah berjanji,” sahutku
mantap. Seketika Christine memelukku.
“Ikhlaskan dia Lia!” pintanya sekali lagi
“Kamu berkata seolah dia pergi selamanya. Dipta akan datang,
Christine. Mungkin besok sore ketika kita rapat, atau mungkin malam ini dia
akan datang ke kosku dan berteriak ‘kejutan’”
Akhirnya toh orang-orang membiarkanku melakukan
kebiasaan-kebiasaan itu. Bahkan hingga yudisium, aku masih menanti Dipta di
luar membawa sebuket mawar dan meledekku. Hingga semua orang pulang sore itu,
Dipta
tak juga muncul.
“Aku membuatmu terluka ya sayang?”
Aku menggeleng kuat-kuat. Airmataku sudah terlanjur tumpah.
Aku senang ternyata Dipta memang baik-baik saja. Aku senang karena keyakinanku
benar.
“Aku merindukanmu, Lia, setiap hari. Aku berharap bisa
segera pulang, ke Yogya, menemuimu, menemui kawan-kawan kita,”
“Kapan kamu kembali ke Indonesia?”
“Akhir 2001, kami sekeluarga pulang ke Indonesia. Di bandara
kami sudah disambut keluarga Tionghoa juga, keluarga istriku,”
Aku menahan nafas. Sakit sekali rasanya mendengar kata
“istri” keluar dari mulut Dipta.
“Kami dijodohkan sejak kecil rupanya. Dan lagi-lagi aku
tidak pernah tahu. Lia,sayangku,”
Aku hanya diam, tidak mau membalik badan dan membiarkan
Dipta melihatku menangis.
“Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf, Lia,”
“Sudah Dipta, aku senang kamu berbahagia dengan keluarga
kecilmu. Yang lalu sudah biarkan berlalu,”sahutku.
“Aku membuatmu menangis..,”
“Sudahlah Dipta!”
“Kamu tahu, Lia, aku mencintaimu,”
Dipta mendekapku semakin erat.
Airmataku mengalir semakin
deras.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar