Sabtu, 29 Maret 2014

Daniela

Jogjakarta, 29 Maret 2014.

Apa lagi yang bisa lebih sempurna dibandingkan sore di Jogja dengan rintik hujan mengecupi jendela dan cokelat hangat tersaji manis di hadapan?

Harum.
Melati yang sedang berbunga dengan indah, setangkai mawar merah yang basah.
Tak luput, aroma tubuhmu yang entah bagaimana seperti aerosol yang menyusup ke setiap sudut kamarku.

Ah, aku merindui aroma itu.

Aroma yang biasa kuhidu setiap pagi hingga siang di sekolah,
sore, kadang malam hari di ruang duduk dan beranda.

Aroma yang meneduhkan, menenangkan.
Aku pernah berkata, aroma tubuhmu adalah satu-satunya yang mengalahkan aroma tanah basah tersiram hujan.
Dan saat itu kamu malah tertawa.
"Segitu baunya aku ya? Rasanya aku perlu memakai parfum lebih banyak, haha"
Lalu tanganmu mendarat dengan manis di hidungku.

Aroma yang, hmm, sepertinya semua perempuan suka.

Lihat saja, ke mana-mana kamu berjalan pasti ada satu dua perempuan yang beriring menyejajari langkahmu.
Hari Senin Nadia, Selasa Elisa dan Winda, Rabu Clarisa dan Mutiara, Kamis Fizka, Jumat Frezia.
Selalu begitu.
"Kamu mirip Donald Duck, haha", ujarmu setiap kali aku memprotes dengan bibir manyun.
Siapa yang tidak cemburu?
"Jangan cemburu pada satu dua menit yang menjauhkan aku dari kamu. Percaya deh, aku setia," sambungmu selalu dengan semangkuk es krim vanilla di tangan.
Tentu saja, seperti es krim di tanganmu, aku lumer.

Aku selalu suka saat-saat aku tidur di kamarmu,
atau saat kamu mengunjungi kamarku.
Aroma tubuhmu tercecer di mana-mana.
Begitu menyenangkan, menyejukkan.
Oleh karena itu, aku selalu menyempatkan diri mengunjungi kamarmu ketika aku lelah, muak dengan sekolahku, muak dengan urusan ini itu.

Kamarmu rapi untuk ukuran anak laki-laki.
Yah walaupun jaket, selimut, sarung terdampar di sana sini.
Tiga buah sketsa tangan berderet di sisi kanan kamarmu.
Selebihnya normal saja, sebuah ranjang dan kasur lipat, satu set televisi plus playstation, komputer, dan meja belajar.
Tidak banyak barang.
Sangat khas cowok.
Aku suka.

Kadang aku ketiduran di ranjangmu selepas mengamatimu belajar.
Atau malah sengaja meminta tidur di kamarmu.
Bersandar di bantalmu, mendekap selimutmu, memuaskan hidung dan pikiranku menyesap harum tubuhmu.

"Kamu senang di sini?"
Aku mengangguk.
"Ya sudah tidur saja di sini," ujarmu sembari tersenyum.
Tentu saja aku senang.
"Eh tapi ada syaratnya, kamu harus membersihkan kamarku juga setiap pagi, hahaha,"
Aku memberengut, pura-pura kesal.
Padahal jangankan hanya bersih-bersih, apapun akan aku lakukan untuk kenyamanan seperti ini.
"Eh, jangan ngambek! Hanya bercanda, hehe. Sudah, tidurlah,"
Keningku terasa lebih panas setelah bibirmu mengecupnya dan mengucapkan selamat malam.
Tidak akan pernah ada mimpi buruk yang singgah selama ada jemari yang bisa kujadikan pegangan.

****
Itu dulu, sebelum mimpi buruk akhirnya jail menyela mimpi-mimpiku.

Siang itu kamu tidak ada seperti biasa.
Aku pulang dengan lesu. Setengah sedih, tapi masih menyisakan setengah bagian dari diriku yang masih antusias menyambut sore bersamamu.

"Dia itu adikmu Dan, adik sepupumu!"
Terpaku aku di depan pagar melihat Ibu menggenggam kayu entah apa, bersimbah airmata.
Dan kamu, iya, kamu, bersimpuh berlutut di kaki ibu.
"Kesurupan setan dari mana kau ini, Dan?!! Pamali Dan, pamali!"
"Apa salahnya, Bunda? Mungkin bisa tidak saya tunjukkan, tapi tidak bisa saya hilangkan. Apa ada yang salah Bunda? Wajar saja kan laki-laki menyayangi perempuan?"
Batang kayu di tangan ibu mendarat di punggungmu. Aku berjengit.
"Kau ini sudah salah, masih bertanya apa yang salah! Tidak salah mencintai perempuan, Dan, tidak! Masih banyak perempuan di luar sana, kenapa kamu jatuhkan pilihan pada Niela?!"
"Ampun Bunda, bukan saya yang memilih, Bunda. Cinta yang memilih. Dan saya percaya tidak ada yang salah. Toh saya menjaga Niela, melindungi Niela, mengasihi Niela, bukan menyakiti Niela,"
Kembali batang kayu itu terangkat.
Tapi kali ini, alih-alih mengenaimu, batang itu menghantam tubuhku.

Aku turut bersimpuh di kaki perempuan yang selama ini aku panggil Ibu.
Ibu, yang merawatku sejak aku terpisah dari orangtuaku.
Ibu, yang memenuhi segala kebutuhanku.
Ibu, yang mengasihi aku seperti anaknya sendiri.
Aku, Niela yang tunawicara.

Beribu-ribu kali aku memohon ampunan bagimu.
Ibu hanya diam.
Kukatakan aku yang salah, bukan kamu, tidak pernah kamu.
Kukatakan aku yang mencintaimu, bukan kamu, tidak pernah kamu.
Kukatakan aku yang pantas dihukum, bukan kamu, tidak pernah kamu.
Kukatakan aku yang durhaka, bukan kamu, tidak pernah kamu.

Batang kayu itu jatuh, lepas dari tangan ibu.
Mata ibu sayu.
Mata ibu kosong.
Ibu lalu pergi begitu saja. Tanpa ada satu kata pun terucap.

Aku memandangmu yang memandang nanar.
Abangku.
Yang telah lebih dari tiga tahun untuknya aku menyimpan rasa yang salah.
Aku memelukmu kuat-kuat.
Sahabat terbaikku, kakak paling hebat, pelindung paling ampuh, penjaga paling handal, kekasih yang paling setia.
"Semua harus berakhir, Niela. Aku abangmu, kamu adikku," tuturmu lemah.
Meledaklah tangisku di bahumu.
****
Jogjakarta, 29 Maret 2014

Adakah yang bisa lebih tak terduga selain datangnya gersang di tengah penghujan?

Kutatap lekat-lekat matamu di foto yang sengaja kucetak besar.
Mata sahabat terbaikku, kakak paling hebat, pelindung paling ampuh, penjaga paling handal. Tapi bukan kekasih yang paling setia.

Sebab kamu lebih mencintai maut yang mengecupmu lewat pecahan kaca malam itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar