Aku pulang, Bunda.
Ke pangkuanmu, ke haribaanmu.
Aku pulang, Bunda.
Ke pelukanmu, ke dekapanmu.
Aku pulang, Bunda.
Menyangga segenggam penuh kerinduan.
Menopang segunduk besar harapan.
Merambati satu per satu sulur kasih sayang yang Bunda ulurkan.
Aku pulang, Bunda.
Berderai air mata melintasi senja di Jogja.
Bertetes embun menggantung di kaca-kaca jendela di sisiku.
Bersama hening merayapi jalanan dan langit-langit yang entah bagaimana terasa sangat panjang.
Aku pulang, Bunda.
Bukan untuk membawa luka.
Aku pulang, Bunda.
Hanya ingin sejenak tertawa.
Bukan hendak megheningkan cipta.
Hanya ingin sejenak menghirup lega.
Aku pulang, Bunda.
Meminta secuil bahu dan punggung ayah bunda.
Aku pulang, Bunda.
Berlindung di balik puing keteguhan yang kutimang sendiri.
Lihat apa yang kubawa, Bunda.
Kunang-kunang kuning bermata bening.
Jangan ditanya dari mana muasal, Bunda.
Yang kutahu makhluk ini indah.
Boleh aku menyimpan, Bunda?
Setidaknya sebagai suar ketika aku tersesat dalam gelap.
Aku pamit, Bunda.
Bukan dengan membawa beban baru yang harus kutanggung.
Aku pamit, Bunda.
Berlepas dari kasih sayang aku ditimang.
Aku pamit, Bunda.
Aku mau berjuang.
Aku pamit, Bunda.
Biar saja Srikandimu mati di medan laga.
Bilapun begitu, Bunda,
selimuti jasad ini dengan doa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar