Sabtu, 01 Maret 2014

Anjing! :)

Sabtu, 1 Maret 2014.

Senja.
Grha Sabha Pramana.

"Apa yang kamu lihat?"
Aku tertegun mendengar pertanyaan Sean.
"Seperti yang kamu lihat juga sepertinya," sahutku.
Sean menggeleng.
"Aku tahu pikiranmu bermain lebih jauh dari pikiranku, bahkan dari langkah kaki kita berdua,"
Aku tertawa, menggenggam tangan hangat Sean lebih erat.

Jumat, 1 Maret 2013

Senja.
Grha Sabha Pramana.

Buru-buru aku berlari mengelilingi gedung besar ini.
Grha Sabha Pramana memang selalu ramai dengan lalu lalang orang-orang berolahraga di sore hari,
tapi bukan dalam rangka itu aku berlari sekarang.
Hingar suara UKM Marching Band yang sedang berlatih jadi latar belakang yang entah kenapa terasa pas.
Aku sudah terlambat 30 menit dari yang kujanjikan.
Aku benci mengecewakan orang lain, meskipun hal itu disebabkan hal tak terduga,
oleh karena itu aku berusaha sedikit memperbaikinya.

"Guk!"
"Duk!"
"Pyar!"
"Anjing!"

Tiga bebunyian dan satu makian sukses meluncur dari mulutku di waktu yang hampir bersamaan.

"Guk!" untuk suara anjing yang tiba-tiba menyalak di belakangku.
"Duk!" untuk kepalaku yang membentur tumpukan piring yang sedang diusung pegawai katering.
Dan "pyar!" untuk tumpukan piring yang kemudian berhamburan di paving.

"Anjing!" umpatku pada anjing yang menatapku polos.
Dasar anjing, mau dimaki seperti apapun dia tak akan mengerti apa yang kuucapkan.
Percuma. Toh memang sudah kodratnya menyalak, walaupun entah kenapa secara tiba-tiba di belakangku.
Buru-buru aku meminta maaf pada pegawai katering yang kubuat kacau kerjaannya.

"Maaf. Aku Sean,"
Aku menoleh ke pegawai katering yang memandangku bingung.
Sepertinya bukan dia yang bersuara.
"Ehm, mbak, ada yang bisa saya bantu?"
Aku kembali menoleh.
Sekarang jelas siapa yang sedang berbicara.
Sean. Pemilik anjing.

Aku mendengus. Menggeleng. Dan buru-buru berlari lagi. 

Sabtu, 1 Maret 2014

Senja.
Grha Sabha Pramana.

"Anjing," ujarku.
Sean tertawa berderai-derai.
"Namanya Rocky, Erlita, hahaha,"
Mau tak mau aku tersenyum, dan tertawa juga.

Grha Sabha Pramana masih tetap ramai.
Siluet pepohonan yang membentuk kanopi di sisi baratnya menaungi aku dan Sean berjalan di bawahnya.
Pemandangan dari sisi ini selalu menjadi favoritku.
Grha Sabha yang berkilau tersepuh mentari senja, gedung perpustakaan pusat di belakangnya, dan tentu saja Pertamina Tower yang menjulang angkuh.

Aku melirik jari manisku.
Ada cincin perak tersemat di sana.
Sama seperti di jari manis orang yang menggandengku sekarang.

"Lihat di sana Erlita. Betapa bahagia sungguh sederhana," tutur Sean.
Mata kami tertuju pada keluarga sederhana. Ayah, bunda, dan 3 anak mereka yang masih kecil.
Ada becak tua terparkir di dekat mereka.
Sang ayah mengelap wajah dan menyampirkan handuknya ke stang becak.
Sang bunda menemani seorang anak lelakinya bermain dengan rumput dan tanah.
Dan si kecil, seorang gadis manis berkuncir dua dan adiknya yang masih balita tertawa-tawa berlari mengejar seekor golden retreiver.

Aku tersenyum.
"Lagi-lagi anjing," ujarku di tengah tawa kecil kami.
Sean tertawa dan mengacak rambutku.

"Bahagia itu sederhana Sean. Cukup dengan begini selamanya,"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar