Ingatanku berputar kembali ke beberapa tahun lalu,
saat aku dan Yos pertama kali bertemu.
Sungguh, aku dan Yos bagaikan langit dan bumi.
Tidak ada ceritanya di dalam kamus hidupku aku akan jatuh sebegini dalam padanya.
Yos mahasiswa Filsafat.
Aku mahasiswa Kedokteran Gigi.
Yos dengan rambut gondrong dan brewoknya.
Aku setia dengan blouse dan minidress.
"Hai, salam kenal," sapanya saat itu.
Aku mengernyit. Tersenyum, mencoba membalas keramahannya.
"Salam kenal juga mas, saya Diandra, Kedokteran Gigi 2013"
"Yosa, nggak perlu pakai mas. Filsafat, 2013"
"Oh.. maaf mas, saya kira mas kakak angkatan saya," sahutku malu-malu.
Yos tertawa.
"Aku tahu, aku tahu. Pasti karena rambut gondrong dan kumisku kan? No problem. Senang berkenalan denganmu Diandra," ujar Yos sambil mengedipkan satu matanya dan bergegas berlalu.
Itu tiga tahun lalu, saat kami berdua sama-sama masih mahasiswa baru.
Waktu itu kami tidak sengaja bertemu di salah satu acara kepanitiaan kampus.
****
Kesan pertamaku atas diri Yos : menarik.
Aku tidak bisa mengidentifikasi apa sebenarnya yang membuat Yos tampak menarik di mataku.
Mungkin karena dia berbeda dari laki-laki di lingkunganku?
Mungkin karena sikap jaga jarak tapi ramah dengan semua orang?
Mungkin karena parasnya?
Entah.
Aku ingin menggali lebih jauh dari sekadar tatapan bening mata cokelat Yos.
Entah kenapa juga hubungan kami berlanjut usai pertemuan yang tidak disengaja itu.
Awalnya hanya sekadar saling meneruskan pesan dari kepanitiaan dan organisasi yang sama-sama kami ikuti.
Semakin hari percakapan melalui aplikasi pesan singkat kami mulai melebar ke mana-mana.
Tentang Yos.
Tentang aku.
Tentang kuliah Yos.
Tentang kuliahku.
Tidak bisa kupungkiri hadirnya Yos cukup membuatku senang.
Sehari saja aku tidak mendapatkan pesan darinya, rasanya kosong sekali.
"Kamu mau ikut kuliah di Fakultasku?" tanya Yos suatu hari.
Aku mengernyit.
"Memangnya bisa?"
Yos tertawa.
"Jawab saja mau atau tidak. Urusan bisa atau tidak itu urusanku nanti,"
Aku berpikir sejenak. Tawaran Yos cukup menarik. Kapan lagi coba aku bisa lepas dari rutinitas kuliah-praktikum sepanjang hari?
"Mau," jawabku.
Yos terkekeh.
"Oke, temui aku di kantin Filsafat besok Selasa pukul 10 pagi,"
Aku mengangguk.
"Oh, satu lagi, tolong berpakaian yang normal. Maksudku, please, nggak ada mahasiswa Filsafat yang kuliah dengan sepatu pantofel dan rok bunga-bunga. Jadi tolong berpakaianlah seperti mahasiswa pada umumnya. Paham kan?" imbuhnya.
Aku tertawa dan mengangguk.
Selasa pagi yang dijanjikan,
aku datang ke Fakultas Filsafat dengan kemeja ungu yang lengannya kugulung hingga siku, celana jeans belel dan sepatu keds.
Yos datang dan tertawa terbahak-bahak melihatku.
"Gila kamu ya! Beneran datang!" serunya.
Aku terkekeh.
"Kesempatan yang sama tidak datang dua kali. Jadi ya kenapa tidak?" tukasku.
Yos tertawa semakin kencang.
"Sebaiknya kuberitahu kamu sekarang sebelum terlambat. Tolong jangan dengarkan apapun yang teman-teman katakan ke kamu. Eh maksudku, bolehlah dengarkan, tapi kusarankan jangan kamu masukkan ke hati. Ok?"
Aku tidak paham. Memangnya apa yang akan dikatakan teman-teman Yos sampai aku tidak boleh memasukkan ke dalam hati?
Yos berhenti tertawa dan memandangi wajah bingungku.
"Ah sudahlah, nanti kamu akan tahu sendiri,"
Tak berapa lama kemudian aku mendapatkan jawabannya.
Seakan aku menjadi pusat perhatian ketika berjalan di sisi Yos, semua mata sibuk menatapku dan mencoba mengenaliku.
"Pacarmu Yos?" tanya seorang anak laki-laki sambil menghembuskan asap rokoknya. Yos tidak menjawab, hanya tertawa.
Pertanyaan itu muncul lagi dari orang yang kutemui di lorong depan kelas.
Frekuensinya semakin banyak ketika kami semakin mendekati kelas.
Muka Yos tampak santai menanggapi semua itu.
Sekarang aku mengerti kenapa Yos memintaku untuk tidak memasukkan semua pertanyaan itu ke dalam hati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar