Selasa, 21 Agustus 2018

Part 1-6

Perlahan-lahan aku menarik diri dari kehidupan Yos.
Beberapa kali aku menolak ajakan Yos untuk makan bersama, pergi ke perpustakaan, makan es krim dan melakukan hal-hal lain yang sering kami lakukan bersama sebelumnya.

"Kamu sibuk sekali ya akhir-akhir ini Di," ujar Yos.
Aku mendengus. Sore ini aku dan Yos bertemu di perpustakaan dan akhirnya berbincang.
"Maaf Yos, kegiatan praktikum semester ini padat sekali," kilahku.
"Bahkan di akhir pekan?"
Aku mengangguk, ragu.
Aku yakin Yos cukup cerdas untuk menyadarinya.

"Besok Sabtu malam kita nonton bola yuk," ajak Yos.
"Ke mana?"
"Stadion lah, masa ke pasar?" jawab Yos sembari tertawa, mencoba bercanda.
"Cuma berdua?"
"Enggak sih, ramean. Sama kakakku, sekalian sama temenku dan adiknya," jawab Yos.
"Temanmu laki-laki?"
"Eh.. enggak, perempuan kok, jadi kamu nggak perempuan sendiri gitu nanti di sana,"
Aku merasakan sesuatu yang tidak biasa.
Yos tidak seterbuka biasanya.
"Temanmu eh anu, siapa namanya?"
"Sabrina, Sabrina Aulia. Besok kukenalkan kalian berdua,"

Dadaku sesak tiba-tiba.

"Oh, maaf ternyata aku sudah ada agenda Sabtu malam nanti jadi nggak bisa ikut. Kirim salam dariku untuk kakakmu, Sabrina dan adiknya. Selamat bersenang-senang kalian," ujarku.
Bergegas aku membereskan laptop dan buku yang berserakan di atas meja sebelum airmataku tumpah di depan Yos.

"Loh? Kamu mau ke mana Di?" tahan Yos
"Maaf Yos, aku buru-buru. Permisi," ujarku sembari menyentakkan tangannya dan berlari keluar dari gedung perpustakaan.
Airmataku tumpah seketika.

Nina benar.
Yos brengsek.
Yos jahat.
Mau-maunya aku dipermainkan.

Oh tidak! Tidak!
Yos tidak jahat, Yos bukan laki-laki brengsek.
Ini semua karena aku, karena kebodohanku.
Bagaimana bisa dengan bodohnya aku jatuh cinta pada Yos, mengira aku istimewa baginya, mengira aku satu-satunya di hatinya.
Bodoh!
Bodoh sekali!

Sialan!
Kenapa semua ini harus terjadi ketika aku bahkan baru menyadari perasaanku kepada Yos?

Tidak! Tidak!
Aku harus menjauh dari hidup Yos.
Aku harus membiarkan Yos bahagia bersama perempuan pilihannya.
Aku tidak boleh egois.
Yos tidak mencintaiku, aku tidak boleh memaksanya terus bersamaku, dan memperlakukannya seperti analgesik yang mengurangi rasa sakit.
Ini tidak benar.
Aku harus pergi dari hidup Yos.

****

"Kamu kenapa? Kenapa kamu jadi dingin begini? Aku salah apa sama kamu Di?" tanya Yos.
Ombak laut selatan Jawa menjilati kaki kami berdua.

Aku menoleh.
Ingin rasanya kukatakan semuanya, mendampratnya dengan segala kosa kata kasar yang kupunya, tapi yang keluar hanya gelengan kepala.

"Aku nggak papa Yos,"

"Bohong. Kita hampir tidak bicara selama sebulan, dan kamu bilang kamu baik-baik saja?"

"Betul, aku baik-baik saja,"

"Aku nggak paham sama kamu. Kamu punya masalah apa? Kenapa kamu nggak cerita ke aku? Kenapa kamu terkesan selalu menghindari aku?"

Masalahku itu kamu Yos. Aku mencintai kamu sementara kamu mencintai Sabrina. Bagaimana aku bisa menceritakan semua ini ke kamu Yos? Tolong!

"Diandra, please, aku bisa bantu apa? Tolong kasih tahu aku seandainya aku bisa membantu. Aku nggak pengen kamu kenapa-napa,"

"Yos, aku baik-baik aja. Mungkin aku hanya sedang lelah dengan kegiatan kuliah, praktikum dan organisasi yang kuikuti. Kamu jaga kesehatan ya," jawabku.

Di perjalanan pulang takut-takut kulingkarkan lenganku ke pinggang Yos.
Kusandarkan kepalaku ke punggungnya yang kokoh dan menghirup aroma tubuhnya dalam-dalam. Jika aroma ini bisa kusimpan, maka aku ingin menyimpannya banyak-banyak.

Yos, aku pamit.

****

Itulah sore terakhirku bersama Yos.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar