Kalau ini benar, kenapa rasanya begitu menyakitkan?
Luka.
Hari ini semua terluka.
Bukan hanya kamu, tapi juga aku, juga dia.
Obat selalu pahit di awal bukan?
Tapi kalau dengan menelan pahitnya aku bisa membuat segalanya lebih baik tentu akan kulakukan.
Tidak pernah ada niat menyakiti.
Tuhan sendiri bilang tiap perbuatan akan dibalas setimpal meskipun hanya sebesar zarrah.
Aku tidak ingin disakiti, maka pantang menyakiti.
Aku ingin bahagia, maka aku harus mengusahakan semua orang bahagia.
Tapi hidup adalah pilihan.
Tidak mungkin aku menggenggam kalian dalam satu hati toh?
Dan demi Tuhan memilih itu tidaklah mudah.
Keharusan memilih merobekku, merobekmu, merobeknya, , merobek kita semua.
Kalau dengan wajah yg begini aku justru melukai banyak orang, sungguh akan lebih baik bila wajahku berubah.
Jika dengan kebaikan hati justru aku menyakiti, mungkin aku harus belajar berperan antagonis.
Tidak ada yang salah, sayang, tidak ada.
Waktu yang membawaku padamu dan membawamu padaku.
Tapi waktu juga yang merenggutmu dariku, merenggutku darimu.
Tidak ada yang keliru, sayang, tidak ada.
Hanya angin sudah berubah arah.
Bukan lagi menujumu aku berlabuh.
Tidak ada yang bisa kupaksakan, sayang, tidak ada.
Sekalipun aku ingin memaksakan semua baik-baik saja.
Sakit tidak hanya milikmu.
Tapi pun milikku dan miliknya.
Selamanya kita tahu kita tidak akan lupa.
Kita semua harus belajar saling mengikhlaskan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar