Sabtu malam yang basah.
Diam-diam aku menertawakan derita muda mudi yang batal keluar untuk bercengkrama.
Sebaliknya denganku,
hujan justru membawa teduh yang luar biasa untukku.
"Aku juga suka hujan, Tania," ujar Fina ketika suatu saat kami duduk bersama di bangku taksi yang nyaman, menembus hujan yang tiba-tiba turun di siang bolong.
"Kenapa?"
"Oma pernah bercerita,
dahulu kala, hidup seorang Putri di negara antah berantah. Tetapi tidak seperti putri-putri lain di dalam dongeng, putri yang satu ini amat buruk rupa. Hal ini membuatnya malu bahkan untuk sekedar keluar dari kamarnya.Tentulah hal ini membuat Raja dan Ratu amat berduka,"
Fina mengambil nafas sejenak.
Hmm, kemacetan semakin parah.
"Sampai akhirnya sang putri berusia 17 tahun. Dia tetap tumbuh menjadi gadis pemurung dan tertutup. Akan tetapi, suatu hari, entah apa gerangan yang melangkahkan kakinya ke hutan di belakang Istana. Sang Putri menghirup udara di luar istana untuk pertama kalinya. Terkagum-kagum dia memandang sekeliling. Bunga-bunga mekar, suara burung ramai bersahutan. Gerangan apa yang membuat kecantikan semacam ini? Tanyanya dalam hati.
Namun, tak lama kemudian rintik hujan mulai turun,"
Aku mulai memperhatikan cerita Fina.
Lumayan juga untuk mengalihkan perhatian dari macet yang semakin menggila.
Warna-warni pelangi payung semakin ramai menjejali pinggir jalan.
Ah, tidak sadar aku menyentuh payung transparan miliknya yang kubawa ke mana-mana.
Sudah hampir setahun yang lalu.
"Begitu seterusnya. Setiap senja sang putri masuk ke hutan, kemudian bercengkrama dengan bebungaan hingga hujan turun. Ah, mengapa hujan selalu saja mengganggu cengkramaku? Tidakkah hujan tahu betapa senang aku akhirnya bisa menghirup udara bebas? Selalu begitu rutuknya setiap kali dia terpaksa pulang karena hujan,"
"Setengah revolusi bumi berlalu. Memasuki musim kemarau, hujan tak lagi mengganggu cengkerama sang putri di hutan. Tentu saja hal ini membuat sang putri senang.
Namun, kerajaan dilanda kemarau panjang. Kekeringan menyebabkan gagal panen di mana-mana, kematian akibat kelaparan meningkat, endemik penyakit meluas.
Raja dan Ratu kelimpungan. Sang Putri juga merasa hutan kecilnya berubah. Air sungainya yang jernih kini menyusut perlahan-lahan. Suara burung-burung kini mulai sepi. Daun-daun menguning dan rontok dengan lesu. Bebungaan, jangankan mekar, yang tersisa hanyalah kelopaknya yang kering dan kisut.
"Sang Putri tahu ada yang hilang. Apa yang salah berbulan-bulan ini? Sedekah bumi masih taat kami lakukan, sembahyang tak pernah kami tinggalkan, apa yang salah? Gumam Sang Putri yang sedang berpikir keras. Kemudian dia ingat apa yang tak lagi dia lakukan : merutuki hujan. Ya, dia tidak lagi merutuki hujan karena hujan sudah tiada. Ya, Hujan! Pekiknya.
Sang Putri perlahan memikirkan kembali semuanya. Dia merutuki hujan, padahal hujanlah yang membuat hutan kecilnya benderang. Dia mengusir hujan, padahal hujanlah yang membawa anugerah untuk negerinya. Maka sang putri memutuskan untuk berdamai dengan hujan. Dengan setia dia memanggil nama Hujan di tepi hutan kecilnya. Berharap hujan akan segera datang,"
"Kau tahu Tania, kadang kita sering acuh terhadap orang-orang yang selalu membantu kita dan menyayangi kita dengan diam-diam. Seringkali kita hanya melihat keburukan yang ditimbulkan, bukan kebaikan yang bahkan jauh lebih besar," ujar Fina. Aku mengangguk. Fina kembali melanjutkan cerita.
"Tubuh Sang Putri mulai melemah saking seringnya dia lupa untuk makan. Sungguh, dia berharap hujan segera datang. O hujan, sebegini besar sesalku, mengapa pula kau tak kunjung menghampiriku? O hujan mulia, tidakkah kau lihat penderitaan yang timbul selepas pergimu? Tegakah engkau wahai hujan?! serunya,"
"Suatu senja, tubuh Sang Putri benar-benar lemas, dia bahkan tak lagi bisa menggerakkan bibirnya untuk menyeru hujan. Tetapi hujan justru turun membanjir di matanya. Datanglah hujan, segera.. Mata sang Putri terpejam.
Hujan sebenarnya tidak pernah acuh terhadap panggilan Sang Putri, hujan melihat, hujan mendengar. Hujan bukan tidak ingin berdamai dengan Sang Putri, hujan tidak pernah menyimpan dendam. Tetapi hujan juga tidak bisa selamanya berada di sana. Keberadaannya justru akan menimbulkan petaka. Hujan harus terus berganti tempat untuk memakmurkan bumi. Perlahan, hujan turun dari langit mengecupi tubuh sang Putri yang beku. Mencumbui kembali tanah kerajaan yang telah lama ditinggalkannya. Semua orang berseri, semua orang berbahagia menyambut kembalinya hujan."
"Kau tahu Tania, diperlukan pengorbanan untuk mendapatkan kebahagiaan yang lebih besar. Aku suka hujan, Tania, yang tidak pernah mendendam, yang mau mendengar, yang tetap menunaikan tanggungjawab sesuai porsinya, yang tidak egois, yang memberikan berkah dalam diam. Dan ketika dia pergi, orang-orang baru sadar betapa berarti keberadaannya," pugkas Fina.
Aku tersenyum. Berterima kasih atas cerita Fina.
Hujan di luar sana,
seseorang yang kurindukan pasti sedang berada di antara milyaran manusia yang memandang hal serupa.
Hujan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar