November.
Sudah mulai memasuki penghujan.
Dingin.
Malam ini aku terlambat pulang.
Pekerjaan yang menumpuk,
menghambat lajuku pulang,
membuat aku terjebak di kota ini malam ini.
Sekali lagi.
Terminal Tidar sepi.
Malam yang terus merangkak naik tak menggubris gigil yang ditimbulkan serangkaian gerimis sejak pagi hingga malam ini.
Hmm, harum basah tanah Magelang yang amat aku rindukan menguar.
Yang kuingat dari terminal ini adalah dulu sekali aku berlarian bersama Ibu,
turun dari bus antarkota yang membawa kami pulang ke haribaan tanah ksatrian ini,
kemudian mencari angkot biru yang akan membawa kami pulang ke rumah.
Ah, ingatan usang yang entah bagaimana tidak pernah hilang.
Malam ini aku pulang.
Magelang tetap sama.
Dari rahim Tidar-nya lahir beribu ksatria, tunas-tunas pemimpin bangsa.
Tidar yang tenang, tidak pernah grusa grusu.
Wangi jalannya masih sama.
Mawar, kenanga, sedap malam, yang selalu menjadi favorit Ibu.
Juga favoritku.
Ah, apalagi ketika pagi datang.
Aku selalu suka dialektika masyarakatnya yang asih, santun.
Tidak pernah sedikitpun aku berburuk sangka pada orang-orang di dalamnya.
Kegiatan pasar lebih dari sekedar memesona.
Selalu menyenangkan berada di tengah hiruk pikuk percakapan bahasa Jawa dari ibu-ibu berkebaya.
Senyum-senyum simpul dan bungkukan terima kasih pedagang kepada para pembelinya.
Pun salam yang selalu tersampaikan tiap bertemu orang lain.
Dulu aku senang sekali berjalan digandeng nenek dan ibu,
menyusuri gang-gang pasar Kebonpolo.
Menarik-narik baju ibu, merengek meminta jepit rambut kupu-kupu.
Getuk Magelang dan salak pondoh adalah dua hal wajib yang harus ada dalam daftar belanjaan.
Taman-taman bermain di tengah kota masih ada, masih sama.
Dengan ayunan dan patung-patung aneka rupa binatang,
yang aku ingat sering kunaiki dan meminta Bapak mengambil gambarnya.
Museum Sudirman masih berdiri di belakang taman itu.
Aku ingat dulu aku ternganga takjub melihat tandu yang membawa Sang Jenderal Besar bergerilya keluar masuk rimba.
Ada manusia setangguh itu.
Lalu patung Diponegoro yang banyak kutemui di sepanjang jalan menuju rumah.
Aku ingat dulu aku sempat bertanya mengapa Diponegoro yang dijadikan simbol militer Jawa Tengah, bukan Sudirman.
Hijau di sepanjang jalan menuju rumah.
Kompleks-kompleks perumahan militer yang elegan tapi tetap garang.
Gerbang Akademi Militer yang tegak menjulang, dengan pedang emasnya.
Jujur sekali, tanpa tedeng aling-aling menyiratkan kawah candradimuka yang siap menelurkan jiwa-jiwa pembela kedaulatan Republik.
Kemudian menuju rumah akan melewati salah satu sekolah terbaik yang namanya terus didengungkan di telingaku bahkan sebelum aku masuk sekolah.
Taruna Nusantara.
Yang ibu bilang itu sekolah istimewa, tempat putra putri terbaik Indonesia berkumpul belajar bersama di dalamnya.
Yang bapak bilang itu sekolah istimewa, hanya anak-anak terbaik Indonesia yang bisa masuk ke dalamnya.
Itu yang didengungkan terus menerus di telingaku sejak aku belum juga merasakan bangku sekolahan.
Dan akhirnya terngiang terus sampai sekarang. Bahkan ketika beragam regulasi berubah.
Rumah tempatku pulang termasuk kompleks militer dulunya.
Sekarang setahuku sudah banyak dihuni sipil.
Rumah yang sejuk.
Dengan pohon rambutan (yang selalu dipanjat oleh kakak-kakakku ketika lebaran) di depannya, dan bunga-bunga cantik yang rajin dirawat nenek.
Sekilas aku bisa mengingat nama kawan-kawan mainku di sana.
Apa kabar kakak cantik yang rumahnya di ujung jalan?
Apa kabar juga anak laki-laki sebayaku yang tinggal di rumah seberang?
Dulu cat rumah ini kuning muda, dengan gorden merah bermotif angsa-angsa terbang.
Sekarang, setelah dipindah tangan, cat-nya menjadi putih, dan penuh stiker di jendelanya.
Pohon rambutan itu masih ada, tapi tidak dengan bebungaannya.
Panggung di dekat gerbang masuk masih ada.
Selalu saja tertawa kalau ingat dulu pernah mencoba melompat dari atas panggung dan kemudian meninggalkan jejak luka di kaki dan sikuku.
Masjid kompleks, yang sama dengan masjid di semua kompleks militer lain, masih utuh, bercat hijau khas militer.
Ada dua beringin kembar di kanan kiri jalan masuknya.
Kata ibu, beringin itu ditanam pada tahun yang sama nenek meninggalkan Magelang.
Beringin itu sudah besar sekarang.
Akar-akar gantungnya sudah lebat menyentuh tanah.
Benar-benar menjadi penanda berapa lama aku tidak pulang.
Ada beberapa bagian Magelang yang berubah, terkena dampak modernisasi.
Pusat-pusat perbelanjaan pun didirikan.
Aku tak ingat tempat apa itu sebelumnya.
Sudah terlalu lama aku tidak pulang.
Magelang mulai panas kurasa.
Tapi tetap aku rindukan.
Tetap ada denyar yang berbeda tiap melewati gerbangnya.
Malam ini aku pulang ke kota penuh Harapan.
*Terminal Tidar, Magelang, 1 November 2013*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar