Jumat, 08 November 2013

Tuan Payung (Hujan)

Akhir-akhir ini langit seperti muntab,
tanpa ampun mengguyur kami-kami di bumi dengan limpahan airnya.
Mungkin membalaskan dendam kemarau berkepanjangan tahun ini.
Sudah menginjak akhir tahun lagi.
Semestinya sama dengan tahun-tahun sebelumnya, musim hujan akan datang di akhir bulan begini,
semestinya payung selalu siap sedia menemani.
Tapi tidak denganku.

Berapa kali aku terpaksa harus berlarian menembus hujan karena lalai yang sederhana ini.
Berapa kali pula aku harus berteduh, rehat sejenak akibat alpa yang sederhana ini.

Seperti juga hari itu.
Awal jumpa yang lucu.
Kita.
Dua manusia yang diderasi hujan.
Sama-sama menepi, sebelum kemudian bertukar sapa dengan cokelat hangat.
Memilin senyum dengan tanda tanya.
Siapa?
Yang malah tertukar dengan gumam "Kacamatamu basah"

Kamu yang dengan santai kemudian menoleh heran.
Kemudian mengambil dan mengelap kacamatamu dengan santai.
"Kan hujan," sahutmu.
"Lalu?"
"Hujan itu air. Apapun yang terkena air akan basah," jawabmu lagi.
Kembali berkutat dengan cokelat hangatmu.
Aku ikut menunduk menekuri gelas cokelat panasku.
Sepasang muda-mudi dengan payung biru tua lewat di depan kedai kami berteduh.
Tertawa.

"Kuliah?" tanyamu.
Aku menoleh kaget. Kemudian mengangguk sesopan mungkin.
"Kelihatan kok," ujarmu lagi.
"Lalu kenapa bertanya?"
"Pertanyaan penting untuk membuktikan hipotesamu,"
"Oh ya? Hipotesa apa lagi yang kamu punya tentang aku?"
"Kenapa kamu mengira aku punya hipotesa lain tentang kamu?"
"Memangnya tidak ada?"
"Hmm, mungkin ada. Mungkin juga tidak,"
Aku mengangkat bahu.

Pengunjung kedai kian ramai.
Hujan belum juga menunjukkan tanda-tanda hendak reda.
"Hujan begini akan lama redanya," gumammu lagi.
Aku memandang heran.
"Kau ini pawang hujan? Atau peramal cuaca?" sahutku jengah.
"Bukan keduanya. Begini ini namanya membaca alam. Tuhanku meminta umatNya untuk membaca, apapun," ujarmu. Kali ini disertai senyum.
Ada diastema di geligi kiri atasmu. Lesung pipit tetiba terbit di dua belah pipimu.
Aih, mata kanak-kanak yang bersinar.
Aku mengangguk sepakat.

"Lihat, awannya putih, bukan hitam gelap. Kalau putih begini tandanya hujan akan lama, kalau hitam gelap hujan biasanya deras, tapi sekaligus langsung selesai,"
Aku hanya menggut-manggut.
Cokelat panasku tinggal beberapa tetes saja.
"Kamu harus belajar untuk lebih memperhatikan lagi," ujarmu masih dengan senyum menggemaskan itu.
Mau tak mau aku ikut tersenyum.
Kami lalu diam untuk waktu yang entah bagaimana lama sekali merangkak.

Sampai kemudian kamu mencangklong ranselmu.
"Hujan mulai reda. Aku harus pergi," ujarmu.
Aku menilik ke luar jendela. Masih ada sisa-sisa gerimis yang tertinggal.
"Tapi kau tak boleh pergi tanpa payung!" perintahmu.
Aku melongo.
Memangnya siapa kau? Ah, bahkan namamu siapa saja aku tidak tahu.
"Pilihlah salah satu, pakai payung ini atau tinggal di sini sampai hujan benar-benar reda," ujarmu sebelum aku sempat membantah apapun.
Payung transparan tergeletak di atas mejaku.
Aku kembali bingung dibuatnya.

"Ah, aku buru-buru! Apapun keputusanmu, payung itu milikmu, pakailah sesukamu. Aku pergi dulu! Terima kasih bincang-bincangnya sore ini," ujarmu sembari tersenyum sekilas lalu beranjak keluar dari kedai.

Hanya senyummu yang kuingat.
Merembes masuk ke memoriku bersama dengan gerimis yang pelan-pelan membasahi bumi, membasuh kemarau yang kering.
Ah, siapa namamu Tuan Payung?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar