Jumat, 08 November 2013

Seandainya Takdir tak Sekejam Ini pada Kami

Duhai Kakanda yang aku kasihi,
bukan, bukan aku yang meminta jadi begini.
Oo, Dewata, kejam sekali takdir mempermainkan perasaan.

Namaku Drupadi, Putri Pancala.

Nama yang bukan sembarang nama.
Yang pada masanya menjadi pertaruhan, sayembara harga diri para Ksatria.

Namaku Drupadi, Putri Pancala.

Hari ini aku bersumpah,
kelak di Kurusetra, aku akan keramas darah Dursasana!

Oo, kakanda yang aku kasihi,
Oo, Dewata yang mombolak balikkan hati.

Belum cukupkah pengabdianku sebagai seorang istri?
Sehingga layak dibagi-bagi,
bahkan di atas meja judi.

Oo, kakanda yang aku kasihi, yang selalu bersinar tanpa cela,
Ingatkah kanda pada dinding-dinding Pancala yang hening bersaksi,
kepada siapa hati ini kemudian menjatuhkan diri.
Bukan kanda, bukan karena kau seorang ksatria,
ingatkah kau pada jubah brahmana yang kau kenakan sebagai mimikri?
Bukan kanda, bukan aku tidak tahu apa-apa,
lakumu jelas menyiratkan siapa kau sesungguhnya.
Tapi benar kanda, aku tahu aku akan mengabdikan hidupku sepenuhnya untukmu.

Oo, kakanda yang aku kasihi, Baratasresta,
yang patuh kepada Ibunda.
Kau tahu kanda, hanya tubuhku yang bersedia kubagi dengan para saudaramu.
Karena titahmu kanda, yang membaktikan diri seutuhnya pada Ibunda.
Tapi bukan hatiku,
bukan pula hasrat berpikirku.
Namaku Drupadi, kanda, nama yang bukan sembarang nama.

Oo, kakanda yang aku kasihi, Sang Jisnu,
Yang hebat ketika marah.
apa dayamu kanda?
Melihat wanita tak berdaya ini begitu saja pasrah dipermainkan di meja judi.
Setengah mati aku mendaras kanda, agar yang telah kuserahkan padamu sepenuh hati tidaklah dapat menjadi orang lain di atas meja judi ini.
Namaku Drupadi, kanda, yang bersumpah akan keramas darah Dursasana!

Oo, kakanda yang aku kasihi, Purusaresaba,
kurang apa aku berbakti kanda?
Bahkan ketika aku tahu kau membagi hati.
Bukan kanda, bukan aku yang meminta begini.
Kau sendiri yang tak pernah membela diri,
merelakan Drupadi yang kau kasihi menjadi milik kakak-adikmu semua.
Bukan kanda, sungguh kalau Dewata menghendaki, aku memilih membagi hidup hanya denganmu seorang.
Duhai kakanda, sembah sujudku sebagai seorang istri yang senantiasa melaksanakan bakti.
Meski sakit rasanya melihatmu membagi hati.

Oo, kakanda yang aku kasihi, Sang Bibatsu,
tidakkah kau malu melihat wanitamu menitikkan airmata di hadapanmu?

Oo, kakanda yang aku kasihi, Sang Dananjaya,
tidak bisakah kau cabut saja anak-anak panahmu dan melesatkannya pada Sata Kurawa ini?
Tidakkah kau ingin melindungi wanitamu, kanda?
Aku bersumpah, andai kau bukan orang yang kupilih untuk membaktikan diri,
niscaya aku juga akan mencerabut jantung dari dadamu seperti halnya yang kulakukan pada Dursasana kelak.

Namaku Drupadi, kanda.
Nama yang bukan sembarang nama.
Nama yang hanya padamu aku bersumpah mendedikasikan diri.
Nama yang hanya untukmu menjatuhkan hati.
Ingat namaku kanda, di sela tapa dan tidurmu, dengan siapapun di sisimu.
Namaku Drupadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar