Minggu, 10 November 2013

Matahari

Kepada seseorang, yang meninggalkan kesan mendalam
bahkan ketika pertama kali jumpa.

Salam sejahtera untukmu di sana,
semoga Tuhan melapangkan jalanmu menuju cita-citamu,
semoga Tuhan menguatkanmu menapaki jalanmu,
Matahari.

Lalu bingung mau nulis apa.

Awal ketemu?
Ospek.
Nggak ding, cuma denger suaranya doang.
Panggungnya jauh sih, dan aku terjepit di antara 10000 orang.

Kesan pertama?
Ya biasalah, seperti anak buah yang memang harus menghormati pimpinannya.
Seperti junior yang memang harus menghormati seniornya.

Ketemu lagi kapan?
Kemarin malam.

Apa yang terjadi?
Matahari berbagi cerita.
Banyaaaaaak sekali cerita

Ada yang menarik dari Matahari.
Caranya memandang suatu masalah barangkali.
Atau mungkin cara menyikapi masalah itu.
Mungkin juga apa saja yang sudah dibacanya.
Berapa banyak dia bisa mengambil makna dari bacaannya,
atau peristiwa yang dialaminya.
Bisa jadi cara bicaranya.
Bisa juga cerdasnya.
Atau jujurnya?
Yah pokoknya ada yang menarik entah bagian mananya.

Ceritanya kalau ditulisin itu novelik bangeeettt.
Menimbulkan naluri untuk berbagi, mendengarkan gitu.

Kayaknya bakal merindukan cerita-ceritanya lagi deh.
Sayangnya ketemu pas menjelang terbenam di belahan bumi tempat aku berpijak.
Matahari harus pergi.
Tapi bukan untuk mati,
melainkan menyinari dan menghangatkan bagian bumi yang lain lagi.

Ya udah, intinya aku menghormati dan mengagumi Matahari.
Suatu saat nanti aku pengen denger nama Matahari berhasil membawa kebaikan yang lebih besar.
Suatu saat nanti aku pengen lihat Matahari sukses menempuh garis edarnya.

Matahari itu tugasnya menyinari, menghangatkan bumi.
Matahari tidak dapat mendekati bumi, karena bumi akan hangus karenanya.
Begitu juga sebaliknya, kalau Matahari pergi, bumi akan mati.
Tugas Matahari hanya memandang dari jauh, memastikan semua baik-baik saja.
Dari kejauhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar