Ketika kita bisa kembali dipertemukan,
apa yang akan terjadi kemudian?
Ketika kita bisa kembali menginjak tanah yang sama,
apa yang bisa terjadi selanjutnya?
Ketika semua angan yang kurindukan
mengkristal menjadi kenyataan,
apa yang akan aku lakukan?
Ketika semua keringat, airmata, doa, pengharapan
yang tinggi kububungkan mengembun menjadi titik hujan yang menyentuh nyata
apa lagi yang bisa kupintakan?
Untuk apa semua ini?
Untuk dekat denganmu?
Untuk sejajar denganmu?
Untuk mimpi sederhana bertemu lagi denganmu?
Seberat ini?
Butuh dua tahun yang amaaat panjang.
Butuh dua tahun yang lebih banyak tangis daripada senyum mengenangmu.
Butuh semua usaha yang kupikir mustahi bisa kulakukan.
Butuh semua pencapaian yang rasanya sulit diterima logika.
Butuh semua pengakuan yang padahal aku pun tidak merasa punya dan bisa.
Kemudian jika mimpiku hanya singgah sementara,
kemudian angin berhasil membawanya lari,
apa yang bisa kulakukan?
Menangisimu lagi untuk waktu yang lebih lama?
Menyesali segala yang sudah dilakukan?
Berhenti berharap, bermimpi, dan terjebak di kabutmu?
Melihatmu dengan mata nanar ketika jerujimu membelengguku darimu
padahal kita hanya berjarak beberapa meter?
Aku tidak pernah berani berharap lebih sebelumnya.
Lebih mudah ketika aku jauh darimu.
Karena aku percaya Tuhan menjagamu, untukku agar aku mau berjuang.
Karena aku tidak perlu tahu apakah kau bisa ada untukku.
Sebaliknya ketika mata kita akhirnya dipertemukan di satu lingkup.
Karena aku bisa langsung melihatmu
Karena aku pasti bisa langsung tahu apakah kau memang tidak pernah ada untukku.
Yang membuat ini jadi pelik adalah,
kau sudah menyeretku hingga ke titik yang menentukan hidupku sampai mati nanti.
Ketika asaku atasmu kemudian gugur, tidak bisa semudah itu melepas dunia baruku nanti.
Ada beban tanggungjawab di sini.
Semoga ada akhir bahagia di cerita tanpa ujung ini.
Semoga ada kekuatan yang selalu bisa menyokongku.
Semoga itu tetaplah kamu, D.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar