Ehemm, mau ngomong. Tapi nggak enak juga.
Tapi kalo nggak ngomong makin parah nggak enaknya.
Aduh, keputusan berat ketika aku putuskan nge-post yang satu ini.
Gimana ya?
Nggak tahu mulainya darimana.
Yang jelas, ada yang nggak pada tempatnya di sini.
Mau nangis aja gitu entah kenapa.
Sejujurnya merasa berdosa.
Tapi entah kepada siapa, dan atas apa.
Absurd ya?
Iya, soalnya aku masih nggak ngerti gimana caranya cerita.
Karena aku nggak tahu juga ini bener apa salah di pihak lawan.
Aku pengen tahu!
Udah, itu aja intinya.
Lalu kalau udah tahu gimana?
Aku nggak tahu!
Aku takut.
Ngeri.
Rasanya aku udah kayak pistol yang penuh selongsong peluru.
Tapi nggak akan terjadi apa-apa kan kalau pelatuknya nggak ditarik?
Nah, aku butuh penarik pelatuk itu!
Siapa yang tahu kalau nggak dicoba.
Ngeri aja meninggalkan sesuatu di belakang dengan ketidaktahuan.
Ngeri aja meninggalkan sesuatu di belakang dengan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi, tapi nggak pernah terjadi karena nggak tahu.
Semakin dekat aku akan segera meninggalkan, bawaannya pengen nangis mulu.
Bahkan malam-malam terakhir ini penuh mimpi yang penuh penyesalan.
Aku nggak tahu!
Masa iya aku yang harus mencari tahu?
Nggak bisakah aku yang diberitahu?
Tolong, plis, udah hampir mencapai limit.
Intinya, aku butuh tahu!
Udah, gitu aja.
Asal yang kumaksud tahu, sejujurnya aku pengen nangis di bahumu.
Trims.
Segini aja curhatnya.
Ini pun udah penuh airmata.
P.S : I always remember when you played 'A thousand years' beautifully :"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar