Oke, ayo kita mulai.
Pagi lalu, kelasku dapet materi Pancasila.
Trus apa masalahnya?
Sebelumnya, aku ceritain dulu deh kelasku kayak apa.
Aku melanjutkan sekolah di salah satu PTN di Indonesia. Nah, lingkupnya sudah bukan lagi kedaerahan, tetapi nasional, bahkan internasional.
Kelasku berisi 82 anak.
Asal daerah kami berbeda-beda dari Sabang sampai Merauke. Di antara kami, ada 10 orang dari Malaysia yang juga belajar bersama kami di sini.
Mereka ini yang mau aku ceritain.
Mau tanya dulu deh,
masih inget nggak sih sama Pancasila?
Jangan-jangan udah nggak ngeh, asing banget sama istilah "Pancasila", dan lebih akrab sama istilah-istilah berbahasa Inggris atau Korea hehe.
Tapi aku percaya kok, masih banyak yang hafal, minimal tahu Pancasila. Kalau nggak, hmm, perlu dipertanyakan setiap upacara sejak TK unyu-unyu sampai sekarang ngapain aja.
Terus, tanya lagi deh,
siapa yang bisa nyanyiin Indonesia Raya?
siapa yang tahu lagu-lagu perjuangan?
Padamu Negeri?
Tanah Air?
Hari Merdeka?
Merasa bangga lah kalian yang tahu dan bisa menyanyikannya, bahkan merenunginya.
Nah, di kelas Pancasila tadi, kami semua ditanya,
"Sejak kapan bangsa Indonesia ada?"
"Apa sebenarnya yang menjadi pemersatu kita?"
Kami lalu dibagi menjadi kelompok-kelompok untuk mendiskusikannya.
Di tengah diskusi, teman Malaysia kami bertanya, "kalian tahu kan mengenai bangsa kalian sendiri?"
Kami diam.
Kami pura-pura sibuk, menulis, searching. Sementara
kami sibuk dengan teori-teori, dia keluar dengan pertanyaan yang paling
substansial.
Dia kemudian membacakan artikel yang dia temukan mengenai kelahiran bangsa Indonesia, nenek moyang kita.
Dia menemukan Majapahit dan Sriwijaya.
"Sultan pertama di negara saya berasal dari Sriwijaya," ujarnya bangga.
Kami membahas Sumpah Pemuda.
Kembali dia bertanya, "apa itu Sumpah Pemuda?"
Lalu kami bacakan.
Dia menirukan. Berusaha menghafalkan.
Secara spontan dia melanjutkan dengan Pancasila.
Tertatih-tatih dia menghafal.
Tapi dia paham maksud tiap sila-nya.
Aku cuma bisa mlongo, takjub.
Lalu di sepanjang pelajaran pagi itu, dia dengan riang menyenandungkan Indonesia Raya.
Dengar, Indonesia Raya!
Di akhir pelajaran, kami semua diminta menyanyikan lagu "Hari Merdeka"
Coba tebak apa yang terjadi..
Ada lirik yang terbalik-balik.
Ada di antara kami yang hanya lipsync.
Ada yang hanya diam.
Ada pula yang disambi tertawa-tawa, bermain ponsel.
Bahkan ada yang menguap bosan.
Duh Bunda, betapa aku malu dengan diriku sendiri saat itu.
Malu, malu sekali aku berhadapan dengan putra tetangga sebagai putra Bunda, tapi kami sendiri tidak paham tentang Bunda. Kami tidak menunjukkan kecintaan kami kepada Bunda.
Lagu Ulang Tahun Bunda kami tak hafal.
Bahkan kami bosan melantunkannya.
Lagu yang seharusnya menjadi kebanggaan kami semua kepada Bunda, tak pernah lagi kami nyanyikan.
Pancasila, Bunda, yang menjadi pijakan kami melangkah, bahkan kami tidak hafal. Padahal kami mengenalnya sejak kami membuka mata. Sejak kami dilahirkan dari rahim Bunda.
Malu, Bunda, aku malu.
Teman kami dari negeri tetangga lebih paham mengenai Bunda, daripada kami.
Saudara kami itu menyanyikan Indonesia Raya dengan bangga. Memahami Pancasila dengan khidmat. Bangga atas tali persaudaraan sedarah dengan Bunda.
Malah kami, anak kandung Bunda, memilih diam, memilih acuh, memilih pura-pura sibuk.
Aku malu Bunda.
Paham nggak sih betapa sakit hati Bunda dengan kelakuan kita yang kayak gitu?
Betapa malu Bunda sama tingkah laku kita yang nggak punya rasa cinta, nggak bangga sama Bunda.
Sejelek apapun, Bunda lah yang membesarkan kita di pangkuannya. Yang nantinya, ketika kita mati pun akan tetap dipeluknya.
Sudah tahu Bunda sedang susah, jangan ditambah lagi susahnya. Kalau mau Bunda kita baik, Bunda kita cantik lagi, jangan lakukan hal-hal yang sama dengan yang dilakukan orang-orang yang tidak mencintai Bundanya sendiri.
Cintai Bunda seperti mencintai Ibu kita sendiri.
Bunda punya sejarah panjang untuk berdiri. Banyak putra-putra terbaiknya yang sudah gugur karenanya. Tugas kita lebih ringan, kita "hanya" harus merawat Bunda.
Ayo tunjukin kalau kita bisa, kalau kita juga termasuk salah satu putra terbaik Bunda :)

haru eng :')
BalasHapus