Kamis, 02 Agustus 2012

Amplitudo

Aku belum termasuk orang yang saleh,
taat beragama, apalagi ahli ibadah.
Tapi aku beriman.
Dan aku ingin mengenal yang aku imani lebih dekat..

Pembicaraan tentang agama, iman, keTuhanan selalu menggelisahkan.
Itu urusan yang mutlak bagi setiap orang.
Terlalu pribadi untuk disinggung dan diganggu.

Beragam keyakinan yang kita kenal.
Siapa sih yang tahu mana yang paling benar?
Setiap penganut keyakinan tertentu pasti selalu menganggap keyakinannya yang paling benar.
Tapi siapa yang tahu coba?

Subjektif bukan?
Selama ini semuanya bergantung pada keyakinan masing-masing
dan para penganut keyakinan mutlak harus percaya

Kebetulan saja aku lahir sebagai muslim.
Tidak, aku tidak menyesal.
Aku  malah amat sangat bersyukur dihadiahi karunia ini

Pada dasarnya aku percaya dengan seluruh nurani,
logika, kesadaran, dan akal sehatku
bahwa ada suatu Dzat, cuma satu Dzat yang amat berkuasa atas segalanya
Yang menciptakan, meremukkan alam semesta
Memberi ruh sekaligus mencabutnya dari setiap makhluk

Aku mengimaninya.
Bukan hanya karena aku lahir menyandang sebuah keyakinan,
tapi juga dari apa yang aku lihat, dengar, rasakan
Aku bersyukur.

Tapi bukan berarti aku mengerti
mengapa aku harus menyebut Dzat itu dengan suatu nama
Karena bagiku terasa sama saja,
entah aku menyebutnya Allah, Sang Hyang Widhi, Tuhan, apa saja.

Karena prinsip yang aku yakini adalah adanya Dzat tunggal,
Esa.
Berkuasa.
Berbeda dengan apapun yang fana
Abadi
Maha Tahu
Maha Mengerti
Entah apapun namanya.

Kenapa Dzat Maha Kuasa itu peduli dengan nama?

Apakah Tuhan yang aku sembah saat ini sama dengan Tuhan yang disembah orang lain?
Jika setiap orang meyakini satu Dzat yang Kuasa,
Maka seharusnya semua bermuara pada hal yang sama.

Dalam sejarahnya,
tiap agama turun jauh sekali jarak antar zamannya
Sehingga mungkinkah terjadi suatu kesalahan,
kelalaian manusia
akan satu hal yang paling krusial, inti.

Dalam kitab agamaku,dicantumkan beragam nama agama yang berbeda
tapi semuanya mengarah kepada penyembahan terhadap Tuhanku
Walaupun tatacara, landasannya berbeda dengan agamaku saat ini

Mungkinkah begini? :

Aku tidak menyatakan agamaku yang paling benar.
Sejarah mengatakan agamaku yang datang paling akhir.
Setelah semua agama samawi yang membawa kebaikan
Logikanya, mungkin tiap agama yang ada adalah penyempurnaan dari agama sebelumnya
Baik tatacara penyembahan, ilmu pengetahuan, pengaturan kehidupannya.
Tapi tetap sama pada point krusialnya,
keyakinan adanya Dzat yang Maha Kuasa

Hanya saja, jarak yang terlalu jauh menyebabkan adanya alpa,
lupa, lalai.
Sehingga apa yang seharusnya sama jadi tampak berbeda.
Sehingga yang seharusnya bertujuan sama,
bersumber yang sama jadi tampak berbeda.

Jika Tuhan hanya membenarkan agama yang kuanut,
maka bagaimana nasib orang-orang saleh terdahulu?
Bukankah mereka tetap menyembahNya walaupun caranya berbeda dengan saat ini?
Tuhan mengutus manusia terbaiknya menyampaikan risalah,
menyesuaikan keadaan umat dan zamannya.
Jelas akan berbeda tatacara penyembahan agamaku saat ini,
dengan agama yang Tuhan turunkan pada Nabi Daud atau Nabi sebelumnya,
karena kondisinya berbeda.
Tapi substansi intinya tetap sama bukan?

Orang yang telah meninggal sebelum kedatangan agamaku
pasti belum menyembah Tuhan dengan tatacara yang sama dengan saat ini.
Sia-sia kah?
Kalo iya, kenapa tidak sejak awal Tuhan menurunkan tatacara yang begini?

Wallahu'alam bissawab.
Mahasuci Engkau Tuhan Seru Sekalian Alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar