Minggu, 15 April 2012

Kejayaan yang Terenggut Secara Paksa

Males banget sih nulis cerita ini,
tapi apa boleh buat, nggak papa deh, biar jadi kenang-kenangan

5 April 2012
Lomba Duahuruf eks-karesidenan Semarang @Stadion Utama, Kendal.

Kami berangkat dengan hati yang ceria dan tenang.
Persiapan teknis dan nonteknis sudah beres sejak lama.
Kami datang dengan motivasi yang besar,
ya, mengembalikan nama kami 6 tahun yang lalu.

Apel pembukaan.
Belum ada masalah. Kami masih penuh semangat dan bahagia.

Namun kemudian ada kejanggalan saat cek lapangan.
Pada saat apel pembukaan, diberitahukan bahwa waktu cek lapangan untuk tiap pangkalan adalah 15 menit.
Kemudian saat kami melakukan cek lapangan, belum ada 5 menit, waktu kami dinyatakan habis.
Perlu diketahui, cek lapangan yang dilakukan adalah cek tiang bendera untuk mengetahui berapa tarikan penarik bendera dan untuk menyesuaikan lagu Indonesia Raya.
Semua bertambah janggal ketika kami tahu bahwa Tim Tuan Rumah sudah sejak awal berlatih di Stadion tersebut, dan menggunakan tiang lomba padahal pangkalan lain tidak diberi waktu untuk cek lapangan sebelum hari-H
Bisa dibayangkan bila belum 5 menit waktu kami dinyatakan habis.
Alhasil kesesuaian tempo penarik dan lagu belum sesuai.
Tak kurang akal, kakak-kakak kami membantu menyiasati kendala tersebut.

Kami melaksanakan TUB pertama.
Alhamdulillah semuanya lancar, bahkan lebih bagus daripada saat latihan.
Pengibar bendera yang memegang poin paling besar luar biasa penampilannya.
Walaupun saat cek lapangan belum sesuai dengan lagu, tapi saat tampil benar-benar pas dan rentangan benderanya sempurna.
Aplaus dari penonton yang ada di sana juga sangat meriah.
Kami benar-benar bahagia saat itu.

Kejanggalan yang kedua,
saat nilai kami ditampilkan pada LCD, betapa kaget kami melihat penilaian dari Juri 2 yang hanya memberi nilai minimal, padahal juri lainnya memberikan nilai yang mendekati sempurna.
Kami berpikir positif, mungkin karena kami yang tampil pertama, maka wajar kalau kami dijadikan standard.

Setelah itu kami menyaksikan Tim Tuan Rumah melaksanakan lomba PBB
Menurut pandangan kami, mereka tampil cukup baik, tetapi mengalami penurunan dibanding saat tampil di tingkat sebelumnya.
Kami hanya berdoa agar kami tampil lebih baik.

Giliran kami tampil PBB.
Lancar. Hanya saja ketika menjelang akhir ada 1 sepatu yang lepas.
Tapi itu tidak menjadi masalah karena selesai lomba para Juri PBB memberi respon positif dan mengatakan bahwa kesalahan kami benar-benar minimal.
Kami lega dan amat bersyukur atas respon tersebut.

Kemudian kami menyaksikan Tim Tuan Rumah melaksanakan lomba TUB.
Bagus juga. Membuat kami semakin deg-degan saja.
Kemudian kami melihat nilai mereka di LCD.
Betapa terkejutnya kami mengetahui bahwa Juri 2 adalah Juri Tuan Rumah.
Kami lalu melihat nilai pangkalan lain.
Ini adalah kejanggalan ketiga.
Nilai Juri 2 selalu baik pada pangkalan lain selain kami, padahl juri lain memberikan nilai yang lebih rendah kepada pangkalan selain pangkalan kami.

Logisnya, jika penampilan suatu pangkalan memang tidak baik, maka semua juri secara merata memberikan nilai tidak baik juga.
Begitu juga sebaliknya.

Inilah yang membuat kami kemudian berpikir bahwa ada "sesuatu" di sini.

Kejanggalan selanjutnya adalah keributan yang ditimbulkan oleh Juri PBB sewaktu mereka mengetahui rekap nilai keseluruhan.
Seharusnya, jika rekap itu benar, maka semua pihak akan menerima kebenaran tersebut.

Benar saja, begitu pengumuman, kami berada di peringkat 4.
Dan Tim Tuan Rumah berhasil menjuarai lomba.

Tim kami tidak menangis, sedih atau apa karena kami tahu kalau kami tampil lebih baik daripada pemenangnya.
Kami lalu minta rekap lengkap per juri untuk mengetahui di mana kesalahan kami.

Apa respon panitia yang notabene adalah tuan rumah?
Kami dibilang tidak dapat menerima kekalahan.
Nah?
Apa salah kami meminta rekap lengkap?
Memang, kami sudah diberi rekap per pelaksanaan lomba.
Tetapi melihat kejanggalan-kejanggalan tadi kami hanya ingin mencari kebenaran.
Akhirnya terjadi sedikit keributan.
Syukurlah pendapat kami didukung oleh pangkalan lainnya.

Daaann, lagi-lagi..
Ada perbedaan antara rekap asli dan rekap yang diberikan kepada peserta.
Kemudian lagi-lagi juri PBB tuan rumah memberi nilai hanya setengah dari nilai sempurna pada penampilan kami, padahal juri lain memberikan nilai di atas nilai rata-rata.

See?
Sampai saat ini lomba ini masih menjadi polemik di antara kami, kakak-kakak kami dan adik-adik kami.
Seharusnya, tidak perlu melakukan tindakan seperti itu untuk memenangkan sebuah perlombaan.
Kenapa harus menjatuhkan yang lain?
Dalam sebuah perlombaan, yang baik akan selalu terlihat baik.
Walaupun dijatuhkan seperti apapun juga.
Kami berani bertanya pada penonton yang ada di sana, dan jawaban mereka jelas menunjukkan siapa yang terbaik.

Inilah kisah mimpi yang dipatahkan dengan ketidakadilan.

Sekarang, kami sedang berusaha untuk mewujudkan mimpi kami yang lainnya,
dan kali ini kami tidak akan membiarkan mimpi kami dipatahkan lagi.

Jayalah PASKIBAR Beribu Tahun Lagi!
:-))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar