Alhamdulillahirabbilalamin.
Aduh Tuhan, nggak tau kudu ngomong gimana lagi.
Bener-bener speechless deh..
Kemarin, 10 Maret 2012 adalah salah satu hari bersejarah buatku, angkatanku, keluarga besarku.
Kami semua akhirnya berhasil membawa pulang piala yang sudah dinanti-nanti selama 4 tahun.
Rasanya, wuih, nggak terbayangkan! Takjub iya, seneng iya, haru iya.
Semua tumplek blek!
Ini tentang LombaDuaHuruf.
Ternyata nggak jadi dilaksanain tanggal 15, tapi malah maju jadi tanggal 10 Maret.
Shock makin menjadi-jadi.
Aku galau setengah mati.
Waktu latihan cuma 8 hari, itu kepotong 3 hari acara intern OSIS-Paski.
Belum lagi "ancaman-ancaman" yang menyertai kalo kami gagal di sini.
Untungnya, kakak-kakak dari berbagai angkatan rela buat bantu kami semua
(thanks kakak :*)
Aku mendadak sibuk nyari info ke sana kemari, share ini itu ke temen-temen pasukan pas SMP, ngurus surat-surat buat daftar, belum lagi ijin kolektif sekolah.
Wuih, minggu lalu bener-bener perhatian tercurah ke lomba itu.
Nggak ada tujuan hidup selain lomba itu.
Sumpah, sekolah jadi nggak penting lagi rasanya.
Semuanya sibuk, nggak ada yang nganggur.
Tiap hari adaaa aja yang diurus, mulai administrasi sampai perkap-perkap buat lomba itu.
Nyari duit lah, kejar-kejar para penghuni kanopi lah, bolak-balik lobby panitia lah.
Untungnya, pasukan kami ngerti apa yang terjadi.
Bersyukur deh mereka semua sehat, bahagia, dan motivasinya tinggi.
Salut buat kakak-kakak yang selalu bisa membangun kondisi mental mereka kayak gitu.
Seneng liat adek-adek yang mau ikut nungguin mereka latian dan setia ngasih motivasi.
(aku sayang kalian :*)
Bersyukur juga adaaaa ajaaa rejeki yang masuk.
Itu semua membuat keadaan jauh lebih menggembirakan daripada yang bisa aku bayangkan.
Akhirnya tiba juga di hari-H.
Alhamdulillah semua urusan non teknis udah kelar. Legaaa..
Sayang banget aku nggak bisa liat mereka tampil dari awal.
Aku baru dateng ketika mereka baru saja (bener-bener barusan) keluar lapangan -,-
Tapi ya sudahlah, aku datang dan mendukung sebisa mungkin.
TUB.
Beceeeekk..
Kasian mereka, berlepotan lumpur dari atas sampe bawah.
Untungnya (beribu-ribu makasih buat Tuhan atas keberuntungannya) mereka udah selesai PBB.
Yep, lumayanlah buat orang yang latihan upacara cuma 2 hari.
Sempat ada trouble di bendera (jujur, aku lemes banget liat itu).
Nah, kelar deh seluruh rangkaian lomba.
Nunggu pengumuman, para pelatih di briefing buat koreksi pelaksanaan lomba.
Alhamdulillah banget, pelatih kami dikasi tau kalo PBB kami nyaris sempurna *lompat-lompat girang*
dan TUB kami juga sedikit sekali koreksinya.
Setelah mendengar itu, kami semua bisa tersenyum lega.
Walau belum tahu menang atau nggak, setidaknya kami tahu kami tampil cukup baik.
Waktu pengumuman.
Ada 4 calon juara di lomba ini.
Seluruh keluarga besar kami yang datang hari itu saling berangkulan dan berdoa bersama (love this moment)
Pasukan kami baris. Kami di belakang, masih terus berdoa.
Pengumuman nyampe juara harapan 1.
Harap-harap cemas karena 4 calon juara itu belum ada yang disebut.
Ternyata harapan satu bukan smaga.
Sedikit bernafas lega.
Masuk 3 besar.
Doa kami yang di belakang makin keras.
Juara 3 adalah juara 1 tahun lalu. Ada yang udah menangis diantara doa kami.
Juara 2.
Aku bener-bener nggak mau mendengarkan pengumuman ini.
Kalo bisa ngacir aku bener-bener pengen ngacir saat itu juga.
Aku peluk seniorku.
Dan..
Ternyata bukan smaga juga!
Ya Tuhan, aku langsung teriak "alhamdulillah" keras banget walaupun belum tentu juara 1 adalah smaga.
Yang dinanti.
Juara 1.
Dan nomor undi kami disebut!
Sujud syukur, tangis haru meledak di seputarku. Aku peluk siapapun yang bisa kepeluk.
Kami yang di belakang lari ke pasukan kami dan saling berangkulan.
Semua cuma bisa nangis. Ucapan syukur menggema ke mana-mana.
Akhirnya, setelah menunggu selama 4 tahun, piala itu kembali pulang ke pangkalanku.
Tapi, ibarat ibu hamil, kami baru saja melahirkan kepala seorang bayi.
Ini belum apa-apa.
Ke depan, masih banyak tantangannya.
Kami harus bisa melewati semua itu untuk melahirkan seorang manusia yang seutuhnya.
Bagi orang di luar paski, lomba ini bukan apa-apa karena cuma tingkat kota.
Tapi, semua paski mengerti betapa sakral lomba ini.
Ini salah satu bukti kekuatan sebuah motivasi.
Kami tahu, kami punya motivasi sendiri-sendiri dalam lomba ini.
Dan kemudian motivasi yang berbeda-beda itu diikat dan disatukan untuk kemudian ditanam di hati masing-masing sebagai sebuah tujuan dan visi.
Akhirnya, salah satu perhentian untuk mencapai visi kami sudah sukses kami lalui.
Ke depan, semoga semuanya jadi lebih baik.
Masih ada beberapa fase yang harus kita semua lalui demi keluarga kita tercinta.
Kembalikan gelar kita 6 tahun lalu,
kembalikan pula nama harum keluarga kita di Istana Negara 8 tahun yang lalu
HIDUP DAN JAYALAH PASKIBAR BERIBU TAHUN LAGI!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar