Minggu, 15 Mei 2011

Angel

Mau cerita..

Tentang manusia yang putus asa liat malaikatnya terbang..
Manusia yang g rela malaikatnya pensiun jagain dia..

"Malaikatku baik," kata manusia itu.
Aku tercenung,
"sebaik apa?" tanyaku.

"Dia baik. Selalu berusaha bikin aku seneng. Nggak marah kalo aku lagi jahat. Pokoknya g kaya manusia," jawabnya.
"Terus, kenapa dia pergi?"
"Aku g tau, mungkin dia capek bikin aku seneng, capek nahan marah kalo aku lagi jahat, capek jadi malaikat,"
"Kamu tahu alasannya. Kenapa masih g rela?"

Manusia itu nangis..
"Aku belum bikin dia seneng, aku masih bisa jahat ma dia, aku masih manusia. Aku pengen jadi malaikat juga, biar kami bisa terbang bersama. Aku masih manusia, kalau dia tinggalkan, gimana caranya aku belajar jadi malaikat?"
"Lagipula, dia yang janji mau membagi sayap buatku, mau ajari aku jadi malaikat kayak dia.."

Aku hanya diam.
Menghirup aroma wangi jejak sang malaikat di sini.

"Kenapa aku manusia?" ujarnya.
"Karena dengan menjadi manusia, kamu bisa belajar menjadi malaikat,"

"Lalu, kenapa malaikat itu datang kalau akhirnya dia harus pergi?"
"Dia sedang memberimu pelajaran mengenai ketabahan, kegigihan. Dia ingin melihatmu berusaha lebih keras untuk terbang mengejarnya, dia ingin keping sayap yang dulu pernah ia beri padamu menjadi berguna,"

Manusia mengambil keping sayap sang malaikat.
Diusapnya lembut sayap itu..

"Aku tak tahu cara menggunakannya," ujarnya kembali menangis.
"Kamu hanya perlu percaya padanya, percaya bahwa kamu bisa mengejarnya."

Dia menutup mata.
Dipeluknya sayap sang malaikat, kemudian dia berujar :
"Aku datang..."

Kurasakan hembus angin yang begitu kuat..
Kulihat jiwa manusia di hadapanku mulai membubung bersama sayap dan keyakinannya.
Aku berbisik, "inilah saatnya,"

Manusia di depanku membuka mata.
Aku tersenyum.

Dia kembali menangis.
Kurengkuh dia dalam pelukku. Kusapu lembut bibirnya.

"Kau berhasil," bisikku.
"Sebenarnya, siapa kau?" tanyanya.

"Kamu kenal aku, hatimu mengenaliku sebaik aku mengenalmu," jawabku.
"Jangan pergi lagi," isaknya.

Aku tersenyum.
"Bagaimana aku bisa pergi meninggalkan manusia serapuh kamu? Bagaimana aku bisa pergi tanpa sekeping sayap yang sudah aku beri padamu? Nonsense."

Dia tersenyum. Dia mengerti.
Aku selalu di sisinya. Aku tidak akan kuasa melihatnya menangis untuk alasan apapun.

Dan aku telah berjanji untuk menjaganya selamanya.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar